Fresh Graduate Syndrome Part 3, Finale: Melawan Rasa Takut

Fresh graduate syndrome. Istilah ini pertama dikemukakan oleh teman saya sesama alumni prancis. Apa boleh buat. Tulisan memang tak jauh dari apa yang dialami oleh penulisnya. Begitupun topic ini saya buat sekenanya. Seolah saya ingin mengajak para pembaca tulisan saya untuk ikut mengalami apa yang saya rasakan. Kehampaan, kekosongan, keinginan untuk terbebas. Inilah. Ketika masuk ke dalam ranah produk seseorang, anda akan diharuskan untuk turut mengalami apa yang waktu itu dialaminya ketika menulis. Tak jemu-jemu saya katakan: orang bisa dikenal dari apa yang dihasilkannya.

34Melawan rasa takut. Saya akan berbicara mengenai hal yang general saja dari rasa takut ini. Saya menghormati para pembaca saya dan tidak ingin menyiksanya dengan banyak kata. Lagipula siapa ingin membaca tulisan yang terlalu banyak di sebuah blog.

“Betapa sederhananya hidup ini sesungguhnya. Yang pelik cuma liku dan tafsirannya.”

 Pangemanann dalam “Rumah Kaca”

Barang kali saya harus setuju dengan apa yang dikatakan oleh Pangemanann. Berat atau tidaknya sesuatu itu sebenarnya terletak pada sudut pandang mana kita melihatnya dan derajat keterlibatan kita. Ingat, kalau tidak salah 3% saja dari otak kita yang bisa dipergunakan secara sadar. Lalu sisanya?

Tentu saja digunakan. Itulah yang membentuk karakter kita. Bagaimana orang bisa menderita penyakit psikologis, kompleks, paranoid dan sebagainya. Barang kali itu merupakan akibat dari alam bawah sadar kita. Bagian otak yang lain. Kita tak pernah tahu apa yang sebenarnya kita inginkan. Kadang kala pula, sering kali kita melakukan sesuatu yang diluar rasional. Jangan kira pria lebih rasional daripada wanita. Belum tentu. Semua hal tergantung dari pengalaman, kedewasaan dan tentu saja kondisi. Pengalaman butuh kedewasaan karena kedewasaan adalah kunci untuk mengambil keputusan secara bijaksana. Kedua hal tersebut, juga butuh kondisi. Tak jarang dalam kondisi tertekan, orang bisa salah ambil keputusan.

Baik untuk rasa takut, jika tiga hal tersebut – pengalaman, kedewasaan dan kondisi – bisa kita pegang tentulah rasa takut bisa kita lawan. Rasa takut adalah sebuah rasa yang abstrak, tak bisa kita raba. Ia sama dengan perasaan marah, cemas, senang, meskipun dalam arah yang berbeda. Produk dari alam bawah sadar kita. Membuktikan bahwa kita adalah juga manusia.

Jika kita masih belum mempunyai kemampuan untuk mengendalikan rasa takut:

Satu hal penting yang harus kita ingat bahwa tingkat emosi seseorang sebenarnya menunjukkan tingkat kedekatan dirinya terhadap sesuatu tersebut. Disini, rasa takut merupakan juga penunjukan bahwa kita memiliki kedekatan dengan sesuatu. Contohnya: saking dekatnya, kita merasakan ketakutan jika ia tidak bisa kita dapatkan.  Kedekatan atau Cinta memang terkadang bisa membuat orang menjadi lemah. Maka jika sudah begini, selayaknya kita ubah tafsiran kita terhadap sesuatu tersebut.

Jika kaitannya dengan hari esok. Kita tak pernah tahu hari esok. Lulus dari perguruan tinggi merupakan sebuah awal yang baru untuk berkarya. Terjun ke masyarakat. Mengembangkan passion. Takut tentu saja ada. Saya sendiri sangat menyayangkan system di negeri ini yang begitu rupa. Orang berperilaku menurut lingkungan. Namun, jangan salah. Rasa takut bukan untuk mendikte kita dalam hidup. Tafsirannya harus diubah. Dalam hidup, halangan akan selalu ada. Namun itulah yang akan meningkatkan kualitas diri kita. Hidup ini sudah menyajikan begitu banyak keajaiban yang tak kita sangka-sangka. Barang kali, hari ini akan datang jawaban email bahwa kita telah diterima di perusahaan yang telah kita idamkan sebelumnya. Motivasi harus selalu diperbaharui. Dan, tentu saja semua takkan terjadi tanpa adanya usaha. Itulah pembuka dari segala pengharapan dan nasib baik. Maka untuk mengalahkan segala rasa takut, marilah kita kutip kata dari Mas Minke berikut ini

Mulailah …. maka engkau akan mendapatkan jawaban – Minke dalam ” Jejak langkah”

About royani

You could know everything about me in my linkedin page. I've put it in the sidebar beside. So gladly that you arrive in here. Hopefully that you will re-visit in other chance.
This entry was posted in artikel, refleksi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s