Melihat Dari Bawah

“ …. Dan perumpamaan-perumpamaan itu kami buat untuk manusia agar mereka berpikir.” QS Al-Hasyr (59):21


Malam sudah kian bertambah larut. Kulihat jam yang menancap di dinding. Dentingan suaranya serasa mewakilkan hatiku yang sudah mulai senyap. “Aduh, tak terasa nih, sudah jam 12 malam…,” keluhku dalam hati. Tak terasa bila, hanya sekedar membaca buku saja, sudah membawa aku terbang mengarungi waktu. Hawa dingin pun mulai berdesir masuk ke sela-sela lubang jendela, seolah ia tahu kemana harus menuju. Aku masih duduk tak bergeming di depan meja sedari tadi. Masih banyak tugas yang harus kuselesaikan. Rasa penat pun mulai datang menghampiri. Sesaat terbayang nyamannya berguling di lautan kapas yang empuk, tetapi rasanya hal itu tak mungkin terjadi sekarang. Masih banyak tugas yang harus aku selesaikan dan waktu tidak akan pernah menunggu.

Kugeleng-gelengkan kepala, sembari kedua tanganku mulai memijit-mijit pundakku yang terasa kesemutan sedari tadi. Sekali-kali, kugaruk kakiku yang gatal karena digigit nyamuk. “Coba kalau aku lebih bisa menghargai waktu, pasti tak akan jadi begini,” sesalku dalam hati. Besok adalah hari dimana aku akan melakukan wawancara kerja.

Esoknya, tepat seperti apa yang aku duga sebelumnya, lagi-lagi aku terlambat bangun. Alarm sudah tak mempan lagi untuk mengangkatku beranjak dari alam mimpi. Karena telat datang, akhirnya aku pun tidak diperbolehkan untuk masuk ke ruang wawancara. Setelah kesekian kalinya, aku gagal memperoleh pekerjaan. Resmi sudah, satu tahun lamanya aku menjadi sarjana pengangguran yang tidak bisa membahagiakan kedua orang tuanya di desa. Untunglah, selama ini aku masih bisa menggantungkan hidupku dari uang tabungan yang masih tersisa.

Kini, apa yang kulihat semuanya menjadi semakin gelap. Kuberjalan sepanjang trotoar dengan muka tertunduk. Langit mendung seolah mengamini apa yang aku rasakan. Gerimis pun turun rintik-rintik. Angin sepoi bercampur debu meniup wajahku yang penuh keputus-asaan. Segera kuberlari, mencari tempat berlindung dari siraman air langit.

Ku duduk di sudut halte bus sambil terpekur sendirian. Sesaat kemudian, kulepas kedua sepatu dan kaos kaki ku agar tak kena cipratan air. Hujan memang begitu lebat kala itu, tetapi aku lebih memilih untuk tetap hanyut dalam perasaanku. ”Tuhan memang tak adil,” keluhku dalam hati. ”Apa yang tak kulakukan? Aku sudah berdoa dan berusaha tiap hari. Namun, mengapa Kau berkehendak lain?” Sejenak aku menghembuskan napas panjang. Kulihat, disampingku sekarang, ada seorang pengamen dan beberapa pengemis cilik yang juga mencari tempat untuk berteduh.

Kembali aku dalam lamunanku. ”Mungkin, ini juga semua salahku,” pikirku dalam hati. ”Aku telah berbuat kesalahan sehingga aku gagal untuk memperoleh pekerjaan”. Aku menjadi sedikit tenang karena menyadari hal tersebut, tetapi kemudian sisi lain hatiku kembali bergejolak. ”Tetapi semua manusia kan pasti pernah berbuat kesalahan,” sahut hatiku menimpali pikiranku yang tadi. ”Dan setiap manusia pasti pernah membuktikan teori tersebut. Aku jarang bangun terlambat, tetapi mengapa Tuhan tak membangunkan aku seperti biasanya tadi pagi?”.

”Bang, permisi, saya makan dulu,” sapa seorang anak terbesar dari segerombolan pengemis cilik yang ada di dekatku. Seketika kustabilkan perasaanku dari rasa kalut. Suaranya begitu polos sehingga mampu mengalihkan perhatianku. Dua buah nasi berbungkus kertas minyak ia buka untuk di makan bersama-sama dengan tiga orang temannya. Yang mereka makan hanyalah nasi sebesar tiga genggam kepalan tangan orang dewasa diiringi lauk tahu dengan sambal seadanya. Namun, bisa kulihat di wajah mereka yang berdebu terlihat begitu sangat terpuaskan. Sehingga mereka tak memperdulikan lagi orang-orang yang ada di samping mereka. Begitu lahapnya, hingga pada akhirnya tak sejumput nasipun tertinggal di alas makan mereka.

Begitu habis, segera mereka bersenda gurau satu sama lain. Kemudian  mereka pergi berkejar-kejaran di tengah derasnya guyuran hujan. Aku membayangkan, betapa nikmatnya jika menjadi seperti mereka. Bukan atas bebasnya hidup mereka, tetapi akan begitu mudahnya mereka terpuaskan dalam hidup ini, tentu saja di atas segala kekurangan yang mereka miliki. Di atas kekejaman hidup yang harus mereka jalani. Hanya dengan nasi dan lauk seadanya saja, bisa kulihat kebahagiaan di dalam wajah mereka.

Terpikir olehku, bahwa selama ini aku telah berburuk sangka kepada Allah. Pada awalnya, tak bisa kuterima kenyataan bahwa bagaimana pun kita telah berusaha, Dialah yang akan menentukan hasilnya.

Setiap peristiwa apapun itu, pada akhirnya pasti memiliki hikmah yang harus diambil. Kita tak boleh menyalahkan takdir, karena sejatinya takdir apapun yang diberikan Tuhan, tetap tidak akan membedakan kita dihadapanNya. Satu-satunya yang menjadi pembeda adalah pilihan yang kita ambil dalam hidup ini.

Akhirnya kusadari, kita wajib berusaha, tetapi setelah itu hendaklah kita kembalikan kepada Dzat Yang Maha Tinggi, yaitu Allah. Langit pun kembali bersinar. Hujan telah mulai reda. Burung-burung pun mulai bermunculan keluar dari sarangnya dan terbang dari satu pucuk pohon ke pohon yang lain.

Kutatap langit nan tinggi. ”Dunia akan selalu tetap menarik karena ia akan selalu memberikan kejutan-kejutan kecil dalam hidup ini,” pikirku dalam hati bersambut dengan senyum dan langkah kaki yang mantap, menuju masa depan tak terbatas. ………………………………………………………

About royani

You could know everything about me in my linkedin page. I've put it in the sidebar beside. So gladly that you arrive in here. Hopefully that you will re-visit in other chance.
This entry was posted in cerita pendek. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s