Samorost: Game Flash Teka-Teki yang Penuh Seni

This gallery contains 5 photos.

Ya, tepat seperti dengan judul yang saya tulis di atas. Samorost bukanlah game flash ala kadar seperti biasa kita temui. Namun, ini adalah game flash yang diciptakan dengan sangat artistik, malah terkesan realistik. Samorost adalah gabungan game teka-teki serta game … Continue reading

Rate this:

More Galleries | | Leave a comment

jebakan adf.ly

jebakan adf.ly

jebakan adf.ly di paypal

Posted in Uncategorized | 4 Comments

Tuhan pun Berpuasa

Hari ini, ada perasaan galau dalam hati saya. Meskipun diluar ramai oleh petasan yang sahut menyahut, didalam hati ini seperti ada perasaan tak puas walaupun telah 30 hari menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan.

Satu pertanyaan yang terpintas di benak saya, apakah benar kita betul-betul ikhlas menjalankan ibadah puasa ini? Ataukah, kita menjalaninya sebagai sebuah kewajiban semata. Pemikiran saya ini bermula ketika banyak orang yang mempermasalahkan tentang kapan waktu lebaran Idul Fitri itu tiba. Semua ribut, meskipun tak sampai berujung demo ala kasus Century. Di berbagai berita televisi semua sama, yaitu mengisahkan peliknya masalah perbedaan penentuan hari raya Idul Fitri ini. Saya tak tahu mengapa, tetapi memang topik inilah yang selalu menjadi ciri khas pemberitaan tiap tahunnya menjelang hari raya Idul Fitri. Dan, sepertinya banyak gambaran orang kecewa yang saya tangkap ketika pemerintah mengumumkan pada akhirnya lebaran jatuh pada hari Rabu.

Joke akhirnya banyak beredar dimana-mana, di banyak sosial media, entah itu twitter, facebook. Isinya macam-macam. Entah itu opornya diangetin sampai lusa dan lain-lain. Saya jadi ingat perkataan ustad saya sewaktu ngaji dulu yang berkata demikian

Negara lain sudah bisa sampai ke luar angkasa, tetapi kita masih saja ribut ngurusin tetek bengek agama.

Perkataan yang menohok memang. Tetapi, memang seperti inilah ketika agama ditinjau dari aspek ritualnya semata. Akhirnya, esensi agama menjadi kabur. Mungkin kita harus jujur bahwa kebanyakan dari kita, termasuk saya sendiri, masih meninjau agama dari segi aspek ritualnya semata, bukan dari aspek spiritual. Sehingga terkadang puasa terkadang rasanya berat, karena kita hanya menganggapnya sebuah kewajiban. Kita akhirnya mencari hiburan bagi jiwa kita sendiri dengan mencari-cari alasan seperti: segi positif orang berpuasa adalah bisa menangkal berbagai macam penyakit.

Padahal puasa adalah suatu bentuk experential learning, yaitu sebuah cara belajar dengan simulasi secara langsung untuk mengasah batiniah kita. Tuhan pun mengatakan bahwa perhitungan amalan puasa langsung dihisab olehnya. Jadi, puasa memang adalah suatu hal yang sangat luar biasa sekali.

Puasa adalah sebuah upaya untuk mengenal diri kita sendiri melalui pengendalian diri dari segala bentuk hawa nafsu. Puasa mengajarkan kepada kita akan seberapa ber-kualitaskah diri kita karena orang yang bisa mengontrol dirinya sendiri, ia bisa menaklukkan ego yang dia miliki. Dan, orang yang bisa menahan ego adalah termasuk orang yang bijaksana. Sungguh luar biasa.

Maka, puasa adalah sebuah tempat kita menempa jiwa raga kita untuk menyadari siapa diri kita dan Sang Pencipta kita.

Satu bulan penuh kita menjalani suatu perjalanan kedalam diri kita sendiri. Maka ketika tiap orang, bahkan media ribut-ribut mempersoalkan tentang kapan hari lebaran itu tiba, akan terasa sangat konyol sekali.

Akhir kata, Tuhan pun juga berpuasa. Dengan segala rahmat-Nya, Ia akan selalu menerbitkan matahari dari ufuk timur, meskipun Ia tahu banyak dari hamba-Nya yang lupa untuk bersyukur ketika ia dibangunkan di pagi hari oleh sinar mentari yang hangat.

