Prie GS 19: Fatwa Haram

Setelah fatwa haram golput, fatwa haram rokok, kini giliran MUI dikabarkan mengharamkan Facebook (walau kabar ini ternyata tidak benar). Tapi karena kabar itu telah begitu menyebar, saya terpaksa mengandaikan kabar itu benar karena saya telah menanggung akibatnya, setidaknya harus menjawab pertanyaan anak-anak saya yang senang bermain Facebook dan malangnya… saya juga. Apalagi anak-anak itu bersekekolah di sekolah agama, yang halal dan haram memang dihitung dengan ketat. Jika saya ajak makan di luar, anak-anak itu terbiasa menatap seluruh makanan seperti seorang intel dan mengusut halal-haramnya. Jadi “haram” adalah kata yang menakutkan bagi mereka.

Maka inilah jawaban saya atas pertanyaan tidak cuma anak-anak saya tetapi juga siapa saja yang pernah menanyakan pendapat saya atas aneka fatwa haram termasuk untuk rokok dan golput itu. Jawaban saya; seluruh dari fatwa itu saya setujui karena ia tidak mengikat saya, dan MUI sendiri juga tidak bermaksud mengikat siapa-siapa. Lembaga itu hanya berfatwa saja. Diterima syukur, tidak diterima tak apa-apa. Jadi jelas sebetulnya, untuk sesuatu yang boleh diterima dan boleh ditolak, tak perlu menimbulkan perdebatan. Tinggal ditolak atau diterima begitu saja.

Banyak pihak menyangka jawaban saya ini tidak serius. Persangkaan itu keliru, karena sikap saya itu sungguh sangat serius. Untuk soal-soal yang jelas tidak mengikat, kenapa saya harus buang-buang waktu untuk memikirkannya lebih-lebih menjadikannya sebagai bahan bertengkar. Apalagi soal rokok misalnya, sebelum MUI mengharamkan saya malah sudah jauh-jauh hari mengharamkan rokok untuk diri saya sendiri. Jadi ketika fatwa rokok haram itu turun, saya malah jadi gede rasa: eh jangan-jangan MUI tahu kalau Prie GS tidak merokok, maka tergerak untuk membuat fatwa haram rokok. Tapi namanya juga cuma ge er, jika pun keliru, itu soal biasa. Tetapi intinya, untuk sesuatu yang sejurusan dengan selera saya, sulit bagi saya untuk tidak setuju. Tapi apakah berarti saya bersebarangan dengan pihak yang menolak? Tidak juga. Karena kiai-kiai besar yang saya kagumi itu, ternyata malah perokok berat. Dan saya makin terkagun-kagum saja meskipun mereka menghisap barang yang sudah diharamkan MUI, ternyata juga tidak mengurangi kebesarannya.

Terus fatwa soal golput itu pasti juga saya setujui, apalagi pada dasarnya saya memang tidak golput. Bagi saya pemimpin yang buruk pun lebih saya sukai ketimbang negara ini tidak ada pemimpin sama sekali. Karena jika ada pemimpin, meskipun buruk, pasti ada kebaikannya. Dan kebaikan ini pasti lebih baik katimbang tidak ada sama sekali. Jadi tak ada alasan bagi saya untuk tidak setuju.

Terus seandainya ada fatwa Facebook haram, saya juga akan setuju, walau saya sendiri pemakai Facebook. Tapi apakah jika sudah setuju lalu akan berhenti memakai Facebook? Tidak. Inilah enaknya watak fatwa yang tidak mengikat itu, ia tidak ada pengaruhnya bagi hidup saya. Bagi yang yang haram, Facebook pasti haram. Bagi yang halal, Facebook ya halal saja. Sesederhana itu. Mana mungkin? Mungkin saja. Karena jangankan cuma Facebook, gula saja bisa haram bagi penderita diabetes. Begitu juga dengan sate kambing pasti juga haram bagi penderita hipetrensi. “Oo bukan satenya yang haram, haram itu kan kalau berlebihan,” begitu barangkali bantahannya. Benar, tapi bantahan ini juga bisa dibantah lagi. “Begitu juga dengan Facebook. Jadi Facebook dengan sate sama kedudukannya,” kata pembantah berikutnya.

Jadi ada sisi halal dan haram sekaligus di dalam diri saya ini tehadap segala sesuatu, tak terkecuali terhadap Facebook. Dua sisi itu jelas sekali dan mudah memilahnya. Saya laporkan kepada MUI juga bahwa di dalam Facebook, ada Facebooker yang kerjaan lain tak ada selain cuma mengingatkan waktu azan semata. Saya belum pernah melihat gaya muazin yang sedemikian efektif seperti orang ini: cukup dengan sekali klik anjurannya langsung menjangkau seluruh dunia. Jadi mau segala sesuatu dihalalkan, mau diharamkan, rasanya saya kok setuju saja, karena keduanya ada di dalam diri saya dan baru benar-benar menjadi halal atau haram setelah ada keputusan saya. Jadi di antara fatwa itu, masih ada saya sebagai penentunya. Persoalannya, siapakah saya ini.

 

About royani

You could know everything about me in my linkedin page. I've put it in the sidebar beside. So gladly that you arrive in here. Hopefully that you will re-visit in other chance.
This entry was posted in artikel, refleksi and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s