Belajar dengan Hati

Bulan Agustus selalu identik dengan perayaan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Namun, saya sendiri masih sulit untuk mendefinisikan arti kata “merdeka”. Lamunan saya kali ini tertuju pada rokok. Saya bukanlah seorang perokok aktif. Namun, lingkungan kerja saya kerap bersinggungan dengan para perokok. Banyak di antara para kolega saya adalah para perokok berat. Di suatu kali kesempatan, salah seorang teman pernah berkata dengan nada sedikit bercanda bahwa mereka bisa lembur bekerja semalaman asalkan ada rokok. Rokok habis tidurlah dia. Bahkan pernah juga ada yang mengaku bahwa sarapannya adalah rokok.

Hanya orang perokoklah yang tau nikmatnya rokok. Orang yang awam terhadap rokok, tak habis pikirlah apa enaknya merokok tuh. Baunya saja bikin tak betah. Apalagi dihirup sampai masuk ke paru-paru. Ini salah satu contoh kecil bahwa terkadang cuma pemikiran saja tidak cukup untuk mendefinisikan suatu kejadian. Pikiran manusia tak sanggup untuk menampung hal-hal yang berkaitan dengan rasa. Terbatas nian kemampuan otak ini. Semua tergantung dari khasanah hati yang dimiliki setiap orang.

By the way, saya tak sedang menyuruh anda untuk merokok agar paham bagaimana rasanya rokok. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa ada batas terhadap akal manusia lewat cara yang cukup sederhana, yaitu rokok. Menganalogikan dengan rokok dan mengaitkannya dengan kemerdekaan tadi. Sanggupkah saya mendefinisikan kemerdekaan itu, jika saya sendiri tak tahu barang apakah kemerdekaan itu. Apakah saat ini saya tengah benar-benar merdeka, menuju kearah merdeka, atau masih gelap gulita. Maka jika saya boleh mendefinisikan sendiri, jawabannya bisa jadi relative. Maka tak perlu pusing-pusing amat, saya bisa buat standar kemerdekaan menurut versi saya sendiri. Dari yang paling rendah yaitu merdeka secara finansial sampai tingkat tinggi yaitu merdeka secara pemikiran.

Saya pilih merdeka secara pemikiran paling tinggi karena menurut saya inilah yang paling sulit dilakukan. ijinkanlah jika saya harus berpendapat melalui ilustrasi di bawah.

Bayangkan: Saya pernah bertemu dengan seseorang berpakaian dari kulit macan tutul. Bertato di sekujur tubuh. Tangan dan kakinya penuh dengan gelang. Hari sudah gelap dan akan ada suatu forum di tempat tersebut. Suasana pasti ramai. Namun, dia terus berjalan tanpa sekalipun menghirauan tatapan ngeri campur takut orang-orang sekitar. Saya sendiri takut. Namun inilah kesalahan saya. Mengapa saya harus takut. Dia tidak berbuat jahat kepada saya. Pemikiran sayalah yang mengatakan bahwa jika ada orang berpakaian seperti itu pasti jika bukan penjahat adalah orang gila dan harus dihindari. Hasilnya, saya telah salah menjudge orang. Dia punya alasan sendiri untuk berpakaian seperti itu. Sebuah pemikiran yang tidak bisa saya pahami, namun lagi-lagi diperlukan ranah hati untuk menampung agar akal ini bisa menerima.

Maka, dari sinilah keluar rumus yakin dimana jika menurut akal saja seseuatu itu tak bakal terjadi. Yakin adalah kunci untuk hidup. Tanpa dasar keyakinan orang akan malas untuk berusaha. Sebab, mana bisa kita tahu pohon yang kita tanam hari ini, bisa tumbuh dengan subur esok hari. Ada resiko, orang lain akan memotong bahkan menginjak pohon kita, atau akan ada hujan yang turun, kemudian mengikis tanah hingga pohon kita hanyut terbawa arus. Macam-macam hal. Pertanyaannya kemudian, tanpa menanam pohon, bisakah kita mendapatkan buah.

Maka orang yang yakin adalah mereka orang yang sudah merdeka. Tak terpengaruh mereka apa kata orang sebab mereka sudah menetapkan pilihan mereka masing-masing. Mereka hanya mau tertawa pada sesuatu yang mereka anggap lucu, bukan ikut-ikutan orang lain tertawa. Mereka akan selalu menentang dengan tegas apa yang tidak mereka sukai, dst … dst …

believe-in-yourself-2-300x225

einstain Bon Week-end

Posted in artikel | Leave a comment

Time

Dinamika waktu itu sangat aneh. Kadang kita merasa waktu untuk pulang ke rumah lebih cepat ketika pergi, meskipun kenyataannya jarak yang ditempuh sama. Ketika bersenang-senang, waktu terasa sangat singkat. Sebaliknya,ketika menunggu seseorang serasa amat lambat. Banyak kejadian dalam hidup ini, seolah-olah ingin menerangkan bahwa waktu selalu tidak berada di pihak kita. Good things take time to show the effect, but bad things happen faster.

