Lonely Battle

Aku Memberontak, maka Aku Ada – Camus

Aku Berpikir, maka Aku Ada – Sartre

la pesteTidak jelas awalnya, tidak jelas datangnya, maupun juntrungannya. Tiba-tiba bencana itu datang dan menghebohkan seisi kota. Tikus-tikus yang biasanya hidup dalam kesembunyian, menampakkan dirinya di tempat-tempat yang biasa dilalui manusia hanya untuk menggelepar dan kemudian mati. Sungguh absurd. Itulah salah satu ringkasan karya Albert Camus berjudul Sampar atau “La Peste”

Jangan kira hidup ini juga tidak absurd. Kiranya hidup ini hanya berputar-putar saja. Sungguh sangat sesederhana itu. Tidak ada manusia satupun di dunia ini yang menang dalam segala hal. By the time, you win some and lose some. Manusia lahir dari ketiadaan dan akan kembali menjadi tiada pula. Hanya ruhnya saja yang akan selalu ada. Correct me if I’m wrong. Tetapi, satu hal yang membuat hidup ini begitu kaya adalah karena adanya makna. Hal yang sama akan nampak berbeda tergantung tujuannya. Orang berpakaian bisa tujuannya bermacam-macam. Ada yang untuk menutup aurat, ada yang untuk menarik perhatian lawan jenis, ada yang untuk melindungi tubuh dari hawa dingin, dsb. Inilah dialektika kehidupan. Dan, manusia telah diberi kebebasan untuk memilih. Tinggal bagaimana dia menterjemahkan pilihannya lewat perilaku kehidupan sehari-hari. Toh, ekstrimnya, manusia lahir dalam keadaan sendiri, mati-pun juga sendiri. Maka, mengapa tidak berdamai dengan hati dan melakukan sesuatu berdasar apa kata hati. Maka kenapa juga harus sawang-sinawang ? Saling memandang satu sama lain.

Ahh…, Saya jadi ingat Soe Hok Gie yang berkata « Lebih Baik Diasingkan, daripada Hidup dalam Kemunafikan ».

Namun, satu hal yang paling penting adalah dengan hal tersebut kita jadi berusaha untuk menghargai diri kita sendiri. Bahwa sejatinya manusia diciptakan bukan hanya untuk menerima saja, tetapi juga bisa untuk tidak setuju terlepas benar-salah. Disinilah terletak ungkapan “Aku Ada” tersebut mulai terberkas dalam “jiwa” kita sebagai akibat dari proses berpikir.

Saya jadi ingat cerita “Sang Alkemis” karya Paulo Coelho. Tentang seorang anak gembala dari Spanyol, yang menjual gembalanya dan melakukan perjalanan karena sebuah mimpi. Mimpi menemukan harta karun di piramida-piramida di Mesir.

the-alchemist-gnSingkat cerita, tak ada harta karun di mesir. Malah ia hampir mati dipukuli, oleh penjahat ketika sedang menggali di piramida mesir. Sang penjahat tertawa ketika si anak gembala mengatakan bahwa ia pergi berkelana jauh hanya karena menuruti sebuah mimpi. Ternyata, si penjahat juga pernah memiliki mimpi yang sama, bahwa ia bermimpi menemukan harta karun di Spanyol, di bawah pohon sycamore di dekat sebuah gereja. Tentu saja itu menurutnya hal yang bodoh sembari kemudian meninggalkan si anak dalam kondisi kesakitan

Akhir cerita, si anak gembala kembali ke negerinya, Spanyol dan menemukan harta karun tersebut di tempat seperti yang digambarkan oleh si penjahat.

Disini, bukan soal harta karunnya yang penting. Sebab, kita tidak pernah tahu apakah si anak menjadi lebih kaya setelah mendapatkan harta karun tersebut dibanding sebelum dia menjual domba-dombanya yang mungkin jika dia tidak berniat melakukan perjalanan, domba-dombanya sudah beranak pinak yang lumayan banyak.

Namun, satu hal yang perlu mendapat perhatian adalah cara pandang si anak terhadap kehidupannya akan tidak sama lagi setelah perjalanan tersebut. Demi mewujudkan mimpinya, ia rela menjual dombanya, menyeberang ke negeri jauh yang bahasanya tidak ia mengerti, ditipu orang yang baru dia kenal dan terpaksa harus bekerja selama setahun demi mengumpulkan uang dan semua hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Itulah kehidupan, bahwa untuk menggapai sebuah tujuan, testnya akan selalu ada dan terkadang tidak mudah.

Inilah yang akan selalu menjadi pertarungan dalam diri kita. Bahwa tiap pilihan sudah tentu ada konsekuensi masing-masing. Namun ia memiliki tingkat derajat masing-masing sesuai pemaknaan kita terhadap pilihan tersebut.

