Lost in Dream

Kegiatan menulis otomastis harus terhenti ketika laptop tidak bisa digunakan karena sesuatu hal, yaitu adaptornya rusak. Saya masih bersyukur cuma adaptornya saja yang rusak, tidak sampai merambat ke mesinnya juga. Begitu banyak kenangan dalam laptop yang saya gunakan saat ini. Toh rasanya sekarang, saya begitu menghargai laptop tua ini, meskipun ada satu tombol yang tidak bisa digunakan. Rasa manusia memang bisa dipengaruhi oleh suatu keadaan. Ini menyangkut tentang factor luar yang kadang kala mempengaruhi sensitivitas sebagai manusia.

Capture-d-ecran-2011-09-06-a-14.22.06Kali ini saya akan bicara mengenai keadaan “lost” dalam meraih sebuah tujuan. Ilustrasinya sangat sederhana. Biarlah saya mengambil cerita dari novel “the pilgrimage” karya Pak Paulo Coelho untuk singkatnya. Diceritakan, Pak Paulo ini menempuh perjalanan ditemani oleh seorang pemandu untuk mencari sebuah pedang. Begitu terobsesinya Pak Paulo untuk segera mendapatkan pedangnya, ia jadi lengah. Si pemandu ternyata memutar-mutarkan rute perjalanan Pak Paulo. Akhirnya, perjalanan yang bisa ditempuh dalam sehari, molor hingga sampai enam hari.

Orang kadang terlalu fokus terhadap tujuan. Sehingga lupa akan proses yang melingkupinya. Padahal, hanya lewat proseslah, batu-batuan itu bisa disulap menjadi intan yang berharga mahal. Jalan yang kita tempuhlah yang akan memperkaya pandangan kita terhadap sesuatu. Bisa jadi, pandangan kita terhadap tujuan awal kita berubah drastis. Namun, kita akan menjadi semakin paham terhadap apa yang kita inginkan dalam hidup.

Ingat, sewaktu masih kecil, seumpama kita bercita-cita ingin menjadi pemadam kebakaran. Nilai seorang pemadam kebakaran atau apapun jenis profesi pilihan kita akan tetap. Namun, seiring berjalannya waktu, cara kita memandang cita-cita kita akan berubah. Manusialah yang berubah. Bisa jadi sekarang kita lebih enjoy untuk bekerja sebagai tukang pipa karena tidak harus bekerja rutin setiap hari.

Tidak pernah ada seorang pun yang tahu dia akan menjadi apa kelak. Maka disitulah letak point of interestnya.

Kita nikmati saja perjalanan hidup kita untuk menuju apa yang kita impikan. Jangan terpaku hanya dengan satu rute saja dan merasa berat dengan apa yang telah kita miliki. Toh, dengan perjalanan kita akan meninggalkan juga apa yang kita miliki sebelumnya. Misalkan, perjalanan ke Gunung Semeru. Tentu kita harus meninggalkan rumah kita, orang tua, bisnis kita dan lain-lain. Melalui perjalanan itu sendiri, kita berusaha menghilang dan berbaur dengan segala kekuatan alam yang random, tidak bisa ditebak, untuk kemudian menemukan diri kita kembali di tengah semesta yang lebih luas daripada diri kita (kosmos) sesuai dengan peran yang telah diberikan. Inilah inti perjalanan, hilang untuk ditemukan kembali. Hmmm … saya suka istilah tersebut. Tentu saja kita tidak benar-benar meninggalkan apa yang kita punya.

Orang mungkin merasa lelah, capek dan merasa tidak kuat untuk menempuh perjalanan tersebut. Inilah yang merupakan masalah lain terhadap sebuah perjalanan. Maka jika demikian, jangan pernah menyesali suatu keadaan ketika anda sudah memutuskannya. Penyesalan adalah dosa terbesar, kata Pak Paulo (dalam novel yang sama).

Satu hal lain lagi mengenai “lost” dalam meraih sebuah tujuan adalah melakukan sesuatu tanpa menyentuh dasar mengapa kita melakukan sesuatu tersebut. Misalkan, ritual yang berkaitan dengan keagamaan. Contoh kecilnya sembahyang. Tiap umat yang beragama pasti melakukan apa yang namanya sembahyang. Sebuah cara untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Dalam kepercayaan saya, tujuan dari sembahyang adalah untuk mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Sayangnya, banyak orang yang lupa kalimat kunci tersebut, termasuk juga saya kadang. Orang lebih repot membahas cara yang baik, benar, sesuai riwayat nabi, daripada memahami output mengapa kita melakukan sembahyang tersebut. Paham akan cara melakukan sembahyang sesuai tuntunan memang mutlak, namun mengambil intisari dari sebuah perbuatan akan jauh menghasilkan manfaat bagi diri kita.