Melakukan suatu kebiasaan yang baik, butuh waktu. Tidak serta merta orang jadi juara misalkan, tanpa adanya tes. Untuk lulus tes, butuh latihan, disiplin dan yang terpenting waktu. Sedangkan, untuk gagal, cukup diam saja. Tidak melakukan apa-apa.

Hidup manusia, ada yang berkata dibagi menjadi tiga bagian. Dua puluh tahun yang pertama, kedua dan yang ketiga. Saat ini, saya tengah berada pada fase yang kedua. Antara umur 20 – 40 tahun. At least, disinilah kita mulai mengenal diri kita. Ketika melihat teman sekolah/sekuliah kita mulai mengambil jalan hidup yang tidak sama dengan kita. Tak disangka-sangka, ada yang punya karir mentereng sampai ada juga yang harus lebih dulu meninggalkan dunia ini. Tak pernah ada yang tahu rahasia hidup. Romansa masa sekolah/kuliah kembali terngiang di pikiran. Waktu seperti terbang meninggalkan kita dan saatnya kita harus terus berjalan ke depan dan mencoba mengetuk tiap pintu yang kita tidak tahu akan mengarah kemana. Hidup seakan tak berbekas.

Orang mencari emas, belum tentu mendapatkan emas. Orang mengharapkan seorang kekasih, belum tentu dia mau membalas perasan kita. Namun, selagi masih punya waktu, apaa salahnya kita berusaha. Bumi ini luas, barangkali jika di bagian barat tak ada lagi emas, kita bisa bergerak ke arah timur, atau utara. Mungkin juga selatan. Berlaku juga untuk mereka yang mencari cinta. Barangkali dia ragu, dan butuh kesempatan yang kedua agar yakin dengan kita.

Maka, kunci daripada kebahagiaan itu sebenarnya adalah antusiasme dalam hidup. Berpikir bahwa jalan itu selalu ada dengan batasan-batasan tertentu.

Waktu tidak akan pernah bisa ditemukan bila kita mencarinya, karena kitalah yang harus membuat waktu. Buat waktu untuk merenung dan merencanakan sesuatu. Buat waktu untuk ke toko buku, refreshing, jalan dengan teman dan lain-lain. Jangan lupa, buat waktu untuk berdamai dengan Tuhan. Karena tidak selalu, apa yang kita rencanakan akan selalu berhasil. Apa yang kita impikan itu terkabul. Segala sesuatu diatur oleh tangan yang sama. Terkadang, ada sesuatu yang sudah lama kita harapkan namun, belum juga diberikan karena sebenarnya kita belum siap. Bisa-bisa jika ia diberikan, malah akan menimbulkan penderitaan.

Dari kesemuanya itu, maka yang dibutuhkan sebenarnya oleh diri kita ini adalah kemampuan dalam menata hati. Jika dalam keadaan senang, sisihkanlah 10% di hati kita untuk merenung. Jika dalam keadaan sedih, sisihkanlah 10% untuk bergembira. Semua itu agar kita tidak menjadi lupa akan hakikat waktu. Jangan sampai butuh satu bulan untuk bersedih, ketika kekasih meninggalkan kita.

Waktu memang selalu berpihak pada orang-orang yang sabar, tetapi dia akan meninggalkan mereka yang telah terlambat.

time_flies_quote-420523

Have a nice week-end.

NB: SEBUAH PENELITIAN MENGATAKAN ALASAN KENAPA KITA MERASA WAKTU BERJALAN LEBIH CEPAT KETIKA KITA PULANG DARIPADA KETIKA BERANGKAT ADALAH KARENA KEADAAN MENTAL (MENTAL STATE) KITA YANG BERBEDA PADA DUA KONDISI TERSEBUT. DIKUTIP DARI: LEMONDE.FR (Lupa edisi berapa)

 

 

Posted in artikel | Leave a comment

Lost in Dream

Kegiatan menulis otomastis harus terhenti ketika laptop tidak bisa digunakan karena sesuatu hal, yaitu adaptornya rusak. Saya masih bersyukur cuma adaptornya saja yang rusak, tidak sampai merambat ke mesinnya juga. Begitu banyak kenangan dalam laptop yang saya gunakan saat ini. Toh rasanya sekarang, saya begitu menghargai laptop tua ini, meskipun ada satu tombol yang tidak bisa digunakan. Rasa manusia memang bisa dipengaruhi oleh suatu keadaan. Ini menyangkut tentang factor luar yang kadang kala mempengaruhi sensitivitas sebagai manusia.

Capture-d-ecran-2011-09-06-a-14.22.06Kali ini saya akan bicara mengenai keadaan “lost” dalam meraih sebuah tujuan. Ilustrasinya sangat sederhana. Biarlah saya mengambil cerita dari novel “the pilgrimage” karya Pak Paulo Coelho untuk singkatnya. Diceritakan, Pak Paulo ini menempuh perjalanan ditemani oleh seorang pemandu untuk mencari sebuah pedang. Begitu terobsesinya Pak Paulo untuk segera mendapatkan pedangnya, ia jadi lengah. Si pemandu ternyata memutar-mutarkan rute perjalanan Pak Paulo. Akhirnya, perjalanan yang bisa ditempuh dalam sehari, molor hingga sampai enam hari.