Persoalan tujuannya tercapai atau tidak, kita serahkan saja pada Tangan yang telah Menggoreskan garis kehidupan. Hanya proseslah yang bisa mengubah sebuah logam menjadi emas jika memang yang terkandung adalah emas.

tumblr_m0h48iAiIc1qzsghno1_500

Posted in artikel, refleksi | Tagged , | Leave a comment

Belajar dengan Hati

Bulan Agustus selalu identik dengan perayaan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Namun, saya sendiri masih sulit untuk mendefinisikan arti kata “merdeka”. Lamunan saya kali ini tertuju pada rokok. Saya bukanlah seorang perokok aktif. Namun, lingkungan kerja saya kerap bersinggungan dengan para perokok. Banyak di antara para kolega saya adalah para perokok berat. Di suatu kali kesempatan, salah seorang teman pernah berkata dengan nada sedikit bercanda bahwa mereka bisa lembur bekerja semalaman asalkan ada rokok. Rokok habis tidurlah dia. Bahkan pernah juga ada yang mengaku bahwa sarapannya adalah rokok.

Hanya orang perokoklah yang tau nikmatnya rokok. Orang yang awam terhadap rokok, tak habis pikirlah apa enaknya merokok tuh. Baunya saja bikin tak betah. Apalagi dihirup sampai masuk ke paru-paru. Ini salah satu contoh kecil bahwa terkadang cuma pemikiran saja tidak cukup untuk mendefinisikan suatu kejadian. Pikiran manusia tak sanggup untuk menampung hal-hal yang berkaitan dengan rasa. Terbatas nian kemampuan otak ini. Semua tergantung dari khasanah hati yang dimiliki setiap orang.

By the way, saya tak sedang menyuruh anda untuk merokok agar paham bagaimana rasanya rokok. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa ada batas terhadap akal manusia lewat cara yang cukup sederhana, yaitu rokok. Menganalogikan dengan rokok dan mengaitkannya dengan kemerdekaan tadi. Sanggupkah saya mendefinisikan kemerdekaan itu, jika saya sendiri tak tahu barang apakah kemerdekaan itu. Apakah saat ini saya tengah benar-benar merdeka, menuju kearah merdeka, atau masih gelap gulita. Maka jika saya boleh mendefinisikan sendiri, jawabannya bisa jadi relative. Maka tak perlu pusing-pusing amat, saya bisa buat standar kemerdekaan menurut versi saya sendiri. Dari yang paling rendah yaitu merdeka secara finansial sampai tingkat tinggi yaitu merdeka secara pemikiran.

Saya pilih merdeka secara pemikiran paling tinggi karena menurut saya inilah yang paling sulit dilakukan. ijinkanlah jika saya harus berpendapat melalui ilustrasi di bawah.

Bayangkan: Saya pernah bertemu dengan seseorang berpakaian dari kulit macan tutul. Bertato di sekujur tubuh. Tangan dan kakinya penuh dengan gelang. Hari sudah gelap dan akan ada suatu forum di tempat tersebut. Suasana pasti ramai. Namun, dia terus berjalan tanpa sekalipun menghirauan tatapan ngeri campur takut orang-orang sekitar. Saya sendiri takut. Namun inilah kesalahan saya. Mengapa saya harus takut. Dia tidak berbuat jahat kepada saya. Pemikiran sayalah yang mengatakan bahwa jika ada orang berpakaian seperti itu pasti jika bukan penjahat adalah orang gila dan harus dihindari. Hasilnya, saya telah salah menjudge orang. Dia punya alasan sendiri untuk berpakaian seperti itu. Sebuah pemikiran yang tidak bisa saya pahami, namun lagi-lagi diperlukan ranah hati untuk menampung agar akal ini bisa menerima.

Maka, dari sinilah keluar rumus yakin dimana jika menurut akal saja seseuatu itu tak bakal terjadi. Yakin adalah kunci untuk hidup. Tanpa dasar keyakinan orang akan malas untuk berusaha. Sebab, mana bisa kita tahu pohon yang kita tanam hari ini, bisa tumbuh dengan subur esok hari. Ada resiko, orang lain akan memotong bahkan menginjak pohon kita, atau akan ada hujan yang turun, kemudian mengikis tanah hingga pohon kita hanyut terbawa arus. Macam-macam hal. Pertanyaannya kemudian, tanpa menanam pohon, bisakah kita mendapatkan buah.

