Rabbit Hole

Tulisan ini adalah sambungan seri “realm as it is” pada edisi yang lalu.

Pada kalimat penutup edisi yang lalu, sempat saya tuliskan sebuah phrasa “serasional-rasionalnya manusia, dia punya kecenderungan untuk berpikir secara tidak rasional.”

  1. Pernahkah kita berpikir mengapa kita loyal terhadap suatu merek tertentu, misalkan kenapa kita lebih memilih produk A, bukan produk B. Pernahkah juga kita berjalan di sebuah toko jam mewah.
  2. Bagaimana bisa sales man menjual jam mewah tersebut dengan harga yang sangat tinggi, sedangkan kita tahu banyak jam-jam merk Cina dengan harga yang jauh murah dan tak kalah bagusnya. Apa rahasia mereka bisa menjual barang mewah tersebut.
  3. Pernahkah kita melihat seseorang tetap menyangkal sebuah pendapat, meskipun banyak bukti yang menjelaskan bahwa teori mereka salah.
  4. Pernahkah kita melihat begitu banyak perabotan yang ada di rumah kita sehingga membuat pandangan kita menjadi tidak enak. Kita tahu bahwa perabotan tersebut sudah tidak kita gunakan lagi, tetapi kita sulit menjelaskan kenapa kita masih menyimpannya.
  5. Pernahkah, kita menghindar untuk melakukan sesuatu dengan cara alih-alih melakukan pekerjaan lain. Misalkan, kita menolak belajar, dengan cara melakukan pekerjaan lain, misalnya bersih-bersih.
  6. Kenapa kita tidak dianjurkan untuk mengungkapkan mimpi-mimpi kita kepada orang lain.

Saya bisa mengungkapkan salah satu contoh dalam kehidupan saya dimana saya tidak bisa berpikir secara rasional, meskipun saya adalah orang yang berpendidikan. Saya meraih gelar master saya di perancis. Namun, rasanya belum bisa saya utarakan karena bersifat satu dua hal.

Segala keputusan yang kita buat, apa yang kita lakukan, semuanya tidak lepas dari investasi emosional kita terhadap sesuatu. Inilah kadang yang membuat kita tidak bisa berpikir secara benar-benar rasional. Semakin besar, investasi emosional kita terhadap sesuatu, maka akan semakin kuat atau sulit dirubah perasaan kita terhadap sesuatu tersebut. Meskipun kita tahu, bahwa bahwa sifat kita tersebut hanya akan membawa sebuah ketidakberuntungan.

Continue reading

Posted in artikel, refleksi, Uncategorized | Leave a comment

Realm as it is : bagian 1

Siang itu, telepon saya berdering. Kulihat layar bahwa yang memanggil adalah salah satu operator seluler terbesar di negeri ini. Pikiran saya melayang. Berdasar pengalaman, bahwa yang menelepon biasanya telemarketing. Sebenarnya saya malas untuk menjawab. Tetapi, apa salahnya untuk mendengarkan penawaran apa yang ingin diutarakan oleh si operator. Sebelum kujawab panggilan itu, sudah kuputuskan bahwa saya tidak akan menerima apapun penawarannya. Saya terima panggilan itu, atas dasar bahwa saya menghormati segala usaha manusia demi mencukupi kebutuhan hidup dan saya juga ingin mendapat informasi. Mudah-mudahan demikian adanya.

Syuut.  ku-slide tombol ponsel pinter dan kubuat dalam mode speaker. Suara manis operator mulai mewarnai ruangan kamarku. Akhir-akhir ini memang pengeluaran bulanan untuk seluler saya cukup meningkat. Hal ini karena modem tidak bisa dipakai. Terpaksa internet menggunakan ponsel dan otomatis ekstra biaya tambahan perbulannya.

Operator cewek tersebut menawarkan paket migrasi dari prepaid ke pasca bayar dengan nominal 300 ribu perbulan beserta benefitnya. Segera saya tolak dengan halus. Something fishy. Mungkin itulah perasaan saya meskipun cuma setitik.Dia menyerah dan saya tidak mau untuk reschedule penawaran dia lagi. Telepon putus dengan ucapan terima kasih.

Esok malamnya, kubuka internet. Ternyata, memang sedang ada promo dari operator tersebut untuk pindah dari prabayar ke pasca bayar, bahkan dengan paket mulai dari 100 ribu. Paket 100 ribu ini termasuk 4G internet sebesar 8 GB. Bandingkan jika beli paket tersebut secara prabayar, seingat saya 80 ribu cuma dapet 2GB untuk 4G. Cara migrasi ke pascabayar pun cukup sederhana, yakni tinggal mengisi form yang ada di laman internet operator tersebut.

Saya teringat kepada cewek yang menelepon saya kemarin. Kenapa dia menawarkan paket senilai 300 ribu dan tidak menyebutkan bahwa ada paket yang lain? Paket 100 ribu pun, sudah lebih dari cukup bagi saya. Internet, hanya saya pakai secara signifikan ketika di rumah saja, jika sedang tugas di field, saya sering pakai internet hotel. Operator cewek tersebut juga tidak mengatakan bahwa saya bisa migrasi dengan mengisi form di internet, tanpa harus repot mengunjungi kios operator tersebut. Entah karena durasi yang pendek atau karena dia bertujuan agar pelanggan memilih suatu jenis paket tertentu.

