The World of Mouth

Teriring sebuah duka cita yang cukup mendalam terhadap apa yang terjadi pada saudara kita di Filipina. Semoga Tuhan selalu memberi kesabaran kepada mereka yang ditinggalkan dan untuk yang meninggalkan, semoga rahmat Tuhan tetap menyertaiNya. Amin.

(Surabaya, 16-11-2013 dalam suasana Surabaya mendung)

4Dunia akan terus bergerak dan berubah karena perubahan itu sendiri adalah sebuah bentuk dari kemajuan. Intinya, jika tidak ada kemajuan berarti ia akan berakhir/kiamat. Yang namanya kemajuan tidak hanya dilihat dari segi positifnya saja. Tetapi juga, sisi negatif atau perbuatan jelek juga bisa mengalami kemajuan. Contohnya saja kejahatan. Semakin maju teknologi, kejahatan pun sudah bermetamorfosis sedemkian canggihnya. Bahkan orang di Afrika sana, bisa menipu orang Asia disini. Semua bisa saja dilakukan asal ada kemajuan yakni teknologi yang bisa mendukung.

Ngomong soal teknologi, khususnya di bidang keinformasian, kita wajib bersyukur karena zaman sekarang ini akses terhadap informasi tersebut kian mudahnya. Bahkan, di pucuk gunung sekalipun, orang sudah bisa tahu dunia luar, lewat parabola dsb. Fenomena yang terjadi akhir-akhir ini, malah menunjukkan tren yang sangat menggembirakan bagi kita. Bahwa, orang di zaman sekarang tidak hanya menjadi penikmat informasi saja, namun pembagi informasi. Inilah yang mungkin mengilhami sebuah gejala baru yang saya sebut The World of Mouth. Dimana sebuah informasi yang berasal dari netizen menjadi cepat terkenal, melebihi kepopuleran berita yang dirilis oleh mass media akibat seringnya di-share oleh sesama netizen. Apalagi jika yang dikupas adalah sebuah informasi yang kontroversial, ia akan cepat menjadi viral. Continue reading

Posted in artikel, refleksi | Leave a comment

Dampak Mengerikan Dibalik Pornografi

Dampak Mengerikan Dibalik Pornografi.

{SHARED CONTENT} Klik link di atas
Sering kita dengar kalau Bahaya Pornografi itu adalah merusak otak, mengacaukan pikiran, membuat malas. Just it ??? Ahhhhhh….. saya belum merasa belum puas dengan semua penjabaran itu. Saya butuh yang lebih ekstrim penjabarannya. Setelah mencari – cari beberapa referensi dan mendengarkan ceramah orang, yang tak kunjung menghilangkan dahaga penasaran itu,…… akhirnya saya sekarang tahu Bahayanya Pornografi Bagi Siapapun pecandunya ! Dan sekarang saya ingin berbagi kepada anda.

 

Posted in artikel, refleksi | Leave a comment

Hari Pahlawan: Message to the grassroots

coelho10 Nopember, hari pahlawan di Indonesia dan juga tepatnya lima puluh tahun yang lalu, seorang cendekiawan muslim asal amerika memberikan sebuah khotbah yang sangat fenomenal yang berkenaan dengan masyarakat kasta terendah, kasta sudra, golongan kasta terbanyak di antara seluruh umat manusia di dunia. Namun, mereka tetap bercerai berai. Jumlah yang banyak itu belum bisa menghentikan perbudakan yang tiap hari mereka alami. Sama dengan saat kependudukan Belanda di bumi Nusantara ini. Belanda yang hanya dengan beratus-ratus orang saja, namun bisa menguasai seluruh Nusantara hampir 350 tahun. Di dalam pidatonya ini, meskipun bercerita tentang kaum negro dimasa ketika rasisme masih ada di bumi Paman Sam, ada keselarasan yang seolah menunjukkan bahwa bagaimana sebuah sistem yang berpihak pada manusia kelas atas tetap langgeng. Sehingga, grassroots, yang notabene jumlah terbanyak dalam suatu golongan selalu bisa terkontrol dan tertindas selalu dalam hidupnya.

Berikut adalah potongan pidato dari Malcolm X yang berjudul “message to the grassroots”. Pidato ini mengisahkan antara dua negro yang berbeda: negro bebas dan negro bertuan. Negro bebas bertindak sesuka hati. Malah ingin merobohkan kekuasaan yang ada. Sedangkan, negro bertuan, malah menunjukkan sikap yang sebaiknya. Toh sesama negro, sesama saudara, malah bisa jadi keduanya menunjukkan sikap bermusuhan

Message to the grassroots by Malcolm X

………

To understand this, you have to go back to what the young brother here referred to as the house Negro and the field Negro back during slavery. There were two kinds of slaves, the house Negro and the field Negro. The house Negroes-they lived in the house with master, they dressed pretty good, they ate well because they ate his food what he left. They lived in the attic or the basement, but still they lived near the master; and they loved the master more than the master loved himself. They would give their life to save the master’s house-quicker than the master would. If the master said, “We got a good house here,” the house Negro would say, “Yeah, we got a good house here.” Whenever the master said “we,” he said “we.” That’s how you can tell a house Negro. If the master’s house caught on fire, the house Negro would fight harder to put the blaze out than the master would. If the master got sick, the house Negro would say, “What’s the matter, boss, we sick?” We sick! He identified himself with his master, more than his master identified with himself. And if you came to the house Negro and said, “Let’s run away, let’s escape, let’s separate,” the house Negro would look at you and say, “Man, you crazy. What you mean, separate? Where is there a better house than this? Where can I wear better clothes than this? Where can I eat better food than this?” That was that house Negro. In those days he was called a “house nigger.” And that’s what we call them today, because we’ve still got some house niggers running around here. Continue reading

Posted in artikel, refleksi | Tagged | Leave a comment