Mengenai kegigihan

Sekitar sebulan yang lalu, saya harus kembali ke rumah. Pekerjaan saya telah selesai. Saya harus menunggu untuk mendapatkan pekerjaan selanjutnya.

Saya mendapati bahwa tiap pagi, saya menderita semacam flu. Hidung saya selalu mengeluarka lendir bening. Sepertinya ini memang flu tahunan. Entah karena alergi, hawa dingin, debu dan semacamnya, mengingat saya sendiri juga bukan orang yang begitu higienis.

Tapi ada satu hal yang lain kali ini. Selalu saya sempatkan untuk lari pagi. Dua minggu pertama tidak ada perubahan. Lendir selalu keluar dari hidung saya, bahkan hingga menjelang tengah hari. Bersin tiada henti-hentinya. Sekitar minggu ketiga, malah makin parah. Lendir malah semakin banyak yang keluar, hingga kulit dibawah hidung mulai merasa perih karena sering diusap tisu. Saya tetap lari pagi setiap pagi, dan saya juga mulai minum teh diiringi sesendok madu.

Dua tiga hari setelah itu, saya tidak lagi merasakan lendir yang keluar lewat hidung.

Inti dari cerita ini: memang terkadang dibutuhkan waktu untuk dapat mencapai sesuatu hasil yang kita inginkan. Kadangkala juga, semakin kita mendekati hasil, sesuatu yang buruk malah seringkali terjadi. Namun, memang kita tidak boleh putus asa.

Saya memang memutuskan untuk tidak pergi ke dokter. Saya ingin membiasakan untuk tidak bergantung kepada obat. Saya ingin tubuh saya memiliki kemampuan untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Meskipun begitu, cara ini kadang juga tidak selalu benar. Saya pernah sekali pingsan pada waktu sholat jum at karena terlalu memaksakan diri untuk tidak berobat ke dokter. Namun, semakin dewasa, saya semakin menyadari berapa sebenarnya kemampuan diri saya. Dan, saya ingin melawan batasan-batasan fisik tersebut dengan sedikit cerdas.

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Semua adalah tentang kegigihan. Bisakah kita terus berjuang, meskipun hasil tidak nampak-nampak jua dan malah hanya kelihatan semakin parah saja.

Berapa banyak orang yang pendidikannya tinggi yang gagal hidupnya, orang pintar yang terjerumus, orang berbakat tapi tak punya karir cemerlang. Tulisan ini bukan untuk mengatakan bahwa hanya orang gigihlah yang berhasil. Memang, takdir sudah ada yang menentukan.Tapi banyak orang yang menggagalkan hidupnya karena sudah tidak mau berusaha lagi.

Waktu yang hilang tidak akan bisa diganti lagi. Buat apakah sebagian besar waktu kita, selain jika tidak untuk terus berusaha sampai ajal menjemput.

Dalam hidup kita harus punya passion. Disanalah, kita nantinya akan menemukan jalan. Orang hanya akan tahu arah tujuan hidupnya ketika ia sudah sampai disana. Kata Kho Ping Hoo, tujuan adalah masa depan, cara itu masa kini. Jadi, cara adalah lebih penting. Tujuan yang baik tidak akan didapatkan dengan cara yang jelek. Maka tak usahlah kita memikirkan tujuan jangka panjang yang muluk-muluk, selain selalu memperbaiki cara kita dalam menjalani kehidupan ini dengan baik tiap detik demi detik.

Persistence, kegigihan. Menanam sesuatu walau tidak tahu kapan kita akan memanennya.

Hal yang terpenting dalam hidup adalah semangat hidup kita. Semangat untuk menjalani hidup ketika kita terbangun dipagi hari. Hari yang baru, hari kita terlahir kembali. Jadikan yang lalu biarlah berlalu. Kita hirup udara pagi yang baru. Tanpa prasangka akan bagaimana masa depan, yang ada hanya momen itu

Dan, buatlah keputusan untuk diri sendiri,

Posted in refleksi | Leave a comment

Bazar Buku Langka

Mengisi hari dengan bekerja merupakan rutinitas saya saat ini. Pulang bekerja, melintasi perbatasan Jawa Timur dengan Jawa Tengah. Melewati sungai Bengawan Solo yang lagunya masyur itu. Suasana dalam bus jemputan masih tetap panas, penuh peluh, meskipun matahari hampir tenggelam di singgasananya. Cuma bisa memandang keluar, sebagai penyelimur suasana hati.

Ndilalah, saat itu saya melihat plank sederhana ber-embel-embel “Bazar Buku Murah”. Acaranya diselenggarakan di kantor kelurahan. Apalagi ini koq ada acara semacam ini, di sebuah tempat kecil seperti ini, meskipun bukan di tempat antah berantah. Memantapkan diri, hari Minggu saya coba menyimak Bazar buku tersebut. Hari minggu, setengah hari saja saya masuk kerja. Sorenya saya mencoba menyidak ke Bazar buku tersebut.

Murah itu relatif. Bagi saya, harga buku di Bazar tersebut normal saja. Namun, yang membuat saya bertahan lama disana adalah bahwa yang dijual adalah buku yang diluar mainstream. Artinya, belum tentu buku-buku tersebut bisa didapatkan di toko buku di kota besar, layaknya Surabaya. Beruntung sekali saya datang.

