Pemahat Batu dari Jepang

“Ketidakpuasan adalah penyakit,” kata Multatuli “dan itu penyakit yang parah,” lanjutnya.

Cerita Pemahat Batu dari Jepang ini karangan van Hoevell. Cerita tersebut pernah dimuat dalam Tijdschrift voor Nederlandsch-Indie edisi April 1842.Terdapat juga dalam novel Max Havelaar, 1985, h. 170-172 yang dikarang oleh Multatuli.

max havelaar“Upi, ada seorang pria yang menetak batu. Pekerjaannya sangat berat,dan dia rajin bekerja, namun upahnya kecil, dan dia tidak puas.”

Dia menghela napas karena pekerjaannya berat. Lalu dia menjerit: “Oh, seandainya aku kaya, dan aku bisa beristirahat di bale-bale dengan kelambu dari sutra!”

Maka datanglah malaikat yang turun dari langit berkata: “Jadilah seperti apa yang telah kau katakan.”

Lalu dia menjadi kaya. Dan dia sungguh beristirahat di bale-bale, kelambunya terbuat dari sutra merah.

Kemudian raja negeri itu melintas, dengan pasukan berkuda di depan keretanya, payung emas memayungi kepala raja itu.

Ketika pria kaya melihat itu, dia merasa jengkel karena tidak terdapat payung emas memayungi kepalanya. Maka dia merasa tidak puas.

Dia menghela napas dan menjerit: “Saya berharap saya adalah seorang raja!”

Lalu datanglah malaikat yang turun dari langit berkata: “Jadilah seperti apa yang telah kau katakan.”

Maka dia menjadi seorang raja. Di depan keretanya berbaris pasukan berkuda, di belakang keretanya juga ada pasukan berkuda, dan kepalanya dipayungi oleh payung emas.

Dan matahari dengan sinarnya yang terik, menghanguskan bumi, sehingga rerumputan menjadi layu.

Lalu raja mengeluh bahwa, sinar matahari telah membakar wajahnya, dan memiliki kekuatan yang lebih besar dari dia. Dan dia tidak puas.

Dia menghela napas, dan menjerit: “Aku berharap aku adalah matahari!”

Lalu datanglah malaikat yang turun dari langit berkata: “Jadilah seperti apa yang telah kau katakan.”

Maka dia menjadi matahari. Dan dia memancarkan  sinarnya ke atas dan ke bawah, ke kanan dan ke kiri, ke semua arah.

Dan dia menghanguskan bumi, dan wajah raja yang ada di bumi.

Lalu sebuah awan menempatkan diri antara dia dan bumi, serta memantulkan sinar matahari.

Dan dia menjadi gusar karena kekuatannya ditahan, maka dia mengeluh jika awan itu memiliki kekuatan yang lebih besar dari dia. Dan dia tidak puas.

Dia berharap untuk menjadi awan, yang sangat kuat.

Lalu datanglah malaikat yang turun dari langit berkata: “Jadilah seperti apa yang telah kau katakan.”

Maka dia menjadi awan, dan dia menempatkan diri di antara matahari dan bumi, serta menangkap sinar matahari, sehingga rumput-rumput tumbuh menghijau. Dan awan menurunkan hujan deras ke bumi, sehingga membuat sungai membeludak, dan banjir menyapu kawanan hewan.

Jumlah volume air itu menghancurkan ladang-ladang.

Dan dia melihat sebuah batu, yang sama sekali tidak bergerak. Lalu dia mengguyurkan arus yang deras, namun batu itu masih tidak bergerak.

Maka dia menjadi gusar karena batu itu tidak bergerak, dan karena kekuatan arusnya sia-sia. Maka dia tidak puas.

Dan dia menjerit: “Pada batu itu, kekuatan yang lebih besar telah diberikan bukan padaku! Aku berharap aku adalah batu itu!”

Lalu datanglah malaikat yang turun dari langit berkata: “Jadilah seperti apa yang telah kau katakan.”

Maka dia menjadi batu, yang sama sekali tidak bergerak ketika matahari menyinari, maupun ketika hujan turun.

Lalu datanglah seorang pria dengan sebuah beliung dan pahat yang tajam serta palu yang berat, kemudian dia menetak batu itu.

Batu itu berkata: “Apa ini, manusia ini memiliki kekuatan di atas saya, dan dia dapat menetak dadaku?” Maka dia tidak puas.

Dia menjerit: “Saya lebih lemah dari orang ini… Saya berharap saya adalah pria ini!”

Lalu datanglah malaikat yang turun dari langit berkata: “Jadilah seperti apa yang telah kau katakan.”

Maka dia menjadi seorang pemahat batu. Dia menetak batu dengan kerja keras, dan dia bekerja sangat keras demi sedikit upah, dan dia merasa puas.””

