PRIE GS 22: Anak-anak telah Bersekolah

Anak-anak telah kembali ke sekolah. Dan catatlah: sebagian (besar?) sekolah setingkat SMU masih menyelenggarakan perpeloncoan dengan kedok orientasi sekolah. Sebuah program yang tidak memberi sumbangan apapun terhadap pendidikan kecuali pelajaran sadisme.

Dan marilah kembali kita catat: betapa pelajaran sadisme itu diajarkan pertama kali secara resmi justru lewat sekolah. Mari kita anggap semua argumentasi ideal di balik program ini sebagai lelucon belaka. Karena hasil nyata perpeloncoan itu tak lebih dari tradisi dendam. Bukan dendam versi komik silat yang hutang hari ini dianggap selesai jika telah dilunaskan esok hari. Yang kita semai adalah dendam kultural yang kemudian bisa melilit generasi demi generasi.

Maka lihatlah sederet bukti betapa kita adalah generasi yang terdidik untuk menjadi pendendam, terutama setelah kita menjadi senior, menjadi atasan. Maka pernah tersiarlah seorang oknum polisi yang menyuruh bawahannya bahkan untuk menjaga rumah dan merumputkan hewan piaraan. Pernah hebohlah berita tentang mahasiswa yang harus menggigit katak di pekan peloncoan. Lalu masihkah menjadi rahasia jika ada seorang dokter calon spesialis yang begitu ketakutan pada seniornya. Saking hebatnya ketakutan itu hingga ia harus mau mengerjakan tugas-tugas sang senior termasuk harus mewakli kondangan segala.

Siapapun kita, apapun profes kita, begitulah watak kita setelah menjadi atasan. Bisa dimengerti karena pelajaran menyakiti memang tercantum dalam “kurikulum”. Kita dididik untuk bergairah melihat orang lain susah. Maka pertunjukkan derita itu harus tetap dipelihara, terus diberi suaka dan diajarkan secara dini lewat sekolah-sekolah.

Jadi logis, jika sebagai bangsa, selama ini kita lebih sibuk membuat derita sesama katimbang berpikir soal kemajuan bangsa. Wajar pula jika kemelut negara ini bisa begitu lama, karena derita orang lain terasa sebagai hal yang biasa-biasa saja. Juga bukan cerita baru lagi jika di sebuah negeri miskin justru banyak dihuni oleh para koruptor yang sangat kaya. Orang yang tega hidup sangat mewah di tengah kemiskinan itu apalagi penyebabnya jika bukan karena kesuksesan pelajaran sadisme di atas.

Maka program perpeloncoan itu tidak cuma layak dibubarkan tapi kalau perlu malah harus dianggap sebagai kejahatan. Pertama, ia jahat dari segi bahwa program itu menyuburkan bakat sadisme itu sendiri. Inilah program yang memberi peluang pada murid paling bodoh sekalipun untuk bisa main bentak, main kuasa hanya karena ia senior. Kedua, dan ini yang terpenting, mana boleh sekolah dbiarkan menghambur-hamburkan waktu untuk hal-hal yang tak perlu.

Sebab, seandainya seluruh sekolah di Indonesia diasumsikan sebagai bermutu, semua murid dianggap sebagai pintar, modren dan kutu buku, kita masih ragu, benarkah kita masih sanggup mengejar ketertinggalan dari negara-negara maju. Bukan karena bahwa anak-anak kita begitu bodoh, tapi karena ketertinggalan itu telah begitu jauh. Jadi, dalam ketertinggalan yang dramatis semacam itu, sungguh tak masuk akal jika sekolah masih memelihara program yang kontra produktif.

Kepada sekolah kita percayakan nasib anak-anak dengan taruhan apa saja. Adalah menganggetkan jika mereka ternyata melah menjadi jahat diam-diam. 

 

About royani

You could know everything about me in my linkedin page. I've put it in the sidebar beside. So gladly that you arrive in here. Hopefully that you will re-visit in other chance.
This entry was posted in artikel, refleksi and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s