cut the cord

This what being a man is all about. How much shit from women you can take. How much pain you can take. And at the end of the day, just sleep and get up tomorrow and keep pushing and fighting. How much shit you can take. Just look at your grandfather and respect him cause he was at it the longest. (Just random comment on youtube)

Time lapse, mungkin aku bisa menyebutnya begitu. Di umur belasan, mungkin kita sibuk mencari jati diri. Tetapi, di umur dua puluh-an, ternyata siapa diri kita itu tak penting sama sekali. Barangkali terkadang hal itulah yang aku alami sendiri.

Umur duapuluh-an adalah waktu bagi seseorang untuk mulai tumbuh dan mengambil tanggung jawab atas dirinya sendiri. Di umur ini, manusia mulai dihadapkan pada realitas hidup yang sebenarnya. Bertemu dengan berbagai karakter manusia. Belajar tentang kesopanan dalam pergaulan (yang seringkali saya gagal dalam hal ini). Berusaha untuk mengendalikan ego. Dan, paling penting adalah sikap dalam menghadapi kegagalan. Yah, benar. Umur duapuluh-an adalah saat-saat kita dalam memanen kegagalan. Hal ini sangatlah wajar. Maka, jangan harap untuk bisa berbahagia di umur duapuluh-an. Sangatlah normal untuk bersikap galau.

Umur duapuluh-an adalah saat kita pertama kali mengembangkan karir dari bawah. Inilah saat kita pertama kali mengenal hitam dan putihnya kehidupan. Dengan begitu banyak idealisme yang memenuhi otak kita, banyak asa yang ingin kita raih dalam hidup. Namun, hidup ini terkadang punya arah alirannya sendiri. Kitalah yang harus bisa menyesuaikan diri. Dan, terkadang hal ini tidaklah mudah bagi beberapa orang.

Terkadang, dengan usaha keras, sesuatu itu bisa diraih. Namun, terkadang juga, ada kalanya kita harus menyerah kepada nasib. Dan, mengatakan kepada diri kita sendiri, bahwa bukan caranya yang diubah, bahwa cara pandang kita-lah yang seharusnya diubah. Ini adalah bentuk kompromi terakhir pada diri kita sendiri agar tidak terlalu lama menderita. Mungkin, hidup ini tak memberikan kita sayap untuk bisa terbang jauh mengejar harapan kita, tetapi ia sudah memberikan kaki yang kuat yang bisa kita gunakan untuk berlari.

Meskipun begitu, jangan pernah kita merasa putus asa dan diam karena takut akan kegagalan. Toh, kita masih punya waktu. Investasi terbesar kita adalah waktu. Waktu dalam artian toh otak kita masih encer. Otot masih kuat. Inilah nasehat bagi saya sendiri tentunya. Ajak hati kita untuk mau bekerjasama dan dengan sabar untuk terus bergerak. Mencari teman yang satu visi dengan kita juga tak kalah penting. Membaca buku-buku untuk mengisi otak kita. Olahraga secara teratur. Pergi ke tempat-tempat yang tak terduga.

Terkadang, kita lebih menyesali sesuatu yang tidak kita lakukan daripada sesuatu yang sudah kita lakukan.

About royani

You could know everything about me in my linkedin page. I've put it in the sidebar beside. So gladly that you arrive in here. Hopefully that you will re-visit in other chance.
This entry was posted in refleksi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s