Sumber : disini

Posted in cerita pendek | Tagged , | Leave a comment

Lonely Battle

Aku Memberontak, maka Aku Ada – Camus

Aku Berpikir, maka Aku Ada – Sartre

la pesteTidak jelas awalnya, tidak jelas datangnya, maupun juntrungannya. Tiba-tiba bencana itu datang dan menghebohkan seisi kota. Tikus-tikus yang biasanya hidup dalam kesembunyian, menampakkan dirinya di tempat-tempat yang biasa dilalui manusia hanya untuk menggelepar dan kemudian mati. Sungguh absurd. Itulah salah satu ringkasan karya Albert Camus berjudul Sampar atau “La Peste”

Jangan kira hidup ini juga tidak absurd. Kiranya hidup ini hanya berputar-putar saja. Sungguh sangat sesederhana itu. Tidak ada manusia satupun di dunia ini yang menang dalam segala hal. By the time, you win some and lose some. Manusia lahir dari ketiadaan dan akan kembali menjadi tiada pula. Hanya ruhnya saja yang akan selalu ada. Correct me if I’m wrong. Tetapi, satu hal yang membuat hidup ini begitu kaya adalah karena adanya makna. Hal yang sama akan nampak berbeda tergantung tujuannya. Orang berpakaian bisa tujuannya bermacam-macam. Ada yang untuk menutup aurat, ada yang untuk menarik perhatian lawan jenis, ada yang untuk melindungi tubuh dari hawa dingin, dsb. Inilah dialektika kehidupan. Dan, manusia telah diberi kebebasan untuk memilih. Tinggal bagaimana dia menterjemahkan pilihannya lewat perilaku kehidupan sehari-hari. Toh, ekstrimnya, manusia lahir dalam keadaan sendiri, mati-pun juga sendiri. Maka, mengapa tidak berdamai dengan hati dan melakukan sesuatu berdasar apa kata hati. Maka kenapa juga harus sawang-sinawang ? Saling memandang satu sama lain.

Ahh…, Saya jadi ingat Soe Hok Gie yang berkata « Lebih Baik Diasingkan, daripada Hidup dalam Kemunafikan ».

Namun, satu hal yang paling penting adalah dengan hal tersebut kita jadi berusaha untuk menghargai diri kita sendiri. Bahwa sejatinya manusia diciptakan bukan hanya untuk menerima saja, tetapi juga bisa untuk tidak setuju terlepas benar-salah. Disinilah terletak ungkapan “Aku Ada” tersebut mulai terberkas dalam “jiwa” kita sebagai akibat dari proses berpikir.

Saya jadi ingat cerita “Sang Alkemis” karya Paulo Coelho. Tentang seorang anak gembala dari Spanyol, yang menjual gembalanya dan melakukan perjalanan karena sebuah mimpi. Mimpi menemukan harta karun di piramida-piramida di Mesir.

the-alchemist-gnSingkat cerita, tak ada harta karun di mesir. Malah ia hampir mati dipukuli, oleh penjahat ketika sedang menggali di piramida mesir. Sang penjahat tertawa ketika si anak gembala mengatakan bahwa ia pergi berkelana jauh hanya karena menuruti sebuah mimpi. Ternyata, si penjahat juga pernah memiliki mimpi yang sama, bahwa ia bermimpi menemukan harta karun di Spanyol, di bawah pohon sycamore di dekat sebuah gereja. Tentu saja itu menurutnya hal yang bodoh sembari kemudian meninggalkan si anak dalam kondisi kesakitan

Akhir cerita, si anak gembala kembali ke negerinya, Spanyol dan menemukan harta karun tersebut di tempat seperti yang digambarkan oleh si penjahat.

Disini, bukan soal harta karunnya yang penting. Sebab, kita tidak pernah tahu apakah si anak menjadi lebih kaya setelah mendapatkan harta karun tersebut dibanding sebelum dia menjual domba-dombanya yang mungkin jika dia tidak berniat melakukan perjalanan, domba-dombanya sudah beranak pinak yang lumayan banyak.

Namun, satu hal yang perlu mendapat perhatian adalah cara pandang si anak terhadap kehidupannya akan tidak sama lagi setelah perjalanan tersebut. Demi mewujudkan mimpinya, ia rela menjual dombanya, menyeberang ke negeri jauh yang bahasanya tidak ia mengerti, ditipu orang yang baru dia kenal dan terpaksa harus bekerja selama setahun demi mengumpulkan uang dan semua hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Itulah kehidupan, bahwa untuk menggapai sebuah tujuan, testnya akan selalu ada dan terkadang tidak mudah.

Inilah yang akan selalu menjadi pertarungan dalam diri kita. Bahwa tiap pilihan sudah tentu ada konsekuensi masing-masing. Namun ia memiliki tingkat derajat masing-masing sesuai pemaknaan kita terhadap pilihan tersebut.

