Manusia Normal … (bagian 1)

Andai aku masih punya waktu, pasti akan kulakukan ini itu,” janjiku pada diri sendiri. Tetapi, ketika kesempatan itu datang, rasanya banyak hal lain, yang tadinya tidak penting, menjadi penting dan mendesak. Yah, begitulah kira-kira. Maka, jika memang aku pernah gagal, rasanya sudah mulai keikhlasan diri ini untuk menerima segala rasa kegagalan itu membesar. Sampai saat ini pun, aku tetap merasa, segala apa yang kuperoleh dari hidup banyak disebabkan oleh factor keberuntungan. Tetapi memang begitulah hidup. Tuhan sudah Maha Mengatur segala sebab. Upaya manusia bolehlah hanya sedikit saja, tetapi jika Dia Menghendaki, bahkan gunungpun bisa ia gerakkan. Saya jadi ingat ketika  seorang Prie GS pun berkata : Cuma hanya sekedar menggerakkan tangan saja, maka Bus yang besar itu akan berhenti. Dari sini, aku jadi tidak berhenti bertanya-tanya tentang bagaimana kejadian kerumitan hidup seorang manusia itu digariskan oleh Tuhan. Maka, kadang patutlah kita merasa iri hati pada orang lain. Namun, begitulah Tuhan Bekerja, Dia tidak akan menjudge kita dengan keadaan kita di dunia, karena semuanya tak lebih hanya sekedar PEMBERIAN. Proses dan pilihan hiduplah yang akan Dia nilai.

Rasanya tak ada juga yang namanya manusia KONSISTEN di segala waktu. Manusia bukan ROBOT. Tapi, segi konsistensi itu bisalah dilihat dari segi differensial. Tarik garis lurus dari waktu ke waktu, bagaimana kecenderungannya. Jika ia turun, maka kita gak konsisten. Jika naik, berarti konsisten. Gampang saja kan, jika kita ingin menguji diri kita konsisten atau tidak. Liatlah hari, minggu, atau bulan kemarin. Apakah ada sesuatu yang kita hasilkan? Baik itu dari segi pemikiran, barang yang riil, Kalo memang kita yang dulunya gak ngerti apa-apa, kemudian sekarang bisa membaca, berarti kita punya konsistensi, paling tidak untuk tumbuh menjadi seorang pribadi. Cuma memang yang harus kita perhatikan adalah sudutnya. Kalau sudutnya terlalu datar, berarti kita tumbuhnya lambat atau tidak tumbuh sama sekali. Manusia punya limit, yaitu waktu itu sendiri. Dan, limitnya tidak sampai mencapai hingga ratusan tahun. Maka selagi masih ada kesempatan, kenapa tidak digunakan. Tetapi, itulah kondisi ideal, dimana pikiran itu tidak selalu sejalan dengan raga. Keputusan harus selalu diambil, target harus selalu dibuat dan dicapai agar kita tidak dalam posisi yang stagnan. Begitulah resep mungkin yang diterapkan oleh beberapa orang.

Hari ini adalah hari terakhir kuliah dan sekaligus pembimbingan dengan dosen yang terakhir, untuk tahun ini at least. Seperti biasa, aku selalu datang lebih awal. Menunggu-dan menunggu. Sekitar tiga gelas kopi sudah aku habiskan demi menunggu sang dosen, ditambah dengan riwa riwi gak jelas di kompleks INSA, nama sebuah institut. Sebenarnya sudah gak mood untuk datang, tapi lagi-lagi, aku bukan dalam posisi memilih. Jadi nikmati saja waktu yang ada. Pofft …! Aku berdiri di depan lab. Ber-SMS ria dengan seorang teman untuk mengusir kebosanan, sedikit curhat tentang “menunggu seorang dosen” dan akhirnya 10 menit lebih awal dari janji si dosen datang. Namanya pak Shmidt (semoga tak salah nulis namanya). Pak Shmidt adalah salah satu dosen pembimbingku. Kali ini, untuk level master aku bahkan punya tiga orang dosen pembimbing. Waw … Tentu saja dengan keahlian yang berbeda: satu ahli mekanika fluida, satu ahli tentang microbiologi (mungkin), dan satu lagi (Pak Shmidt) ini, aku consider dia mungkin ahli filtrasi, terlihat dari banyaknya buku tentang filtrasi pada rak buku di kantornya.

Kali ini aku cuma berhadapan dengan pak Shmidt karena 2 pembimbing yang lain sedang ada urusan. Dia mungkin sangat ingin bertemu denganku dihari terakhir jam kerja efektif prancis ini karena memang pada pertemuan yang lalu, ia gak datang. Jadi, mungkin ia juga ingin tahu bagaimana progressku selama ini. Gugup pastinya, dua pertemuan yang lalu aku habiskan dengan presentasi. Sekarang aku gak bikin slide untuk presentasi, cuma bermodalkan print-printan proposal yang formatnya gak karuan. By the way,  salah satu resep jitu saat menghadapi dosen pembimbing adalah rasa antusias. Rasa antusias akan membuka pikiran yang tersumbat. Dan, voila, meskipun dengan penjelasan yang blepotan semua berjalan dengan lancar. Segala pertanyaan kujawab cepat. Konyol juga kalau ku flash back kembali. Tapi intinya, jika memang kita bersemangat, orang lain akan bersemangat pula. Aku tak inginkan diskusi berjalan alot dan buntu. Itu adalah salah satu hal yang paling aku takuti. That’s my trick, yang aku jalankan secara tak sadar.

Salah satu mungkin yang membuat betah saat di kantor dosen adalah saat melihat foto-foto keluarganya (mungkin). Dimana-mana memang seperti itu, di Indonesia, maupun di Prancis. Melihat foto putra-putri mereka saat mereka masih bayi, kadang juga gambar crayon mereka. Wah kaya gini toh keluarganya. Ternyata mereka juga manusia normal seperti kita, bukan dewa yang harus ditakuti. Hehe … .  Sempat kulihat juga, saat pertemuan dengan Pak Shmidt, sebuah gambar dengan tulisan “Papa, kamu adalah champion”. Sebuah gambar sederhana tapi mungkin sangat berarti sehingga ditempel di kantor. Waw … Betapa orang perancis sangat sayang pada keluarga dan hal tersebut memberi motivasi untuk terus giat bekerja.

Setelah diskusi tentang thesis master, seperti biasa dilanjutkan dengan: bagaimana kuliahmu? Bahasamu lumayan meningkat ya? Liburan mau ke mana? Mau lanjut ambil S3 dsb. Mungkin saat-saat untuk mencoba sedikit klise bagiku, untuk sedikit jual mahal dengan mengatakan semuanya lancar dan saya masih belum memutuskan untuk mengambil S3, sesuatu yang seperti itu.

Barangkali manusia normal adalah manusia yang tak pernah bisa sempurna, seberapapun kita mencoba. Sama seperti betapapun kita mencoba untuk menjadi konsisten di SETIAP WAKTU. Tak usah begitu memperdulikan bagaimana pencapaian orang lain. Toh juga, kondisi yang diberikan oleh Tuhan tidaklah sama bagi setiap orang. Selalu berusaha menerima apa yang telah digariskan Tuhan kepada kita. Nikmati segala kekurangan sebagai bagian bahwa kita masihlah NORMAL.

IMG_4224

At least, …

About royani

You could know everything about me in my linkedin page. I've put it in the sidebar beside. So gladly that you arrive in here. Hopefully that you will re-visit in other chance.
This entry was posted in artikel, refleksi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s