Mengkail dalam Lumpur

Cogito Ergo Sum” yang dalam bahasa Indonesia berarti saya berpikir karena itu saya ada. Kalimat yang didengungkan oleh Descartes, seorang ilmuwan dan juga filosof. Sebuah kalimat yang memiliki arti penting pengakuan manusia akan keberadaannya. Marilah sedikit kita urai kalimat tersebut dengan sudut pandang yang hampir sama….

Dari sebuah pertanyaan. Mengapa harus berpikir untuk menjadi ada?

Tanpa berpikir pun, ketika manusia hidup dalam sebuah realitas adalah cukup baginya untuk menjadi seorang yang ada. Tetapi, apa maksud dari Descartes? Bahwa ada dengan cara berpikir. Berarti ada hal yang semu ketika kita beraktivitas, menyangkut dari sudut kontinuitas. Apa dan mau kemana. Seperti dalam konsep futurolog, bahwa ada satu sebab yang menuju ke sebab lain. Bahwa pada akhirnya, segala yang kita lakukan akan bermuara pada satu yaitu perubahan. Karena ketika manusia itu berpikir, sudah dipastikan manusia akan berperilaku. Karena berperilaku, sudah dipastikan pula akan ada hasil, cipta dan karsa (obyek yang berubah karena perilaku). Ide ini dianggap mutlak, karena tidaklah semuanya ketika kita berpikir, kita akan berperilaku dan tidaklah selalu ketika kita berperilaku, selalu ada perubahan. Tetapi, yang kita bicarakan disini adalah suatu konsep kontinyuitas yang memiliki peran penting dalam suatu perubahan.

Pada akhirnya, Cogito ergo sum, menghasilkan suatu perhatian, bahwa jika kita ingin diakui (dibutuhkan untuk dapat diajak bekerja sama dan dalm hal-hal kemanusiaan yang lainnya), conditio sine quanon (mau tidak mau), kita harus berkarya (meskipun tidak dalam bentuk fisik). Mungkin kita pernah mendengar istilah mayat hidup (ekstrim memang) bagi orang-orang yang dalam hidupnya tidak tidak pernah berkarya, tetapi selalu bergantung pada orang lain. Sudahkah kita “berpikir”?

Mengutip dari Al Qur’an yaitu surat Al Baqarah ayat 216, yang menerangkan bahwa Allah mewajibkan kita untuk berperang meskipun hal tersebut tidaklah menyenangkan bagi kita. Tetapi ada, tagline yang harus kita garis-bawahi dalam ayat tersebut bahwa boleh jadi kita tidak menyenangi sesuatu padahal hal tersebut jika kita lakukan akan baik bagi diri kita dan sebaliknya. Pada akhir ayat, diterangkan bahwa Allah mengetahui lebih dari apa yang kita ketahui (termasuk yang ada dalam Qolbu kita/tersembunyi).

Apa makna di balik ayat tersebut?

Boleh jadi yang dikatakan kewajiban berperang dalam ayat tersebut adalah kita berperang melawan diri kita sendiri (melawan hawa nafsu). Dalam ayat yang lain pun, juga dikatakan (sebagai penguat) bahwa jihad yang paling berat adalah melawan hawa nafsu.

Perang kita yang sebenarnya adalah perang melawan kemalasan, ketergantungan pada orang lain, sifat pragmatis dan rasa cepat puas. Beragam hal-hal yang membuat kita tetap stay pada zona nyaman kita sehingga pada akhirnya kita akan kehilangan visi (arah kehidupan/ hilangnya kontinyuitas dalam berjuang). Bukanlah suatu hal yang mudah, tetapi itulah yang baik. Lagi-lagi kita harus berpikir kemana hidup kita harus diarahkan. Hal ini sudah barang tentu harus dilakukan, karena berperang melawan diri sendiri untuk menghilangkan sifat yang zalim dari dalam diri kita bukanlah suatu hal yang mudah.

Ketika kita diminta untuk mengubah program yang telah tertanam di pikiran kita yang telah otomatis menjadi suatu kebiasaan yang kita lakukan tanpa perlu berpikir lagi. Sama dengan, kita yang setiap hari makan nasi kemudian diberi makan sagu/ roti. Mungkin sulit, tetapi bias dilakukan. Pada akhirnya, hal yang perlu kita camkan matang-matang adalah semakin tinggi umur, maka kewajiban dan tanggung jawab seseorang akan menjadi semakin besar. Jika, kita tidak siap dengan itu, maka kita akan menjadi seperti orang-orang yang terbelakang dan tidak akan sanggup berkompetisi. Pada akhirnya, kemana lagi kita mesti mengarahkan layar, ketika angin sudah mulai berhenti bernafas?

About royani

You could know everything about me in my linkedin page. I've put it in the sidebar beside. So gladly that you arrive in here. Hopefully that you will re-visit in other chance.
This entry was posted in artikel. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s