Kisah Pi Patel dan Voyage Imajiner-nya

Life of Pi, kisah yang akan membuat orang percaya pada Tuhan. Begitulah tagline yang tertulis di bagian belakang sampul novel tersebut. “Paling-paling sebuah kisah klasik dengan pattern yang sudah-sudah,” kataku dalam hati. “Sebuah kisah seorang anak yang melakukan perjalanan via kapal. Mungkin saja si anak ini adalah anak yang sombong bin ateis. Oleh karena itu, dengan kuasa-Nya, Tuhan mengkaramkan kapal si anak ini. Ia terombang-ambing di tengah samudra luas. Kali ini agar lebih menarik, ditemani oleh harimau buas. Segala kejadian yang diluar akal sehat ini tak pernah dibayangkan oleh si anak sebelumnya. Dari situ timbul kepercayaannya pada kekuatan yang Maha Besar melebihi dari apa yang pernah ia bayangkan. Ia akhirnya memutuskan untuk meninggalkan kesombongannya dan mulai berpaling pada Tuhan. Sebagai epilog, ia berhasil bertahan hidup dan bisa mencium daratan kembali.” TAMAT. Itulah gambaran pertama kali ketika aku coba menerka-nerka isi novel tersebut. By the way, akhirnya kuputuskan untuk mencuplik novel ini yang kala itu masih terpampang di etalasi bagian “terbitan baru”.

Beberapa hari kemudian …

Sedikit cacatan: satu hal yang mungkin agak mengecewakan untuk novel terjemahan adalah terjemahannya yang seringkali kaku. Hal yang sama juga kutemui ketika membeli novel terjemahan lain, seperti petualangan Huck Finn. Mungkin sebagai saran bagi penerjemah Indonesia, jangan langsung menerjemahkan novel dari bahasa aslinya. Penyusunan bahasa merupakan salah satu bentuk estetika dari sebuah novel. Jadi ketika langsung diterjemahkan menurut bahasa aslinya dengan mengabaikan pilihan kata, hasilnya pasti kurang bagus.

Dari segi isi, novel ini berhasil menyajikan hal yang cukup berbeda dari apa yang aku bayangkan sebelumnya. Novel “Life of Pi” mengeksploitasi sebuah drama pergulatan manusia yang dikemas dengan begitu banyak metafora. Ia menghadirkan sebuah panggung rekaan sebuah episode kehidupan yang diambilkan dari sebuah peristiwa yang cukup menyeramkan.

Novel ini mengisahkan seorang penulis yang mendokumentasikan kisah kapal karam seorang manusia bernama Pi. Tentu saja, akan ada dua sisi yang ditampakkan dalam novel ini: dari sisi penulis, lewat tulisan bergaya miring dan dari sisi karakter utama, yaitu Pi sendiri, lewat penulisan normal. Tentu saja isi akan lebih banyak berfokus pada Pi. Lewat  cara tersebut, penulis ingin meyakinkan pembacanya bahwa tokoh Pi ini adalah tokoh yang eksis di alam nyata, padahal itu hanya rekaan. Tentu saja ini adalah cara yang cukup unik untuk penulisan novel yang belum pernah aku temukan selama ini.

Lantas, darimanakah novel ini bisa membuat kita percaya terhadap Tuhan?

Inilah yang menarik. Dan, hanya akan anda temukan di bab akhir cerita. Bocorannya adalah kisah tentang pulau karnivora. Sebelum Pi berhasil diselamatkan, ia terlebih dahulu mendarat di sebuah pulau aneh pemakan makhluk hidup. Di sinilah para pembaca akan mulai bertanya-tanya akan eksistensi dari pulau karnivora. Dari awal mula, penulis ingin kita percaya akan sosok Pi yang nyata – seperti diceritakan, ia tinggal di Canada sekarang, bersama keluarga, telah dikaruniai anak juga. Ia kemudian menceritakan kisah kapal karamnya kepada seorang penulis. Bagaimana ia terombang ombing di samudra Pasifik, satu sekoci dengan harimau bengal dewasa. Kita masih percaya tersebut karena meskipun kesempatannya sedikit, bisa saja hal tersebut terjadi. Secara logika masih masuk akal. Namun, ketika menginjak cerita tentang Pulau Pemakan Daging, dari sinilah keyakinan kita akan kebenaran kisah Pi diuji.

Faktanya, belum pernah ditemukan sebuah daratan pemakan makhluk hidup dalam sejarah umat manusia. Banyak yang pada akhirnya mulai tidak percaya akan kisah yang dialami oleh Pi. Kita yang pada mulanya digiring untuk emmpercayai cerita Pi dengan model penulisan dua sisi, sisi penulis dan karakter utama, tiba-tiba disajikan di depan mata kita sebuah fenomena ganjil.

Akhirnya, banyak pertanyaan bertebaran di internet, seolah-olah ingin mencari kebenaran tentang adanya keberadaan Pulau Karnivora.

Namun itulah tujuan si penulis.

Ia tidak ingin membingungkan atau membohongi pembaca. Namun, justru ia ingin mencerahkan hati kita. Masihkah kita percaya pada hal-hal yang tidak masuk secara logika? Dengan hal tersebut, jika kita mau bertanya lebih jauh ke dalam diri kita sendiri: masihkah kita percaya adanya Tuhan, meskipun tidak pernah dalam sejarah, manusia bisa membuktikan eksistensinya ?

Itulah tujuan sebenarnya dari cerita pulau karnivora. Untuk sekedar menguji keyakinan kita pada hal-hal yang di luar nalar kita sebagai manusia. Mungkin hal ini relative sama dengan cerita Isro’ Mikroj nabi Muhammad dalam ajaran Islam. Bayangkan saja, diceritakan ba/hwa nabi Muhammad naik kendaraan dengan kecepatan secepat petir. Mana mungkin? Sampai hari ini saja, tidak ada satupun pesawat yang sanggup melampaui kecepatan petir. Masihkah kita mau percaya

Jadi, inilah voyage imajiner dari kisah Pi yang ingin membuat kita percaya terhadap adanya Tuhan lewat cara yang elegan – sesuai dengan taglinenya. Sungguh sebuah karya yang epic bagi saya karena melebihi ekspektasi dan mengajak kita senantiasa untuk berpikir.

Very Recommended Book

About royani

You could know everything about me in my linkedin page. I've put it in the sidebar beside. So gladly that you arrive in here. Hopefully that you will re-visit in other chance.
This entry was posted in artikel, refleksi and tagged , . Bookmark the permalink.

One Response to Kisah Pi Patel dan Voyage Imajiner-nya

  1. Pingback: Sensasi dari Rasa Takut | CREATIVE ENDLESS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s