PRIE GS 20: Gelandangan yang Bangun Siang

Manusia Indonesia perlu belajar tidur pada gelandangan yang pernah saya lihat di suatu hari ini. Hari telah berangkat siang, tapi gelandangan itu, laki-laki, bisa tidur nyaman di trotoar jalan. Seperti mati, tak peduli panas yang menyengat, tak cemas bahaya dan abai pada gangguan pejalan kaki.

Diramalkan, wabah sulit tidur atau insomnia akan makin melanda manusia Indonesia. Bensin baru saja turun puluhan rupiah tapi mendadak bisa naik lagi ratusan rupiah. Bagi bensin, penurunannya, meski besar, sering tak berarti apa-apa. Ia tak otomatis sanggup menurunkan harga-harga. Apalagi jika penurunan itu kecil saja. Bagi bensin, kenaikannya, meski kecil, hebat sekali pengaruhnya karena harga-harga akan langsung menggila. Apalagi jika kenaikan itu besar jumlahnya. Maka betapa mahal ongkos mental masyarakat Indonesia jika setiap kali cuma dikocok demikian rupa.

Sementara bensin belum usai membuat huru-hara, di jalan-jalan, angkutan kota ramai-ramai berunjuk rasa lantaran omprengan liar merajelala. Jalan raya makin menjadi modus berbagai kejahatan, pemalakan, kecelakaan, kemacetan…

Pada saat yang sama pula tersiar kabar tentang aparat sibuk menembaki sesamanya. Perang antarkesatuan menjadi barang biasa. Begitu berat tugas aparat saat ini. Selain masih terus menghadapi gelombang kerusuhan dan demonstrasi mereka juga harus berperang melawan diri sendiri.

Prajurit rendah sibuk gelisah mengatasi kemiskinan yang melilitnya. Sementara di atasnya, ada jenderal yang terang-terangan mengaku sudah lama kaya karena ”saya pernah menjabat di mana-mana,” katanya.

Kabar yang lain menyebut tentang betapa tidak gampang sekarang ini mempercayai manusia. Terbukti di sebuah pemerintah kota perlu mengetes air kencing ratusan pejabatnya, ee barangkali ada bau narkoba.

Tes semacam ini sungguh keterlaluan ditilik dari beberapa segi. Pertama betapa tak cukup sekarang ini mempercayai pejabat cuma lewat kebesaran kantornya, lewat jenis jabatannya, prestasi kerjanya, tingah lakunya, keadaan keluarganya, nilai ijasahnya, sejarah mesa kecilnya…

Meski sudah panjang fakta seseorang kita kumpulkan, toh tak juga membuat kita gampang percaya hingga kita masih membutuhkan air kencingnya. Jika semua itu pun belum cukup, kita bisa mengobrak-abrik seluruh organ tubuh seseorang baru kita bisa mempercayai mereka.

Daftar ini pun belum lagi diperkeruh dengan maraknya isu suap di kalangan anggota dewan. Tentang betapa keren jas mereka, betapa besar sabetannya, mobil mewahnya. Belum pula tentang tentang satgas partai yang menggeruduk sebuah hotel, memecahi kaca mobil dan menganiaya anggota partainya sendiri. Belum lagi ditambah dengan rencana sebuah kabupatan yang hendak menggelar pentas poco-poco akbar dengan ratusan ribu penari. Anak-anak sekolah di desa-desa, guru, lurah, camat, pegawai negari semua dikerahkan untuk proyek ambisius ini.

Mereka akan menari di sepanjang jalan yang ditutup sementara. Mereka akan berduyun-duyun, harus berseragam, harus tidak boleh telat… demi tujuan mulia: masuk Museum Rekor Indonesia.

Pendek kata, akan makin banyak persoalan yang membuat manusia Indonesia akan makin susah tidur. Dalam keadaan semacam ini, maka kualitas tidur gelandangan di atas adalah sesuatu yang bikin iri. Tidur seperti mati, seperti bayi. Dan hanya orang-orang yang punya sedikit beban dan persoalan saja bisa tidur sehebat ini. Tapi alangkah celaka jika untuk bisa tidur nyenyak, manusia Indonesia harus lebih dulu menjadi gelandangan.

 

About royani

You could know everything about me in my linkedin page. I've put it in the sidebar beside. So gladly that you arrive in here. Hopefully that you will re-visit in other chance.
This entry was posted in artikel, refleksi and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s