Intersection in Believing

Senang sekali rasanya bisa menulis kembali di blog ini setelah berkali-kali terhalangi oleh perasaan minder karena telah lama sekali tak menulis. Begitulah hidup, entah mengapa terkadang sangat sulit sekali untuk memulai sesuatu setelah vakum beberapa saat. Meskipun demikian, jika memang sesuatu hal tersebut adalah merupakan passion kita, suatu saat pasti kita akan kembali untuk melakukan hal tersebut. Manusia memang diberi otak dengan berbagai kelebihan dan juga kekurangannya. Hingga saat ini, manusia pun tidak cukup pengetahuan mengenai proses apa yang terjadi di otak. Mungkin, suatu saat ketika teknologi telah mendukung untuk bisa dilakukan sebuah penelitian secara holistic mengenai sebab dan implikasi yang kaitannya mengenai proses kerja otak, manusia mungkin bisa dimodelkan menjadi sebuah makhluk yang memiliki ciri khas tertentu.

Kali ini saya akan menyajikan sebuah tulisan kecil karangan dari Jaya Suprana yang saya kutip dari pembukaan sebuah buku karangan Arvan Pradiansyah yang berjudul “You are not Alone”. Berisi mengenai sebuah logika dimana kita selayaknya harus meyakini adanya Dzat yang Maha Kuasa disebabkan logika itulah yang nantinya menghantarkan kita menuju kebahagiaan. Good Reading.

Kata Pembingung

ImagePercaya adalah salah satu bentuk pikiran atau perasaan yang serupa tapi tak sama dengan apa yang disebut bahagia. Untuk merasa percaya atau bahagia, otak manusia perlu berpikir bahwa dirinya merasa percaya atau merasa bahagia. Dalam sejarah perkembangan peradaban dan kebudayaan berseberangan paham religious timbul sebuah paham yang disebut atheis yakni sebuah paham tidak percaya Tuhan. Masalahnya menjadi membingungkan sebab rasa tidak percaya Tuhan pada hakikatnya juga merupakan suatru bentuk pikiran atau perasaan yang sebenarnya percaya bahkan sangat percaya untuk tidak percaya kepada Tuhan.

Maka pada hakikatnya seorang yang merasa tidak percaya Tuhan sebenarnya merasa percaya bahwa dirinya tidak percaya kepada sesuatu yang disebut Tuhan itu padahal rasa tidak percaya itu sendiri sebenarnya juga merupakan sesuatu. Maka secara logika berarti sesuatu itu sama dengan tidak percaya Tuhan maka istilah tidak percaya Tuhan bisa diganti dengan istilah sesuatu maka berarti percaya tidak percaya sesuatu itu sebenarnya merupakan suatu bentuk kepercayan juga. Berarti manusia memang mustahil hidup tanpa percaya sesuatu. Maka ketimbang otak kita terpelintir logika yang makan logika, lebih baik kita percaya saja kepada Tuhan atau entah apa pun manusia sibuk menyebutnya, sebab rasa percaya itu sangat bahkan mutlak perlu bagi manusia untuk mampu maupun merasa bahagia. Tanpa percaya mustahil manusia bisa bersikap dan berperilaku di tengah berbagai bentuk lingkungan hidupnya seperti manusia mustahil duduk di kursi apabila tidak percaya sang kursi mampu menahan beban berat badannyaatau manusia mustahil bernapas apabila tidak percaya bahwa udara yang dihirupnya tidak beracun yang bisa membahayakan bahkan membinasakan dirinya. Maka, Percayalah !!! 

About royani

You could know everything about me in my linkedin page. I've put it in the sidebar beside. So gladly that you arrive in here. Hopefully that you will re-visit in other chance.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s