Bazar Buku Langka

Mengisi hari dengan bekerja merupakan rutinitas saya saat ini. Pulang bekerja, melintasi perbatasan Jawa Timur dengan Jawa Tengah. Melewati sungai Bengawan Solo yang lagunya masyur itu. Suasana dalam bus jemputan masih tetap panas, penuh peluh, meskipun matahari hampir tenggelam di singgasananya. Cuma bisa memandang keluar, sebagai penyelimur suasana hati.

Ndilalah, saat itu saya melihat plank sederhana ber-embel-embel “Bazar Buku Murah”. Acaranya diselenggarakan di kantor kelurahan. Apalagi ini koq ada acara semacam ini, di sebuah tempat kecil seperti ini, meskipun bukan di tempat antah berantah. Memantapkan diri, hari Minggu saya coba menyimak Bazar buku tersebut. Hari minggu, setengah hari saja saya masuk kerja. Sorenya saya mencoba menyidak ke Bazar buku tersebut.

Murah itu relatif. Bagi saya, harga buku di Bazar tersebut normal saja. Namun, yang membuat saya bertahan lama disana adalah bahwa yang dijual adalah buku yang diluar mainstream. Artinya, belum tentu buku-buku tersebut bisa didapatkan di toko buku di kota besar, layaknya Surabaya. Beruntung sekali saya datang.

Mencoba memahami apa yang terjadi. Setelah disusur, banyak buku di tempat tersebut berasal dari satu jenis penerbit asal Jogja. Saya tidak akan menyebut kontroversial, namun lebih ke menggelitik. Buku yang ditawarkan, seperti bukunya Adolf Hitler, telaah teori Karl Marx, kajian mengenai Syeh Siti Jenuh, Tan Malaka, buku filsafah Jawa dan banyak lainnya. Ini langka.

556124_7da6ab77-e752-4ca9-94d0-644128cd0373

Ilmu Jiwa Jawa

Kenapa toko-toko besar tidak menyuplai buku seperti tersebut? Apakah isinya yang kontroversial atau takut tidak disukai pasar? Atau pemerintah takut rakyat akan terprovokasi mengenai isi buku tersebut? Apapun alasannya, kita berhak belajar apa saja.
Salah satu yang menarik hati saya adalah buku berjudul “ilmu jiwa jawa” karya Pak Suwardi. Sudah lama sekali saya tidak belajar tentang “Jawa”. Terakhir saya masih belajar Bahasa Jawa, ya zaman SD. Waktu itu Bahasa Jawa hanya dijadikan pelajaran yang dijadikan Muatan Lokal saja. Artinya, kalau saya tinggal di Jakarta, yang masyarakatnya sudah lebih heterogen, mungkin saja saya gak dapat pelajaran ini.

Sungguh tinggi sekali budaya orang jawa ini. Mulai aksaranya saja mengandung Kawruh Urip, pengetahuan tentang hidup yang lebih dalam dari pengetahuan Bangsa Barat.

Ini adalah contohnya : http://coretan-hampa.blogspot.com/2014/09/makna-huruf-hanacaraka.html

 

About royani

You could know everything about me in my linkedin page. I've put it in the sidebar beside. So gladly that you arrive in here. Hopefully that you will re-visit in other chance.
This entry was posted in cerita pendek. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s