Mencoba memahami apa yang terjadi. Setelah disusur, banyak buku di tempat tersebut berasal dari satu jenis penerbit asal Jogja. Saya tidak akan menyebut kontroversial, namun lebih ke menggelitik. Buku yang ditawarkan, seperti bukunya Adolf Hitler, telaah teori Karl Marx, kajian mengenai Syeh Siti Jenuh, Tan Malaka, buku filsafah Jawa dan banyak lainnya. Ini langka.

556124_7da6ab77-e752-4ca9-94d0-644128cd0373

Ilmu Jiwa Jawa

Kenapa toko-toko besar tidak menyuplai buku seperti tersebut? Apakah isinya yang kontroversial atau takut tidak disukai pasar? Atau pemerintah takut rakyat akan terprovokasi mengenai isi buku tersebut? Apapun alasannya, kita berhak belajar apa saja.
Salah satu yang menarik hati saya adalah buku berjudul “ilmu jiwa jawa” karya Pak Suwardi. Sudah lama sekali saya tidak belajar tentang “Jawa”. Terakhir saya masih belajar Bahasa Jawa, ya zaman SD. Waktu itu Bahasa Jawa hanya dijadikan pelajaran yang dijadikan Muatan Lokal saja. Artinya, kalau saya tinggal di Jakarta, yang masyarakatnya sudah lebih heterogen, mungkin saja saya gak dapat pelajaran ini.

Sungguh tinggi sekali budaya orang jawa ini. Mulai aksaranya saja mengandung Kawruh Urip, pengetahuan tentang hidup yang lebih dalam dari pengetahuan Bangsa Barat.

Ini adalah contohnya : http://coretan-hampa.blogspot.com/2014/09/makna-huruf-hanacaraka.html

 

Posted in cerita pendek | Leave a comment

Kenapa kita membaca?

Berapa tahun kita sekolah? Seberapa besarkah kemampuan kita dalam membaca? Ataukah, lamanya kita sekolah belum tentu menjadi tolok ukur kemampuan kita dalam membaca?

Membaca sudah barang tentu merupakan sebuah kegiatan yang bersifat aktif. Dalam membaca, ada upaya dalam pikiran kita untuk menggali informasi atas apa yang kita baca. Ada upaya untuk mencerna apa yang kita baca, dan sebuah upaya misterius lainnya untuk menghubungkan informasi baru yang kita dapat dalam bacaan terhadap ingatan kita.

Membaca novel merupakan sebuah kegiatan favorit saya. Saya suka membaca novel yang bersifat petualangan, bercerita tentang kesedihan, sedikit humor dan twist ending yang tidak saya sangka-sangka. Membaca novel berarti memahami tentang tokoh cerita. Jalan hidup seseorang. Keputusan apa yang dia ambil terhadap pilihan dan hak prerogatif dari Tuhan. Kehidupan kita ini terkadang juga kurang lebih sama dalam cerita dalam novel. Namun, kitalah yang menjadi tokoh utama. Terkadang, malah kehidupan kita lebih aneh dari jalinan fiksi dalam novel.

Membaca berarti mengambil sebuah sudut pandang terhadap sesuatu. Jika melihat lukisan “Monalisa” yang lagi tersenyum, apakah isi pikiran yang diutarakan tukang buah, guru SD, pekerja bangunan, seorang pejabat teras akan sama? Mungkin saja sama,mungkin juga tidak. Tetapi inilah pentingnya membaca, kita berusaha menggali informasi terhadap apa yang kita baca, dan mencoba menyelaraskan dengan pikiran kita yang nantinya akan timbul ide yang tertancap dalam memori kita. Seorang pelajar bisa mengatakan bahwa senyum Monalisa adalah senyum yang tulus dari dalam hati. Sorang istri bisa mengatakan senyum Monalisa adalah senyum sebuah penyangkalan dan bentuk kesedihan.

Dan, saya membaca novel seringkali adalah untuk mendapatkan ide-ide tersebut. Hidup manusia ini begini singkat. Kadangjuga, dalam beberapa fase kehidupan, kita menjalani hari-hari yang stagnan. Manusia butuh sebuah momen, tempat dia menyadari atas apa yang terjadi di sekitar dia dan berusaha untuk mengerti apa yang akan dia lakukan. Dari novel, saya mendapatkan sebuah kisah cinta palig tulus yang terhebat dari Sabari kepada Marlena (Novel “Ayah”, karya Andrea hirata), dari novel, saya melihat sebuah perjuangan seorang anak sendirian di tengah kehidupan yang ganas di lautan (“Life of Pi”, Yann Martel), dari novel, saya mendapatkan seorang pemuda yang dilahirkan untuk maksud dan tujuan yang besar (“Cadas Tanios”, Amin Maalouf).

Lewat banyak cerita tersebut, saya banyak mendapatkan gagasan-gagasan baru dalam hidup saya. Jika Tuhan memasukkan kita untuk menjadi tokoh dalam cerita tersebut, belum tentu kita mampu untuk menjalani semua hal yang akan terjadi. Tetapi, intinya adalah dari gagasan tersebut, kita tahu apa yang kita lakukan dalam hidup dari berbagai sudut pandang yang ditawarkan dalam sebuah cerita, dan biarlah Tuhan mengarahkan kehidupan kita entah kemana dalam perjalanan kita mendekati kematian.

Posted in refleksi, Uncategorized | Leave a comment