Sebuah DILEMA : Sekolah Swasta atau Negeri, Kenapa Harus Dicari Perbedaannya?

Sebuah renungan untuk memperingati Hari Pendidikan dan Kebangkitan Nasional

Saat yang paling menyibukkan bagi para orang tua adalah ketika mereka harus bersusah payah, kesana-kemari, dari pagi hingga sore hari untuk sekedar berebut mendaftarkan anaknya ke sekolah negeri. Fenomena ini terus berulang dari tahun ke tahun. Total tiap tahun ada lebih dari sekitar 10.000 anak lulus sekolah yang jumlahnya tak setara dengan jumlah sekolah negeri yang ada. Bersekolah di sekolah negeri memang masih digolongkan suatu hal yang membanggakan bagi sebagian besar dari kita. Hal ini bukan tanpa alasan. Kebanyakan dari faktor ekonomi yang menjadi penyebabnya. Di sekolah negeri, pemerintah yang menggaji guru, sedangkan di sekolah swasta siswa yang menggaji guru. Maka dari itu, tak heran jika sekolah negeri masih paling diminati daripada sekolah swasta karena segi finansial yang lebih minim. Meskipun tak selalu demikian adanya, tetapi inilah mitos pertama yang ada di benak para orang tua saat ini.

Bagaimana dengan segi kualitas?

Semua itu adalah relatif. Tak ada yang lebih bagus antara sekolah swasta ataupun negeri. Jika ada yang mengatakan cara mengajar atau kurikulum sekolah negeri masih lebih baik daripada sekolah swasta ataupun sebaliknya, maka hal itu bukanlah suatu generalisasi yang harus selalu kita ikuti. Tiap sekolah punya cara berbeda untuk membranding sekolahnya sehingga kelihatan bagus, utamanya di zaman globalisasi saat ini. Saya pernah melintas di suatu SMA swasta di surabaya. Tepat di gedung sekolah itu tertulis kalimat SMA X, ROCK AND ROLL HIGH SCHOOL. Entah apa komentar anda, namun saya punya teman yang menjadi salah satu lulusan sekolah tersebut yang sekarang menempuh pendidikan di salah satu PTN di Surabaya dan menjadi organisator yang ulung.

Hanya dari segi kedisiplinanlah yang membedakan antara sekolah negeri dengan swasta. Di sekolah negeri kedisiplinan amat ditekankan, beda dengan sekolah swasta. Mungkin kebanyakan dari kita masih ingat saat-saat ketika kuku dan rambut kita diperiksa tiap hari senin, atau harus dihukum ketika atribut sekolah kita tak lengkap waktu upacara. Konvensionalitas baik segi aturan maupun mengajar masih terasa di sekolah negeri jika dibandingkan sekolah swasta. Namun, hal ini mulai dirubah akhir-akhir ini seiring dengan masuknya guru-guru baru ke dalam sekolah negeri.

Namun, rasanya kedisiplinan saja bukanlah tolok ukur yang menjadi pertimbangan bahwa sekolah negeri itu lebih baik daripada sekolah swasta. Pasalnya, baik-buruknya suatu sekolah terlihat daripada kualitas output (lulusan) yang dihasilkan. Tak semua lulusan dari sekolah negeri itu baik maupun sebaliknya. Baik-buruknya suatu sekolah hanya bisa kita lihat berdasar dari track recordnya selama ini. Dan, inilah yang harus menjadi kejelian para orang tua dalam memilih sekolah. Jangan sampai karena ingin anaknya bersekolah negeri, mereka bersusah-payah mencari sekolah negeri yang jaraknya hingga lebih dari 3-4 km. Anaklah yang pada akhirnya jadi korban.

Menurut Nuh, Mendiknas saat ini, berdasarkan pandangan dari sisi pemerintah atas UU Sisdiknas, mengatakan bahwa pendidikan itu sejak awal dilakukan terbuka, yaitu bisa dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat. Inilah dasar kenapa ada sekolah negeri dan sekolah swasta.

Justru kalau semuanya menjadi kewajiban pemerintah, swasta tak bisa mengembangkan diri dan masyarakat memiliki keterbatasan untuk berpartisipasi dalam pendidikan. ’’Justru pemerintah meletakkan fondasi bahwa pendidikan menjadi milik semua,’’ ucapnya.

Inilah dilema dalam pendidikan, ketika kita ingin menegaskan bahwa pendidikan adalah untuk semua, sebagian besar dari kita malah menganak-tirikan suatu lembaga pendidikan tertentu.

Tak semua sekolah negeri itu murah, ataupun sekolah swasta itu mahal. Dan, hal ini juga sama dari segi kualitas. Namun, yang paling berperan penting dari semua itu adalah komitmen para pendidik di sana untuk dapat meyakinkan para orang tua agar memiliki kepercayaan untuk menaruh anaknya di sekolah tersebut. Maka, image sekolah swasta yang tak sebegitu mentereng daripada sekolah negeri, harus dapat digenjot dengan cara menunjukkan bahwa mereka juga bisa mencetak siswa-siswa yang juga bisa berprestasi. Inilah yang sekarang sedang banyak dilakukan oleh sekolah swasta.

Terlepas dari semua hal itu, pendidikan adalah sebuah long-life learning yang dampaknya baru bisa kita lihat di masa depan. Hanya pendidikan yang berbasis karakterlah yang akan berhasil mengeluarkan INDONESIA dari jurang dekadensi moral seperti korupsi dll, menuju ke INDONESIA yang makmur dan sentosa sesuai pembukaan UU.

Sumber:

http://blog.intisari-online.com/2011/05/sebuah-dilema-sekolah-swasta-atau-negeri-kenapa-harus-dicari-perbedaannya/

About royani

You could know everything about me in my linkedin page. I've put it in the sidebar beside. So gladly that you arrive in here. Hopefully that you will re-visit in other chance.
This entry was posted in artikel, refleksi and tagged , , . Bookmark the permalink.

One Response to Sebuah DILEMA : Sekolah Swasta atau Negeri, Kenapa Harus Dicari Perbedaannya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s