Maka orang yang yakin adalah mereka orang yang sudah merdeka. Tak terpengaruh mereka apa kata orang sebab mereka sudah menetapkan pilihan mereka masing-masing. Mereka hanya mau tertawa pada sesuatu yang mereka anggap lucu, bukan ikut-ikutan orang lain tertawa. Mereka akan selalu menentang dengan tegas apa yang tidak mereka sukai, dst … dst …

believe-in-yourself-2-300x225

einstain Bon Week-end

Posted in artikel | Leave a comment

Time

Dinamika waktu itu sangat aneh. Kadang kita merasa waktu untuk pulang ke rumah lebih cepat ketika pergi, meskipun kenyataannya jarak yang ditempuh sama. Ketika bersenang-senang, waktu terasa sangat singkat. Sebaliknya,ketika menunggu seseorang serasa amat lambat. Banyak kejadian dalam hidup ini, seolah-olah ingin menerangkan bahwa waktu selalu tidak berada di pihak kita. Good things take time to show the effect, but bad things happen faster.

Melakukan suatu kebiasaan yang baik, butuh waktu. Tidak serta merta orang jadi juara misalkan, tanpa adanya tes. Untuk lulus tes, butuh latihan, disiplin dan yang terpenting waktu. Sedangkan, untuk gagal, cukup diam saja. Tidak melakukan apa-apa.

Hidup manusia, ada yang berkata dibagi menjadi tiga bagian. Dua puluh tahun yang pertama, kedua dan yang ketiga. Saat ini, saya tengah berada pada fase yang kedua. Antara umur 20 – 40 tahun. At least, disinilah kita mulai mengenal diri kita. Ketika melihat teman sekolah/sekuliah kita mulai mengambil jalan hidup yang tidak sama dengan kita. Tak disangka-sangka, ada yang punya karir mentereng sampai ada juga yang harus lebih dulu meninggalkan dunia ini. Tak pernah ada yang tahu rahasia hidup. Romansa masa sekolah/kuliah kembali terngiang di pikiran. Waktu seperti terbang meninggalkan kita dan saatnya kita harus terus berjalan ke depan dan mencoba mengetuk tiap pintu yang kita tidak tahu akan mengarah kemana. Hidup seakan tak berbekas.

Orang mencari emas, belum tentu mendapatkan emas. Orang mengharapkan seorang kekasih, belum tentu dia mau membalas perasan kita. Namun, selagi masih punya waktu, apaa salahnya kita berusaha. Bumi ini luas, barangkali jika di bagian barat tak ada lagi emas, kita bisa bergerak ke arah timur, atau utara. Mungkin juga selatan. Berlaku juga untuk mereka yang mencari cinta. Barangkali dia ragu, dan butuh kesempatan yang kedua agar yakin dengan kita.

Maka, kunci daripada kebahagiaan itu sebenarnya adalah antusiasme dalam hidup. Berpikir bahwa jalan itu selalu ada dengan batasan-batasan tertentu.

Waktu tidak akan pernah bisa ditemukan bila kita mencarinya, karena kitalah yang harus membuat waktu. Buat waktu untuk merenung dan merencanakan sesuatu. Buat waktu untuk ke toko buku, refreshing, jalan dengan teman dan lain-lain. Jangan lupa, buat waktu untuk berdamai dengan Tuhan. Karena tidak selalu, apa yang kita rencanakan akan selalu berhasil. Apa yang kita impikan itu terkabul. Segala sesuatu diatur oleh tangan yang sama. Terkadang, ada sesuatu yang sudah lama kita harapkan namun, belum juga diberikan karena sebenarnya kita belum siap. Bisa-bisa jika ia diberikan, malah akan menimbulkan penderitaan.

Dari kesemuanya itu, maka yang dibutuhkan sebenarnya oleh diri kita ini adalah kemampuan dalam menata hati. Jika dalam keadaan senang, sisihkanlah 10% di hati kita untuk merenung. Jika dalam keadaan sedih, sisihkanlah 10% untuk bergembira. Semua itu agar kita tidak menjadi lupa akan hakikat waktu. Jangan sampai butuh satu bulan untuk bersedih, ketika kekasih meninggalkan kita.

Waktu memang selalu berpihak pada orang-orang yang sabar, tetapi dia akan meninggalkan mereka yang telah terlambat.

time_flies_quote-420523

Have a nice week-end.

NB: SEBUAH PENELITIAN MENGATAKAN ALASAN KENAPA KITA MERASA WAKTU BERJALAN LEBIH CEPAT KETIKA KITA PULANG DARIPADA KETIKA BERANGKAT ADALAH KARENA KEADAAN MENTAL (MENTAL STATE) KITA YANG BERBEDA PADA DUA KONDISI TERSEBUT. DIKUTIP DARI: LEMONDE.FR (Lupa edisi berapa)

 

 

Posted in artikel | Leave a comment