Sumber: http://filsafat.kompasiana.com/2011/08/30/tuhan-pun-berpuasa/

Posted in artikel, refleksi | 1 Comment

Cara Cepat Dapat Poin di Ipanelonline, TANPA Survei SEBULAN 220.588,23…RUPIAH

 

Pada postingan kali ini, saya akan menjelaskan cara yang sedikit “tricky” untuk mendapatkan poin di ipanelonline tiap harinya. Jika temen-temen belum mengetahui ipanelonline Indonesia, bisa dilihat pada postingan ipanelonline, disini. Selain itu, untuk lebih meyakinkan anda bahwa ipanelonline Indonesia itu membayar, bisa dilihat PO-nya disini.

OK, baiklah. Mari kita bahas bagaimana cara agar bisa mendapatkan poin dari ipanelonline tiap harinya. Tips ini saya dapatkan dari salah satu forum online Indonesia.

1. SUARA ANGGOTA

- Klik Menu Suara Anggota
- Pilih Pendapat Yang
- Terus tulis di kotak suara Anda,isi kode verifikasi, submit dapat Poin 5

Menurut Pengalaman kita bisa Posting sebanyak 10 kali per hari jadi bisa dapat POIN 50 per hari
Mudah bukan.

2. Topik hari ini

- Klik Menu Topik hari ini
- Pilih topik dipublikasi
- Isi jenis topik,judul topik, detail topik, kode verifikasi
- Dapat POIN 5

Ada 5 buah topik, sehingga anda bisa mendapatkan jumlah POIN 25 buah per hari.

3. BACK MATTER

- Klik Menu Profil Saya
- Pilih BACKMATTER
- KLIK yang warna orange pada menu back matter, isi data Anda
- Dapat deh 100 POIN

Pengisian back matter dilakukan sekali sebulan, jadi untuk dapat 100 Poin lagi, isi back matter bulan depan lagi.

Maka, berdasar dari analisis yang telah saya lakukan:

Cuma dibutuhkan waktu kurang 20 menit tiap harinya untuk mengisi SUARA ANGGOTA dan Topik Hari Ini dengan jumlah POIN 75.

Hitung-hitungan untuk waktu sebulan: 75 *30 = 2250 POIN

2250 POIN/1020 POIN *100.000 RUPIAH = 220.588,23…RUPIAH

Maka, dengan hanya duduk didepan komputer tiap harinya cuma hanya dengan waktu 20 MENIT, ANDA sudah bisa gajian MINIMAL sebesar   220.588,23…RUPIAH. Ini belum termasuk pengisian SURVEI dan BACK MATTER.

Tertarik, langsung gabung aja di ipanelonline INDONESIA.

Posted in internet, internet marketing | Tagged , , , | 27 Comments

PRIE GS 25: Menjemput Anak

Sudah lama menjemput anak pulang sekolah saya masukkan sebagai bagian penting kegiatan begitu waktunya tersedia. Makin lama saya makin menikmati pekerjaan ini karena kelengkapan nilainya. Ada nilai senang-senang belaka, seperti misalnya ketemu temanyang di antaranya memang membuat saya senang memandangnya. Ada yang karena kecantikannya, ada yang karena kecerdasannya, ada yang karena naluri keibuannya yang mengesankan saat menuntun putra-putri mereka.

Ada pula nilai yang agak serius, misalnya soal pendidikan. Sebetulnya berat sekali mengantar dan menjemput anak itu setiap kali karena kerepotan teknisnya terus meninggi dari hari ke hari. Lalu lintas makin tambah padat saja dan tempat parkir makin tak ada. Setelah repot mengantar, lalu repot membiayai karena biaya sekolah juga makin meninggi.

Tapi serepot-repotnya mengantar dan membiayai, pasti jauh lebih repot lagi adalah anak-anak itu sendiri sebagai pihak yang harus menjalani. Tas mereka berat sekali, pelajaran mereka banyak sekali dan jam sekolah mereka panjang sekali. Jam yang panjang, di dalam tahun yang lama, jadi betapa lelahnya. Apa jadinya jika sudah begini berlelah-lelah, bermahal-mahal dan berlama-lama, cuma keliru kurikulumnya.

Karenanya sambil mengamati anak-anak dengan tas punggung yang berat itu, saya membayangkan sekolah dengan rasa cemas dan rindu. Rindu, bahwa hingga kini belum tergantikan. Tetapi apa jadinya, jika lembaga sepenitng ini, misalnya, harus menanggung setidaknya dua soal prinsipil. Pertama metodologi, kedua kejujuran.

Soal yang pertama itu saja sampai sekarang belum rampung diperdebatkan. Bagi para awam mudah saja mengujinya, apapun alasannya, sepanjang masih rendah produktivitas sebuah bangsa,i bagi masa depan mereka. Dan ini yang terpenting, adakah anak-anak telah menjadi objek industri dengan pendidikan sebagi kedoknya?

