PRIE GS 23: Diberi Tanpa Meminta

Dari rumah, saya diberi kemudahan untuk mengakses jalan tol. Tetapi di setiap kemudahan, selalu terselip kesulitan. Jalan yang saya masuki adalah sekadar sebuah sempalan dari jalan utama. Maka kepada arus utama, saya hanya bisa menunggu dan meminta jalan arus kendaraan yang berebut masuk ke gerbang tol. Jadi dibanding para pejalan di arus utama, kendaraan kami hanyalah figuran.

Makin lama, makin tidak mudah untuk meminta jalan. Para pengendara dari arus utama itu selain makin padat, juga seperti layaknya pengendara jalan raya, punya seribu alasan untuk buru-buru, apalagi merasa sebagai para pendahulu. Kami figuran ini, sekadar diberi kesempatan jika ada waktu.

Logika ini sering membuat pengemudi keluarga kami tidak sabar. Ia tak bisa lagi menunggu, melainkan juga harus merebut. Ia harus meminta tempat sedemikian rupa, lebih tepatnya bukan meminta tetapi memaksa. Taktik ini memang hampir selalu berhasil. Dan inilah taktik yang memang hampir selalu diperagakan oleh penghuni jalur sempalan seperti kami. Harus merebut, karena kami tak bisa cuma hanya menunggu sebuah pemberian yang tidak menentu.

Tapi hukum paradoks itu kembali bekerja: jika di setiap kemudahan ada kesulitan, di setiap keberhasilan juga selalu terselip kegagalan. Karena meskipun kami berhasil merebut jalur, ada saja pihak yang merasa jalurnya terebut dengan paksa. Selalu ada mata yang melotot, ada klakson yang menyalak dan selalu ada kegiatan adu gertak.

Ada kalanya kami yang nekat tancap gas dan memaksa mereka mengalah sambil menyumpah serapah, adakalanya kamilah yang harus berlaku sebaliknya karena kenekatan sudah lebih dulu mereka peragakan. Hukum jalan raya sebetulnya sederhana, jika dia berani, saya akan berhenti. Jika saya berhenti dia berani. Kalau kebetulan kami sama-sama berani, juga sederhana: tingal tabrakan begitu saja. Tetapi kemungkinan ketiga, sejauh ini jarang terjadi kecuali kami sudah benar-benar ingin berususan dengan polisi.

Karenanya setiap kali kami memasuki jalan tol lewat rute sempalan ini, selalu tegang oleh sebuah persoalan yang terbayangkan. Pasti akan ada klakson menyalak, ada mata melotot, ada adu gertak. Selama saya merebut, selalu akan ada kemarahan dari pihak yang direbut. Maka jika tak ingin membuat marah pihak yang direbut, harus tidak dengan cara merebut. Tetapi mungkinkah menolak berebut di jalan yang berebut? Mungkin. Setidaknya, saya mengajak pengemudi keluarga kami melakukan uji coba. “Tunggu saja, sampai ada orang baik hati memberikan jalannya,” kata saya.

Maka tugas kami hanya mendekat pelan-pelan ke jalur utama dengan kesiapan mengalah sepenuhnya. Selalu ada orang-orang yang tak peduli pada kami, tetapi setelah sekian ketidak pedulian selalu muncul kepedulian pada akhirnya. Selalu ada orang yang peduli di tengah yang tak peduli. Lama-lama kami sepakat dengan pola ini. Dan sejak itu, kami lebih banyak menuai sukses memasuki jalur utama secara lebih menyenangakan, tanpa klakson tanpa bentakan.

Setiap masuk ke jalan tol ini saya semakin meyakini tentang hukum meminta dan memberi. Bahwa selalu ada kecenderungan dari setiap manusia untuk memberi. Hukum ini sungguh terus bekerja karenanya manusia tak perlu harus takut kehilangan. Hukum itu bekeja terutama ketika ada pihak yang membutuhkan. Jadi saat antre ke jalan utama itu saya cuma menyodorkan kebutuhan, bukan keinginan. Terhadap pihak yang ingin: ingin buru-buru, ingin segera diberi tempat, ingin didahulukan, ternyata cuma mengundang ketidakpedulian. Tetapi kepada pihak yang butuh jalan, jalan itu selalu akan dibukakan.


 

About royani

You could know everything about me in my linkedin page. I've put it in the sidebar beside. So gladly that you arrive in here. Hopefully that you will re-visit in other chance.
This entry was posted in artikel, refleksi and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s