Sama seperti orang menempuh pendidikan. Ambil saja contoh, kuliah. Pendidikan itu nyatanya bukan sebuah proses untuk menerima. Tetapi, harus diraih dengan effort tertentu. Seorang bijak mengatakan (Saya bilang bijak karena lupa nama hehe ….) bahwa kita mulai belajar ketika sudah melupakan apa yang diajarkan kepada kita. Di dunia kerja, kita tak bisa mengandalkan memori mengenai apa yang diajarkan di perguruan tinggi. Ini kenyataannya. Yang kita lakukan adalah mensintesis segala pemikiran yang ada, dan itu menjadi landasan dasar dalam kita melakukan sesuatu. Disitulah proses berpikir kreatif terjadi. Sehingga kita bisa menyelesaikan masalah apapun yang soalnya sendiri tidak ada dalam text book. Real life itself doesn’t come with instructions.

This is it. Dua garis paralel dalam kita melakukan sesuatu agar tahu cara melangkah. Jangan terlalu fokus dalam tujuan. Nikmati perjalanan/ prosesnya. Jangan lupa untuk selalu evaluasi rute yang kita tempuh. Pahami mengapa.

Dan, Saya juga masih belajar btw. Have A Nice Week-end.

tumblr_liby4cdgkW1qejrqs

 

Posted in artikel, refleksi | Tagged , | Leave a comment

The World of Mouth

Teriring sebuah duka cita yang cukup mendalam terhadap apa yang terjadi pada saudara kita di Filipina. Semoga Tuhan selalu memberi kesabaran kepada mereka yang ditinggalkan dan untuk yang meninggalkan, semoga rahmat Tuhan tetap menyertaiNya. Amin.

(Surabaya, 16-11-2013 dalam suasana Surabaya mendung)

4Dunia akan terus bergerak dan berubah karena perubahan itu sendiri adalah sebuah bentuk dari kemajuan. Intinya, jika tidak ada kemajuan berarti ia akan berakhir/kiamat. Yang namanya kemajuan tidak hanya dilihat dari segi positifnya saja. Tetapi juga, sisi negatif atau perbuatan jelek juga bisa mengalami kemajuan. Contohnya saja kejahatan. Semakin maju teknologi, kejahatan pun sudah bermetamorfosis sedemkian canggihnya. Bahkan orang di Afrika sana, bisa menipu orang Asia disini. Semua bisa saja dilakukan asal ada kemajuan yakni teknologi yang bisa mendukung.

Ngomong soal teknologi, khususnya di bidang keinformasian, kita wajib bersyukur karena zaman sekarang ini akses terhadap informasi tersebut kian mudahnya. Bahkan, di pucuk gunung sekalipun, orang sudah bisa tahu dunia luar, lewat parabola dsb. Fenomena yang terjadi akhir-akhir ini, malah menunjukkan tren yang sangat menggembirakan bagi kita. Bahwa, orang di zaman sekarang tidak hanya menjadi penikmat informasi saja, namun pembagi informasi. Inilah yang mungkin mengilhami sebuah gejala baru yang saya sebut The World of Mouth. Dimana sebuah informasi yang berasal dari netizen menjadi cepat terkenal, melebihi kepopuleran berita yang dirilis oleh mass media akibat seringnya di-share oleh sesama netizen. Apalagi jika yang dikupas adalah sebuah informasi yang kontroversial, ia akan cepat menjadi viral. Continue reading

Posted in artikel, refleksi | Leave a comment

Dampak Mengerikan Dibalik Pornografi

Dampak Mengerikan Dibalik Pornografi.

{SHARED CONTENT} Klik link di atas
Sering kita dengar kalau Bahaya Pornografi itu adalah merusak otak, mengacaukan pikiran, membuat malas. Just it ??? Ahhhhhh….. saya belum merasa belum puas dengan semua penjabaran itu. Saya butuh yang lebih ekstrim penjabarannya. Setelah mencari – cari beberapa referensi dan mendengarkan ceramah orang, yang tak kunjung menghilangkan dahaga penasaran itu,…… akhirnya saya sekarang tahu Bahayanya Pornografi Bagi Siapapun pecandunya ! Dan sekarang saya ingin berbagi kepada anda.

 

Posted in artikel, refleksi | Leave a comment