Salam dari Jepang

Pamflet Radio Jepang NHK World

Pamflet Radio Jepang NHK World

Autumn flowers

Autumn flowers

The Children of Kabuki

The Children of Kabuki

Our Favorite tree

Our Favorite tree

Street Lamps at Daybreak

Street Lamps at Daybreak

A cold Winter's Morning

A cold Winter’s Morning

Family

Family

Candle-lit Night

Candle-lit Night

Lest's Go!

Lest’s Go!

Old School Tree

Old School Tree

Tranquility

Tranquility

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Siapa sih yang tak kenal Jepang? Sungguh indah nian negara ini. Meskipun pernah menjajah negara kita dengan sangat kejam, toh rasanya anggapan orang Indonesia tentang Jepang di masa sekarang ini lebih menunjukkan rasa yang positif. Kali ini memang saya tidak ingin membahas sebuah refleksi pemikiran saya seperti yang sudah-sudah. Sejenak ingin napak tilas tentang perjalanan saya sebagai seorang freelance salah satu perusahaan broadcasting terbesar di Jepang, NHK World. Foto-foto diatas merupakan postcard yang dikirimkan kepada saya sebagai sebuah wujud tanda terima kasih atas kontribusi saya pada perusahaan tersebut. Tentu saja, selain itu ada remunerasi berupa sejumlah uang yang selama ini bisa dikatakan sangat membantu saya di masa-masa sulit di kala menjadi seorang mahasiswa. Hehe …

Di kala masih menjadi mahasiswa (meskipun sampai sekarang pun masih jadi mahasiswa), ada satu prinsip hidup yang saya pegang: saya tak ingin mencari uang dengan cara ngelesi. Saya berpandangan bahwa ilmu harus diberikan secara gratis. Agak naif memang. Idealisme picisan seorang manusia yang baru mengenal “seluk beluk” dunia. Belum mengenal bahwa segala sesuatu di dunia ini bisa ada karena memang ada kesempatan yang mengijinkannya untuk tumbuh. supply and demand. 

Malu pada orang tua jika masih minta uang jajan, ditambah dengan uang beasiswa yang pas-pasan, mendorong saya untuk segera mencari pekerjaan. Saya yang cenderung diam, passif karena merasa pada zona nyaman, tiba-tiba berusaha membabi buta untuk mencari tambahan uang jajan. Yah, rupa-rupanya Tuhan masih mendengar do’a saya. In the end, akhirnya diterimalah saya menjadi salah satu “program monitor” untuk program radio di perusahaan tersebut. Meskipun pendapatan tak seberapa, tetapi saya cukup menyenangi pekerjaan ini. Disamping tak melanggar prinsip yang telah saya tetapkan sebelumnya, saya juga menyenangi hal-hal yang berbau Jepang. Tuhan memang bekerja dengan caranya yang misterius.

Lain daripada hal tersebut, rasa-rasanya kita harus berusaha keras untuk menemukan passion kita dalam hidup ini. Sesuatu hal yang membuat kita senang, meskipun hanya dengan memikirkannya, apalagi dikerjakan. Sebab banyak, di dunia ini segala sesuatunya dinilai hanya berdasarkan mata uang. Ada seminar: Beli property tanpa uang dan utang. Saya pikir: Ada-ada saja,  Ada statement juga yang menyatakan demikian: Kerja jadi tukang soto pinggir jalan, Omset sekitar 13 juta sebulan. Dengan marjin sekian prosen, bisa untung sekitar 5 juta sebulan. Kemudian, si penulis statement melempar pertanyaan bernada sinis pada lulusan teknik fresh graduate:”Mahasiswa fresh graduate? ”
Sang penulis statement tahu kalau gaji seorang mahasiswa fresh graduate tidak akan bisa bisa mengalahkan gaji seorang penjual soto, yang Notabene-berpendidikan lebih rendah. Mungkin jika diteruskan, penulis statement ini akan bertanya lagi: “Lantas, buat apa sekolah tinggi-tinggi? ”

Kebanyakan memang orang menaruh perhatian pada dirinya sendiri. Personal interest. Tak ada yang tidak, apalagi bagi seorang pemimpin. Tolstoy dalam opusnya “War and Peace” pun berkata bahwa hanya orang-orang bawahan, yang tidak memiliki kekuasaan, yang tidak memiliki peran penting dalam sebuah perang, yang berpikir tentang “patriotisme dan nasionalisme”. Sementara, mereka para pemimpin yang memliki peran dalam sebuah perang, sebenarnya hanya bertindak sesuai dengan kepentingannya masing-masing. Entah pernyataan Tolstoy tersebut benar atau salah, anda bisa pikirkan sendiri. (Lebih lanjut anda bisa baca “War and Peace”, buku cerita tebal yang tidak ingin disebut Tolstoy sebagai novel, pada jilid tiga, buku ke-empat, bab ke-satu)

Satu hal penting yang harus kita pegang adalah jangan terima mentah-mentah segala informasi yang anda baca. Begitupun dalam tulisan dalam blog saya ini. Karena, seperti saya jelaskan bahwa tindakan yang dilakukan orang tak bisa lepas dari personal interestnya masing-masing.

Ringkasnya, tetapkan tujuan anda dikala berurusan dengan sesuatu hal. Entah itu berdiskusi, menulis, mencari informasi dsb. Sebab kebanyakan, orang hanya ingin mendengar apa yang ingin ia dengar, melihat apa yang ingin dia lihat. Sehingga begitu mudahnya kita akan menjadi kehilangan prinsip dalam hidup ini.

Tentu saja, tetapkan juga saat-saat dimana kita bisa berbagi waktu dengan orang di sekitar kita.

Salam akhir pekan

About royani

You could know everything about me in my linkedin page. I've put it in the sidebar beside. So gladly that you arrive in here. Hopefully that you will re-visit in other chance.
This entry was posted in artikel, refleksi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s