Konvensi yang Gagal

Ada sebuah terms unik dalam bidang fisik, yaitu kata “inertia”. Inertia mengajarkan kepada kita bahwa ada sebuah resistansi atau hambatan pada sebuah benda, yang menghalanginya untuk bergerak, jika dia diam. Atau, yang menghalanginya untuk diam, jika dia bergerak. Maka secara apriori, dikatakan: benda yang bergerak dengan kecepatan tetap, akan terus bergerak selamanya, jika tidak ada gaya berlawanan yang menyebabkan benda itu untuk diam. Terlintas, definisi seperti ini agak membingungkan.

Teori mengajarkan kepada kita untuk selalu berpikir segalanya adalah ideal, hampir semua . Sedangkan, para pemikir praktis berpendapat: tunggu dulu, dikondisi seperti ini, itu tidak berlaku lagi dst. Untuk contoh kasus di atas misalkan, inertia tidak akan terpenuhi karena ada gaya gesek, gravitasi, tekanan dsb di alam. Contoh lain (yang lebih dramatis), teori mungkin bilang (-2) adalah jumlah ikan yang kita dapat setelah memancing seharian. Namun, mana mungkin orang akan mengatakan saya telah mendapatkan -2 ikan. Minus dua tidak menandakan apa-apa, selain anda pulang ke rumah dengan tangan kosong setelah berusaha memancing seharian.

Antara kenyataan dan idealitas inilah yang kadang sering kita gagal menerjemahkannya dalam kehidupan sehari-hari. Idealitas adalah barang yang simple. Tak perlu muluk-muluk. Namun, ada syaratnya. Tiap batasan kondisi yang ada harus ditepati. Misalkan, dalam kasus inertia di atas, gaya gesek udara diabaikan dan lain-lain, caranya : bisa di ruang hampa dll. Inilah yang kadang kita lupa memperhitungkannya sehingga, banyak orang suka berteori macam-macam, tak ada realisasinya. Pemaknaan terhadap sesuatu harus dibarengi dengan adanya syarat berupa asumsi-asumsi tersebut. Inilah yang disebut pembayangan terhadap sebuah jalan. Jika kita punya mimpi, saya ingin menjadi Direktur misalkan. Bila hanya mengandalkan idealitas semata, maka jabatan Direktur hanya akan menjadi bunga tidur saja. Namun, jika disertai dengan asumsi : Saya hanya bisa menjadi Direktur kalau berusaha giat dll. Maka pembayangan tersebut akan seolah menuntun kita untuk meraih jabatan Direktur tersebut. Banyak milestone-milestone yang bisa kita tulis untuk kemudian kita jadikan sebagai parameter menuju mimpi tersebut.

 

Logika Makan Logika

Hati-hati dengan yang satu ini: logika makan logika. Percaya adalah macam logika. Tidak percaya terhadap sesuatu juga adalah logika. Orang tidak akan mau melakukan sesuatu jika memang dirinya tidak mau. Seperti halnya hukum inertia, kali ini berbunyi: orang yang diam akan tetap diam, orang yang bergerak akan tetap bergerak, kecuali ada gaya lain (factor eksternal). Maka dari itu, jangan sampai kita kehilangan kesempatan kita karena kurang tepat dalam menggunakan logika kita. Ibaratnya seperti pernah dicontohkan oleh Jaya Suprana: orang tak akan mau duduk di kursi jika tak percaya kursi tersebut mampu menampung berat tubuhnya dan sebaliknya.  Orang tidak akan mau bernapas, jika berpikir udara di sekitarnya adalah beracun.

Tiap individu cenderung punya idealisme masing-masing, Namun, banyak yang tidak sesuai atau malah menyalahi kenyataan. Jika dalam bidang ilmu tak masalah, namun jika dalam kehidupan akan menjadi pergulatan pikiran yang tiada ujungnya. Inilah yang dimaksud dengan konvensi yang gagal. Tidak hanya asumsi saja, namun sebuah logika yang benar juga dibutuhkan. Dan, berpikir positif adalah sebuah logika sehat yang dianjurkan untuk pertama kali kita gunakan. Berani menerima segala tantangan, segala konsekuensi, bonek dsb. Nothing to lose.

Jika saja kita tahu bagaimana cara memilih asumsi dan penggunaan logika, maka tak perlu muluk-muluk kita penuhi diri ini dengan teori yang rumit dan tanpa hasil. Ada saat-saat dimana kita memang harus berkompromi dengan diri kita dalam kehidupan yang cuma sekali ini.

Resolusi 2013 : Sisa dari resolusi 2012 yang belum terwujud + Resolusi 2013.

WeLoveIndonesia

 

 

About royani

You could know everything about me in my linkedin page. I've put it in the sidebar beside. So gladly that you arrive in here. Hopefully that you will re-visit in other chance.
This entry was posted in artikel, refleksi and tagged , , . Bookmark the permalink.

One Response to Konvensi yang Gagal

  1. Pingback: 6 Cara Fokus Menggapai Impian - Kesulitan Promosi, Menjual, Beli, Sewa Property? Kerjasamakan Property anda kepada kami - Property Fajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s