Orang kadang terlalu fokus terhadap tujuan. Sehingga lupa akan proses yang melingkupinya. Padahal, hanya lewat proseslah, batu-batuan itu bisa disulap menjadi intan yang berharga mahal. Jalan yang kita tempuhlah yang akan memperkaya pandangan kita terhadap sesuatu. Bisa jadi, pandangan kita terhadap tujuan awal kita berubah drastis. Namun, kita akan menjadi semakin paham terhadap apa yang kita inginkan dalam hidup.

Ingat, sewaktu masih kecil, seumpama kita bercita-cita ingin menjadi pemadam kebakaran. Nilai seorang pemadam kebakaran atau apapun jenis profesi pilihan kita akan tetap. Namun, seiring berjalannya waktu, cara kita memandang cita-cita kita akan berubah. Manusialah yang berubah. Bisa jadi sekarang kita lebih enjoy untuk bekerja sebagai tukang pipa karena tidak harus bekerja rutin setiap hari.

Tidak pernah ada seorang pun yang tahu dia akan menjadi apa kelak. Maka disitulah letak point of interestnya.

Kita nikmati saja perjalanan hidup kita untuk menuju apa yang kita impikan. Jangan terpaku hanya dengan satu rute saja dan merasa berat dengan apa yang telah kita miliki. Toh, dengan perjalanan kita akan meninggalkan juga apa yang kita miliki sebelumnya. Misalkan, perjalanan ke Gunung Semeru. Tentu kita harus meninggalkan rumah kita, orang tua, bisnis kita dan lain-lain. Melalui perjalanan itu sendiri, kita berusaha menghilang dan berbaur dengan segala kekuatan alam yang random, tidak bisa ditebak, untuk kemudian menemukan diri kita kembali di tengah semesta yang lebih luas daripada diri kita (kosmos) sesuai dengan peran yang telah diberikan. Inilah inti perjalanan, hilang untuk ditemukan kembali. Hmmm … saya suka istilah tersebut. Tentu saja kita tidak benar-benar meninggalkan apa yang kita punya.

Orang mungkin merasa lelah, capek dan merasa tidak kuat untuk menempuh perjalanan tersebut. Inilah yang merupakan masalah lain terhadap sebuah perjalanan. Maka jika demikian, jangan pernah menyesali suatu keadaan ketika anda sudah memutuskannya. Penyesalan adalah dosa terbesar, kata Pak Paulo (dalam novel yang sama).

Satu hal lain lagi mengenai “lost” dalam meraih sebuah tujuan adalah melakukan sesuatu tanpa menyentuh dasar mengapa kita melakukan sesuatu tersebut. Misalkan, ritual yang berkaitan dengan keagamaan. Contoh kecilnya sembahyang. Tiap umat yang beragama pasti melakukan apa yang namanya sembahyang. Sebuah cara untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Dalam kepercayaan saya, tujuan dari sembahyang adalah untuk mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Sayangnya, banyak orang yang lupa kalimat kunci tersebut, termasuk juga saya kadang. Orang lebih repot membahas cara yang baik, benar, sesuai riwayat nabi, daripada memahami output mengapa kita melakukan sembahyang tersebut. Paham akan cara melakukan sembahyang sesuai tuntunan memang mutlak, namun mengambil intisari dari sebuah perbuatan akan jauh menghasilkan manfaat bagi diri kita.

Sama seperti orang menempuh pendidikan. Ambil saja contoh, kuliah. Pendidikan itu nyatanya bukan sebuah proses untuk menerima. Tetapi, harus diraih dengan effort tertentu. Seorang bijak mengatakan (Saya bilang bijak karena lupa nama hehe ….) bahwa kita mulai belajar ketika sudah melupakan apa yang diajarkan kepada kita. Di dunia kerja, kita tak bisa mengandalkan memori mengenai apa yang diajarkan di perguruan tinggi. Ini kenyataannya. Yang kita lakukan adalah mensintesis segala pemikiran yang ada, dan itu menjadi landasan dasar dalam kita melakukan sesuatu. Disitulah proses berpikir kreatif terjadi. Sehingga kita bisa menyelesaikan masalah apapun yang soalnya sendiri tidak ada dalam text book. Real life itself doesn’t come with instructions.

This is it. Dua garis paralel dalam kita melakukan sesuatu agar tahu cara melangkah. Jangan terlalu fokus dalam tujuan. Nikmati perjalanan/ prosesnya. Jangan lupa untuk selalu evaluasi rute yang kita tempuh. Pahami mengapa.

Dan, Saya juga masih belajar btw. Have A Nice Week-end.

tumblr_liby4cdgkW1qejrqs

 

Posted in artikel, refleksi | Tagged , | Leave a comment