Sensasi dari Rasa Takut

Lanjutan dari tulisan sebelumnya : Mengidentifikasi Fresh Graduate Syndrome

Tulisan kali ini sengaja mengetengahkan penafsiran seseorang terhadap rasa takut.

takut

takut

Aku ingin mengutarakan pendapatku mengenai rasa takut. Rasa takut adalah satu-satunya lawan sejati kehidupan. Hanya rasa takut yang dapat mengalahkan kehidupan. Dia musuh yang pintar dan licik. Aku tahu betul itu. Rasa takut sama sekali tak kenal malu, tak peduli hukum atau aturan apapun, dan tak kenal ampun. Dengan mudah ia bisa menemukan kelemahan kita yang utama, dan menyerangnya. Dan yang mula-mula diserang selalu pikiran kita. Saat kita sedang merasa tenang, yakin, bahagia, rasa takut itu menyelinap bagai mata-mata ke dalam pikiran kita, menyamar dalam selubung keraguan tipis. Pikiran kita berusaha menolak keraguan ini dengan memunculkan rasa tak percaya. Tapi dengan mudah keraguan akhirnya menang juga. Kita menjadi cemas. Tapi masih ada akal sehat untuk menolong kita. Kita pun kembali tenang, sebab akal sehat ini dilengkapi dengan teknologi senjata-senjata paling mutakhir. Tapi sungguh mengherankan, meski telah menggunakan taktik-taktik yang lebih hebat dan berhasil memperoleh sejumlah kemenangan mutlak, toh akal sehat akhirnya kalah juga. Kita menjadi lemah, bimbang. Kecemasan pun berubah menjadi rasa takut.

Berikutnya, rasa takut ini menyerangraga kita sepenuhnya. Raga yang sudah sedari tadi menyadari ada sesuatu yang sangat tidak beres. Paru-paru kita sudah terbang seperti burung, dan isi perut kita serasa sudah merayap pergi seperti ular. Sekarang lidah kita mati kejang seperti opossum, sementara rahang kita mulai gemetaran. Telinga menjadi tuli. Otot-otot kita gemetar seperti orang terkena malaria, dan kedua lutut kita saling berantuk seperti sedang berdansa. Jantung berdentam-dentam keras, sementara lubang anus kita terlalu kendur. Begitu pula halnya bagian-bagian tubuh yang lain. Keseluruhan tubuh kita luluh lantak dengancaranya masing-masing. Hanya mata kita yang masih berfungsi dengan baik. Mata selalu menaruh perhatian semestinya pada rasa takut.

Dengan cepat pun kita membuat keputusan tergesa-gesa. Kita sudah lupa pada factor-faktor yang semestinya menjadi andalan terakhir, yakni harapan dan keyakinan. Nah, kita pun kalah. Rasa takut, yang sebenarnya perasaan, berhasil menundukkan kita.

Hal ini sulit sekali dijelaskan dengan kata-kata. Sebab rasa takut itu- rasa takut yang sesungguhnya, yang mengguncang kita sampai ke ulu hati, yang kita rasakan saat dihadapkan pada akhir hidup kita-akan bersarang dalam ingatan-seperti gangrene. Dia membuat lain-lainnya menjadi busuk, termasuk kata-kata yang ingin kita gunakan untuk menggambarkannya. Jadi, kita mesti bersusah payah kalau hendak menggambarkan rasa takut itu. Kita mesti berjuang keras menyuarakan kata-kata itu. Sebab jika tidak, jika rasa takut itu menjadi kegelapan tanpa kata yang berusaha kita hindari, atau bahkan berhasil kita lupakan, berarti kita membuka diri terhadap lebih banyak serangan rasa takut, sebab kita tak pernah benar-benar melawan musuh yang telah mengalahkan kita itu.

Disadur dari: LIFE OF PI, Chapter 56, page 234, EDISI BAHASA INDONESIA

Berani adalah perlawanan terhadap rasa takut, penguasaan atas ketakutan—bukan peniadaan rasa takut.

Mark Twain (1835–1910), penulis humor dan satir asal Amerika Serikat

About royani

You could know everything about me in my linkedin page. I've put it in the sidebar beside. So gladly that you arrive in here. Hopefully that you will re-visit in other chance.
This entry was posted in artikel, refleksi and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s