Dari Hari Ke Hari (au Jour, le Jour)

Manusia harus siap menjadi dewasa, di dalam kegembiraan maupun di dalam kesedihan. Banyak orang menjadi dewasa ketika susah, menjadi hebat kalau menderita, tapi rapuh begitu dia bahagia. … Emha Ainun Nadjib

dali-persistance-memoireBerita bagus – meskipun sebenarnya rutinitas belaka. Tiap enam minggu berjalan, majikanku memperbolehkan ku untuk tidak bekerja selama satu minggu. Ini sebagai ganti atas hari minggu yang hilang selama enam minggu berturut-turut harus bekerja. Jadi bukan suatu kekhususan tertentu. Tentu saja, hari libur tersebut begitu dinanti-nantikan semua pekerja. Tiket dan uang perjalanan menjadi tanggungan perusahaan.

Hari yang dinanti telah tiba. Kesempatan seperti itu selalu kupergunakan untuk pulang ke Surabaya.Tengah hari aku sudah pulang dari kantor. Matahari tidak kelihatan karena tertutup awan. Menjelang musim hujan beginilah selalu keadaannya. Meskipun tak ada sinar mentari, badan begitu cepat berkeringat. Peluh turut membasahi wajah karena sirkulasi udara berhenti. Hampir pasti tak ada angin yang berhembus. Rasanya pengap. Tak ada debu yang beterbangan seperti biasanya. Dunia seolah berhenti.

Tiga jam lamanya perjalanan dari Bojonegoro menuju Surabaya. Jalanan nyaris lengang, kecuali ketika memasuki kota Surabaya. Serentak berubah menjadi adu rongrongan mesin mencari jalannya sendiri-sendiri. Arus tercepat menuju rumah ternyata dialihkan. Ini tradisi untuk mengurai kemacetan ala polisi sini. Hanya bisa melenguh karena capek setelah tiga jam di atas motor. Berkelok-kelok di antara kendaraan roda empat, nyaris membuatku sejenak melupakan kemacetan yang kulalui. Akhirnya tiba juga di rumah. Menyalami orang tua, makan, terus kemudian tidur hingga esok pagi menjelang.

Setelah berada enam minggu di hotel –perusahaan menyediakan hotel sebagai tempat menginap, inilah hari pertama aku terbebas dari pikiran. Bahwa besok aku harus bangun pagi untuk bekerja. Namun, tubuh ini seolah merasa asing dengan pikiran itu dan tetap saja aku harus terbangun pada saat yang sama ketika masih berada di hotel. Aku sadar hari ini adalah hari yang berbeda. Namun, aku tetap memikirkan bahwa hari ini aku tidak akan bertemu dengan teman sejawatku di kantor. Dan, itu terkadang membuatku sedih.

Manusia akan selalu mengalami hal-hal asing dalam kehidupannya. Namun, itu hanya karena ia belum cukup punya kebiasaan untuk itu. Sama seperti ketika orang pertama kali meninggalkan rumah. Di hari-hari pertama, di tempat tinggalnya yang baru, ia pasti akan merasa sedih. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, akan banyak hal baru yang ia pelajari. Jarang sekali orang yang menyesali keputusannya untuk pindah. Dan, sekali lagi, ia akan menangis lagi ketika ia harus pindah dari tempat barunya tersebut.

Saya mengira bahwa kita harus mengakrabi keasingan itu. Manusia sudah ditakdirkan untuk lahir secara sendirian, dan matipun dalam keadaan sendirian. Jadi, sebenarnya kita sudah asing diantara manusia yang lainnya. Bahkan, seringkali kita juga kurang mengenal diri kita sendiri. Dalam kata lain, asing bagi dirinya sendiri. Misalkan, kadangkala, kita tidak bisa berhenti untuk memikirkan orang lain. Kita tidak tahu apakah itu perasaan cinta. Sebab, jika dibalik lewat pertanyaan kenapa kita mencintainya, semuanya tidak memiliki dasar yang jelas. Bukan atas paras cantiknya, bukan atas sikapnya. Cuma perasaan itu yang datang begitu saja, bagai air yang menelisik di antara batu-batu untuk mengisi ruang kosong diantaranya. Agar ia bisa terus mengalir. Sebab dengan mengalir, air itu tidak menjadi kotor.

Kita sering kagum atas perilaku seseorang. Namun, kadangkala kita enggan berkawan dengan orang itu meskipun ia adalah orang yang baik dimata kita. Dunia ini memang penuh dengan ketidakacuhan yang lembut yang kadangkala membuat hubungan antar manusia menjadi unik. Atau, memang nature manusia memang seperti itu. Rasa keasingan mungkin juga adalah sebuah cara untuk membuktikan bahwa manusia benar-benar hidup/eksis. Bahwa dunia akan selalu tetap sama, tetapi dialah yang membuat dunia ini berbeda. How to express, how to feel, … . Tiap orang pasti punya penafsiran yang berbeda akan sesuatu.

Mungkin juga manusia menjalani kehidupan sejatinya sudah dalam keadaan tersesat di antara milyaran manusia yang hidup di bumi ini. Menjadikannya seperti debu di pasir Sahara. Namun, dalam keadaan yang tidak disadarinya.

Begitu banyak hal yang asing disekitar kita, tetapi jarang kita memberikan second thought jika tidak menyangkut diri kita. Perang masih terjadi saat ini, dan setiap hari pasti ada saja orang yang mati. Namun, perasaan melankolis dan kehilangan hanya akan ada jika kita sendiri yang mengalaminya. Begitulah adanya.

Segala sesuatu mengalir begitu adanya. Masih banyak yang belum kita kenal dalam hidup. Keasingan kita dalam memahami berbagai macam hal, bahkan diri sendiri adalah salah satu ketidaksempurnaan dalam hidup. Namun, tak perlulah kita merasa khawatir terhadap hal tersebut. Manusia sudah akrab dengan hal tersebut bahkan sejak berabad-abad yang lalu.

Dengannya, kita bisa belajar suatu hal yang baru sehingga hidup kita menjadi lebih berarti dari hari ke hari. Bayangkan dunia tanpa rasa asing, tidak akan mungkin peradaban manusia bisa berkembang hingga menjadi seperti sekarang ini. Semuanya hanya perlu sedikit olahan yang tepat.

About royani

You could know everything about me in my linkedin page. I've put it in the sidebar beside. So gladly that you arrive in here. Hopefully that you will re-visit in other chance.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s