Persoalan tujuannya tercapai atau tidak, kita serahkan saja pada Tangan yang telah Menggoreskan garis kehidupan. Hanya proseslah yang bisa mengubah sebuah logam menjadi emas jika memang yang terkandung adalah emas.

tumblr_m0h48iAiIc1qzsghno1_500

Posted in artikel, refleksi | Tagged , | Leave a comment

Belajar dengan Hati

Bulan Agustus selalu identik dengan perayaan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Namun, saya sendiri masih sulit untuk mendefinisikan arti kata “merdeka”. Lamunan saya kali ini tertuju pada rokok. Saya bukanlah seorang perokok aktif. Namun, lingkungan kerja saya kerap bersinggungan dengan para perokok. Banyak di antara para kolega saya adalah para perokok berat. Di suatu kali kesempatan, salah seorang teman pernah berkata dengan nada sedikit bercanda bahwa mereka bisa lembur bekerja semalaman asalkan ada rokok. Rokok habis tidurlah dia. Bahkan pernah juga ada yang mengaku bahwa sarapannya adalah rokok.

Hanya orang perokoklah yang tau nikmatnya rokok. Orang yang awam terhadap rokok, tak habis pikirlah apa enaknya merokok tuh. Baunya saja bikin tak betah. Apalagi dihirup sampai masuk ke paru-paru. Ini salah satu contoh kecil bahwa terkadang cuma pemikiran saja tidak cukup untuk mendefinisikan suatu kejadian. Pikiran manusia tak sanggup untuk menampung hal-hal yang berkaitan dengan rasa. Terbatas nian kemampuan otak ini. Semua tergantung dari khasanah hati yang dimiliki setiap orang.

By the way, saya tak sedang menyuruh anda untuk merokok agar paham bagaimana rasanya rokok. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa ada batas terhadap akal manusia lewat cara yang cukup sederhana, yaitu rokok. Menganalogikan dengan rokok dan mengaitkannya dengan kemerdekaan tadi. Sanggupkah saya mendefinisikan kemerdekaan itu, jika saya sendiri tak tahu barang apakah kemerdekaan itu. Apakah saat ini saya tengah benar-benar merdeka, menuju kearah merdeka, atau masih gelap gulita. Maka jika saya boleh mendefinisikan sendiri, jawabannya bisa jadi relative. Maka tak perlu pusing-pusing amat, saya bisa buat standar kemerdekaan menurut versi saya sendiri. Dari yang paling rendah yaitu merdeka secara finansial sampai tingkat tinggi yaitu merdeka secara pemikiran.

Saya pilih merdeka secara pemikiran paling tinggi karena menurut saya inilah yang paling sulit dilakukan. ijinkanlah jika saya harus berpendapat melalui ilustrasi di bawah.

Bayangkan: Saya pernah bertemu dengan seseorang berpakaian dari kulit macan tutul. Bertato di sekujur tubuh. Tangan dan kakinya penuh dengan gelang. Hari sudah gelap dan akan ada suatu forum di tempat tersebut. Suasana pasti ramai. Namun, dia terus berjalan tanpa sekalipun menghirauan tatapan ngeri campur takut orang-orang sekitar. Saya sendiri takut. Namun inilah kesalahan saya. Mengapa saya harus takut. Dia tidak berbuat jahat kepada saya. Pemikiran sayalah yang mengatakan bahwa jika ada orang berpakaian seperti itu pasti jika bukan penjahat adalah orang gila dan harus dihindari. Hasilnya, saya telah salah menjudge orang. Dia punya alasan sendiri untuk berpakaian seperti itu. Sebuah pemikiran yang tidak bisa saya pahami, namun lagi-lagi diperlukan ranah hati untuk menampung agar akal ini bisa menerima.

Maka, dari sinilah keluar rumus yakin dimana jika menurut akal saja seseuatu itu tak bakal terjadi. Yakin adalah kunci untuk hidup. Tanpa dasar keyakinan orang akan malas untuk berusaha. Sebab, mana bisa kita tahu pohon yang kita tanam hari ini, bisa tumbuh dengan subur esok hari. Ada resiko, orang lain akan memotong bahkan menginjak pohon kita, atau akan ada hujan yang turun, kemudian mengikis tanah hingga pohon kita hanyut terbawa arus. Macam-macam hal. Pertanyaannya kemudian, tanpa menanam pohon, bisakah kita mendapatkan buah.

Maka orang yang yakin adalah mereka orang yang sudah merdeka. Tak terpengaruh mereka apa kata orang sebab mereka sudah menetapkan pilihan mereka masing-masing. Mereka hanya mau tertawa pada sesuatu yang mereka anggap lucu, bukan ikut-ikutan orang lain tertawa. Mereka akan selalu menentang dengan tegas apa yang tidak mereka sukai, dst … dst …

believe-in-yourself-2-300x225

einstain Bon Week-end

Posted in artikel | Leave a comment