Karena jika cuma soal metodologi, jika cuma soal kurikulum yang keliru, tidak perlu ada yang ditakutkan sepanjang semua itu sekadar risiko dari sebuah pembelajaran. Kekeliruan bagi sebuah upaya, adalah kewajaran. Jauh bedanya, dengan kekeliruan hasil dari sebuah ketidak jujuran.

Celakanya di Indonesia ini, ketidak jujuran itu bisa merambah ke mana-mana bahkan sampai ke pendidikan dan peribadatan. Karenanya, saya sempatkan berdoa: semoga sekolah, tempat anak-anak kita menggadaikan waktunya yang panjang itu, dijaga dari aneka perilaku yang tidak pada tempatnya.

 

Posted in artikel, refleksi | Tagged , , , | Leave a comment

PRIE GS 24: Anak-anak Melukis Tugu Muda

Sebuah panitia lomba gambar memacak tema ”Semarang Kota Atlas” bagi peserta. Hasilnya, hampir semua peserta menggambar Tugu Muda. Fakta ini memicu beberapa penafsiran, tapi paling menonjol adalah tingginya naluri keseragaman.

Setidaknya sampai saat ini, bakat untuk menjadi seragam masih menjadi ancaman yang mencemaskan. Pendidikan menuju seragam itu bahkan telah kita mulai begitu dini, lewat anak-anak pula. Itulah kenapa kehidupan sosial kita pernah begitu kesepian. Sepi imajinasi, sepi inisiatif dan sepi eksperimen. Berimajinasi menjadi sesuatu yang tak biasa. Berinisiatif menjadi kegiatan yang langka.

Di dalam kehidupan sehari-hari, akibat dari itu semua sungguh terasa. Sebagai penonton film, kita pernah sangat rendah diri jika harus nonton film Indonesia. ”Aktingnya wagu, ceritanya mudah diduga,” begitu komentar yang biasa. Komentar ini telah dibikin umum, karena kelemahan film kita bukan cuma akting dan cerita. Tapi bagaimana mungkin menuntut yang lain sedang soal cerita saja belum rampung. Tapi bagaimana soal cerita hendak dibereskan sedang pelajaran berimajinasi tak pernah diberikan.

Maka jika harus bercerita kita hanya bisa menghafal konvensi yang sudah ada tapi gagal bereksplorasi. Jika musim ”Ratapan Anak Iri” tiba, seluruh cerita di Indonesia akan penuh ratapan dan air mata. Jika cerita hantu tengah digemari, hantu-hantu akan langsung bergentayangan di seluruh negeri. Seniman lalu tak beda dengan petani tadah hujan yang bekerja atas dasar perintah musim. Di luar musim yang ada, ia tak berani lagi bekerja karena tak biasa menyemai musim yang lain.

Maka jika harus berakting, akting itu harus serba ngotot dan tegang. Kita belum merasa menangis jika belum berteriak dan memelototkan mata segede bola, belum merasa kejam jika belum berbuat sadistis. Lalu pernahlah kita memiliki tradisi cerita sedih yang fantastis. Sudah menjadi anak tiri, cacat pula. Sudah cacat, sial pula. Ia masih harus dijahili teman sebaya, tertabrak bus, kejatuhan tangga, dituduh maling, diuber-uber…. Pendek kata, kita belum merasa bahwa si anak itu menderita jika belum kita siapkan penderitaan yang spektakuler, jika langit belum runtuh menimpa kepalanya.

Apapun profesi yang kita pilih selalu muncul rangsangan untuk menjadi peniru. Jika seorang musisi menemukan campur sari, penemuan itu langsung menjadi milik bersama, dinikmati sebagai pesta. Kredo profesi kita karenanya ialah: biarlah orang lain menemukan, tapi kitalah pemakainya. Biarlah orang lain yang bekerja, tapi kita jua penikmatnya. Jadi wajar jika para penemu, pioner dan kaum peneliti menjadi mahkluk paranoid. Belum pula ia hendak menggubah lagu, telah keburu terbayang wajah pembajak kasetnya. Belum pula ia hendak menemukan sesuatu, telah keburu tegang oleh hebatnya pelanggaran hak cipta. Jadilah mereka orang yang tidak cuma menjadi peragu, tapi juga penakut dan akhirnya malah tak siap berbuat apa-apa.

Dalam cuaca yang menakutkan semacam itu, rasa aman adalah kebutuhan utama. Dan rasa aman itu diperolrh justru setelah seseorang menjadi pembajak, penjiplak, pengikut dan tampil seragam.