===

Continue reading

Posted in artikel, refleksi, Uncategorized | Leave a comment

Jalan panjang

November 2016, musim hujan malah sering terjadi. Sepanjang tahun kiranya, hujan tak pernah berhenti mengguyur negeri ini. Hujan selalu melahirkan aroma kenangan masa lalu. Dulu, masih samar teringat, belajar berlatih sepeda setelah hujan reda. Dan, banyak hal lainnya. Terdengar teriakan “kuluk-kuluk” dari para pekerja yang menginginkan hujan agar tidak cepat reda supaya mereka bisa mengaso sejenak di target pekerjaan yang tiada habisnya.

Tepat satu tahun yang lalu, Bapak juga dipanggil untuk menghadap Sang Kuasa. Tahun ini, kesedihan berganti ke lain pihak. Mulai dari politikus, mantan dosen almamater, juga Bapak dari salah seorang kawan telah dipanggil menghadapNya. Di tengah hujan konstan yang terjadi sepanjang tahun, waktu tak pernah berhenti bekerja. Waktu itu tetap berjalan, menggerogoti umur manusia yang bukan tak terbatas masanya. Empat puluh hari lagi kita akan memasuki suatu tahun yang baru. Dan, semuanya masih menjadi misteri. Makin seperti apakah kita di masa depan? Jadi yang lebih baikkah atau tetap seperti kita yang saat ini? Di negeri lain, yang antah berantah, musim gugur pun tengah beralih ke musim dingin. Jangan sampai, ia turut mendinginkan pandangan kita terhadap hidup yang masih akan terus berjalan ini.

Jalan hidup manusia itu, bagai umur itu sendiri, tidak ada yang pernah tahu. Kita hanya bisa tahu, hanya jika telah mencapai tujuannya. Dan setiap tujuan dalam hidup, merupakan sebuah langkah yang baru untuk mencapai sebuah tujuan yang lain. Jadi, jangan kita terlalu berfokus pada sebuah tujuan, fokuslah pada proses. Fokuslah pada gerakan. Karena pada “gerakan”, yang hanya akan mengarahkan kita pada tujuan. Dalam perjalanan panjang itu,  seiring gerakan kedewasaan yang terus kita kayuh, akan mendamparkan kita ke kehidupan yang lebih kaya dan kita akan menemukan sebuah tujuan dimana sebenarnya tempat kita di tengah pusaran samudera kehidupan ini.

Waktu itu pukul 08.30 pagi. Kapal ferry sudah merapat di dermaga Harbour Bay Batam. Kami hanya berdua, sama-sama tak tahu Batam. Kami berdua memutuskan untuk menyewa taksi, pergi ke Nagoya Hill Mall, meskipun hari itu masih pagi dan tidak ada mall yang buka sepagi itu. Di tengah perjalanan, kita sempat berhenti di Ramayana, untuk sekedar melihat pasar barang bekas meskipun tidak turun dari taxi. Tergoda untuk turun di tempat tersebut. Akhirnya, sampailah kita di Nagoya Hill Mall. Letaknya ternyata tidak jauh dari Harbour Bay. Mall memang belum buka, tetapi ada pemandangan yang aneh. Kami melihat banyak Ibu-Ibu pada ramai memilih oleh-oleh yang dijual di ruko di samping Mall. Akhirnya. kami habiskan waktu untuk membeli oleh-oleh. Hingga akhirnya, mall buka dan kita masuk untuk sekedar berjalan-jalan di Mall.

Contoh diatas menggambarkan, kadang proses itu lebih penting. Bagaimana jika kami tidak memutuskan untuk pergi ke Nagoya Hill Mall karena mengira Mall masih tutup, tentu kami tidak akan tahu ada toko oleh-oleh di sekitar toko tersebut. Dan, tidak ada pernah terlintas di pikiran kami untuk membeli oleh-oleh. O iya, toko tersebut menjual oleh-oleh khas Malaysia dan Singapura, seperti kaos dan miniatur ikonik dua negara tersebut.

Itulah mengapa menghayati proses itu memiliki daya tariknya sendiri. Mungkin saja, kehidupan kita sangat berdeviasi dari apa yang pernah kita harapkan sebelumnya. Tetapi, mungkin saja itu cara Tuhan, untuk melompatkan kita ke kehidupan lain yang lebih besar dari apa yang sanggup kita bayangkan sebelumnya. Tidak masalah, jika kita harus menggunakan jalan memutar dahulu, asal kita terus bergerak dalam hidup.

Kehidupan tidak perlu untuk dipahami, tetapi cobalah untuk menerima dengan sepenuh hati. Jalan yang panjang itu harus dimulai dari satu langkah kecil, menuju ke berbagai tempat manapun yang kitapun kadang tidak pernah menduganya.

Untuk mereka yang ditinggal oleh orang terkasih, bersabarlah. Hidup tak pernah menjanjikan apa-apa. Kebahagiaan dan kesedihan itu hanya sebuah keadaan sementara saja. Masih ada jalan panjang harus kita tempuh, meskipun kadang berat.Ingatlah, kita tak pernah bekerja sendiri, ada waktu yang terus bekerja. Semua benda yang ada di sekitar kita juga bekerja dengan daya upaya yang masih tersisa. Semuanya indah karena tak selamanya. Mari terus bergerak, stasiun berikutnya telah menunggu kita.

Posted in refleksi, Uncategorized | Leave a comment