La Ubali –Aku tidak Peduli

“Pada akhirnya, tiap manusia hanya akan mengalami kekalahan. Pilihannya hanya terletak pada bagaimana cara kita kalah”. “Ernest Hemingway dalam Haruki Murakami– After the Quake”

IMG_5573Kamis pagi. Sudah waktunya pergi kembali ke Surabaya. Enam minggu berlalu dengan sangat berat. Matahari telah muncul di ufuk timur disertai gumpalan awan besar. Jenis awan itu bisa jadi diasumsikan oleh beberapa orang sebagai penyebab jatuhnya salah satu pesawat di akhir tahun 2014 kemarin.

——

Namun badan ini masih enggan saja untuk bergerak. Mandi pagi sudah, tetapi rasanya berat untuk bangun dari tempat tidur demi sekedar mengambil roti pengganjal perut. Entah bagaimana caranya, saya sudah berada di tengah jalan menuju Surabaya. Hal yang paling berat dalam berkendara jarak jauh adalah tentu saja menjaga pikiran. Butuh waktu tiga jam untuk sampai ke kota kelahiran saya. Tentu saja, banyak hal yang bisa dipikirkan. Mengenai karir, wanita impian, resolusi 2015, rencana liburan dan segala tetek-bengeknya. Yah, memang kualitas saya masih jauh dari mumpuni sebagai manusia. Otak saya masih dipenuhi tentang hal keduniaan hingga sampai ke imajinasi-imajinasi terliar. Hati saya memang belum selesai. Masih terus gelisah dan mencari yang kadangkala membuat saya selalu bimbang dan ragu. Memang, betapapun jauh kita melangkah, berpetualang, tetap tidak akan bisa lepas dari diri kita sendiri. Burung yang terbangpun akan tetap mencari sebuah dahan tempat dia akan hinggap kembali.

Perjalanan kali ini ada sesuatu yang istimewa. Sweeping polisi. Tidak hanya sekali, tetapi dua kali berturut-turut. Pertama, di Gresik dan juga di kawasan jalan Demak, Surabaya. Sampailah di rumah, akhirnya saya tahu bahwa ini terkait peristiwa terorisme yang terjadi di Paris.

Pelakunya tiga orang, korbannya 12 orang meninggal yakni jurnalis sebuah majalah satir. Motifnya pelecehan suatu ikon agama.

Inilah pertama kali saya mengalami, bahwa kejadian di luar negeri juga membawa pengaruh di dalam negeri sendiri. Sudah beberapa kali saya pulang ke Surabaya, tanpa adanya sweeping. Oleh karena itu, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa ini terkait peristiwa penembakan yang terjadi di kota Paris.

Saya pernah punya ikatan emosi dengan Negara tersebut. Satu tahun saya belajar disana. Dan, saya kira orang sana memiliki pluralitas yang cukup tinggi. Segala sesuatu debatable. Tetapi, sayang sekali jika kebebasan yang diberikan digunakan secara tidak bertanggung jawab dan keblablasan.

Masalahnya bukan agama. Manusia butuh agama. Karena, nilai-nilai hakiki yang tidak akan pernah berubah sepanjang zaman. Mana ada satupun agama didunia ini yang mengajarkan tentang kejelekan?

Orang bebas memilih agamanya masing-masing sesuai dengan keyakinan. Orang Islam akan meyakini agamanya paling benar. Begitupun, orang Kristen akan juga meyakini bahwa agamanya paling benar. Dan, orang atheis akan paling yakin bahwa tidak memiliki agama adalah hal yang paling logis  di dunia ini. Inilah demokrasi. Boleh-boleh saja toh orang berpendapat.

Tuhan pun tidak akan pernah perduli kita mau menyembah dia atau tidak. Kitalah yang butuh Dia. Memangnya siapa yang menyuruh kita untuk memeluk suatu agama?

Namun, sayangnya kebebasan berpendapat itu digunakan untuk menyerang keyakinan orang lain dengan dalil itu adalah hak asasi sebagai manusia. Hak asasi macam apakah yang memperbolehkan orang menyakiti perasaan dan juga keyakinan orang lain.

Tentu saja saya tidak setuju terhadap aksi terorisme. Agama tidak pernah butuh pembelaan. Dia bukan makhluk. Kitalah yang butuh agama agar supaya bisa dibela. Agar supaya tenang dalam menjalani kehidupan.

Siapasih saya ini? Kok berusaha membela agama yang punya nilai-nilai suci dan berasal dari sumber yang Agung. Saya ini masih manusia kotor yang sering menganiaya diri sendiri. Menjalankan peran sebagai manusia pun masih terseok-seok. Kok berani-beraninya membela agama. Bagaimana kalau selama ini saya salah.

Jika benar serangan terorisme tersebut atas nama agama. Kenapa para penyerang memakai topeng untuk menyembunyikan muka mereka. Kenapa harus ditutupi? Toh, jika benar anda membela agama dan yakin, kematian di medan perang, sesuai dengan apa yang anda yakini, jaminannya adalah surga.

Sekarang logikanya dibalik, jika topeng itu digunakan untuk melindungi orang yang kalian sayangi, mirip film Batman. Kenapa juga engkau teriakkan nama Tuhan agama kalian sebelum penyerangan. Itu toh membuka identitas diri kalian sendiri secara tak langsung dan malah saudara seiman kalian yang nantinya akan menanggung juga akibat perbuatan kalian.

La —Ubali, aku tidak peduli.

Itulah sabda Rasul kita. Muhammad, menjelang sebuah peperangan antara umat Muslim melawan orang kafir.

“Asalkan Engkau tidak marah padaku, ya Allah, maka atas segala ketentuan-Mu atas nasib kami di dunia, la ubali, aku tidak peduli”

About royani

You could know everything about me in my linkedin page. I've put it in the sidebar beside. So gladly that you arrive in here. Hopefully that you will re-visit in other chance.
This entry was posted in artikel, refleksi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s