Maka anak-anak yang diminta melukis Kota Semarang pun harus membayangkan Tugu Muda, membayangkan Monas jika harus melukis Jakarta. Tentu bayangan itu tidak keliru. Tapi bahwa mereka melakukan bayangan yang sama adalah sebuah persoalan. Tentu anak-anak itu juga bukan pihak yang keliru karena bisa apa mereka tanpa para pembisik, pendesain dan penggemar keseragaman yaitu: kita!

 

Posted in artikel, refleksi | Tagged , , , | Leave a comment

PRIE GS 23: Diberi Tanpa Meminta

Dari rumah, saya diberi kemudahan untuk mengakses jalan tol. Tetapi di setiap kemudahan, selalu terselip kesulitan. Jalan yang saya masuki adalah sekadar sebuah sempalan dari jalan utama. Maka kepada arus utama, saya hanya bisa menunggu dan meminta jalan arus kendaraan yang berebut masuk ke gerbang tol. Jadi dibanding para pejalan di arus utama, kendaraan kami hanyalah figuran.

Makin lama, makin tidak mudah untuk meminta jalan. Para pengendara dari arus utama itu selain makin padat, juga seperti layaknya pengendara jalan raya, punya seribu alasan untuk buru-buru, apalagi merasa sebagai para pendahulu. Kami figuran ini, sekadar diberi kesempatan jika ada waktu.

Logika ini sering membuat pengemudi keluarga kami tidak sabar. Ia tak bisa lagi menunggu, melainkan juga harus merebut. Ia harus meminta tempat sedemikian rupa, lebih tepatnya bukan meminta tetapi memaksa. Taktik ini memang hampir selalu berhasil. Dan inilah taktik yang memang hampir selalu diperagakan oleh penghuni jalur sempalan seperti kami. Harus merebut, karena kami tak bisa cuma hanya menunggu sebuah pemberian yang tidak menentu.

Tapi hukum paradoks itu kembali bekerja: jika di setiap kemudahan ada kesulitan, di setiap keberhasilan juga selalu terselip kegagalan. Karena meskipun kami berhasil merebut jalur, ada saja pihak yang merasa jalurnya terebut dengan paksa. Selalu ada mata yang melotot, ada klakson yang menyalak dan selalu ada kegiatan adu gertak.

Ada kalanya kami yang nekat tancap gas dan memaksa mereka mengalah sambil menyumpah serapah, adakalanya kamilah yang harus berlaku sebaliknya karena kenekatan sudah lebih dulu mereka peragakan. Hukum jalan raya sebetulnya sederhana, jika dia berani, saya akan berhenti. Jika saya berhenti dia berani. Kalau kebetulan kami sama-sama berani, juga sederhana: tingal tabrakan begitu saja. Tetapi kemungkinan ketiga, sejauh ini jarang terjadi kecuali kami sudah benar-benar ingin berususan dengan polisi.

Karenanya setiap kali kami memasuki jalan tol lewat rute sempalan ini, selalu tegang oleh sebuah persoalan yang terbayangkan. Pasti akan ada klakson menyalak, ada mata melotot, ada adu gertak. Selama saya merebut, selalu akan ada kemarahan dari pihak yang direbut. Maka jika tak ingin membuat marah pihak yang direbut, harus tidak dengan cara merebut. Tetapi mungkinkah menolak berebut di jalan yang berebut? Mungkin. Setidaknya, saya mengajak pengemudi keluarga kami melakukan uji coba. “Tunggu saja, sampai ada orang baik hati memberikan jalannya,” kata saya.

Maka tugas kami hanya mendekat pelan-pelan ke jalur utama dengan kesiapan mengalah sepenuhnya. Selalu ada orang-orang yang tak peduli pada kami, tetapi setelah sekian ketidak pedulian selalu muncul kepedulian pada akhirnya. Selalu ada orang yang peduli di tengah yang tak peduli. Lama-lama kami sepakat dengan pola ini. Dan sejak itu, kami lebih banyak menuai sukses memasuki jalur utama secara lebih menyenangakan, tanpa klakson tanpa bentakan.

Setiap masuk ke jalan tol ini saya semakin meyakini tentang hukum meminta dan memberi. Bahwa selalu ada kecenderungan dari setiap manusia untuk memberi. Hukum ini sungguh terus bekerja karenanya manusia tak perlu harus takut kehilangan. Hukum itu bekeja terutama ketika ada pihak yang membutuhkan. Jadi saat antre ke jalan utama itu saya cuma menyodorkan kebutuhan, bukan keinginan. Terhadap pihak yang ingin: ingin buru-buru, ingin segera diberi tempat, ingin didahulukan, ternyata cuma mengundang ketidakpedulian. Tetapi kepada pihak yang butuh jalan, jalan itu selalu akan dibukakan.


 

Posted in artikel, refleksi | Tagged , , , | Leave a comment