Amongst Giants

“The World Doesn’t Change (much)”

Ekonomi bisa digerakkan dengan sangat indah jika ada infrastuktur yang menopangnya. Kehidupan modern saat ini, melibatkan pergerakan manusia yang sangat mobile bisa tercipta karena adanya teknologi yang semakin maju. Di balik teknologi itu sendiri, tersimpan sebuah rahasia bagaimana manusia mengeksploitasi alam hingga terkadang mencapai batas teratas kemampuannya.

Energi (Alam) ==> Infrastruktur ==> Energi (Manusia) ==> Ekonomi

Jumlah manusia terus bertambah tiap tahunnya. Energi harus terus ditambah. Infrastruktur harus terus dibuat. Sebab manusia butuh makan dan fasilitas untuk mencukupi kebutuhan. Ekonomi naik karena mau tidak mau, jumlah manusia yang semakin banyak harus bekerja untuk bisa bertahan hidup. Dan, siklus diatas terus berulang dan semakin membesar.

Saya pernah mendengar celetukan seseorang mengenai perkembangan zaman. Dia membandingkan kemerataan ekonomi yang lebih adil di zaman sekarang daripada di waktu lampau. Dia memberi contoh pada gagasannya tersebut dengan menyatakan bahwa setiap orang saat ini memiliki kemampuan untuk membeli motor. Dimana, hal ini tidak terjadi di masa lalu. Hanya sedikit orang saja yang punya kemampuan untuk membeli benda tersebut di masa lampau.

Benarkah demikian? Meanwhile, sebuah peristiwa lain terjadi sebagai berikut :

Sebuah pemerintahan memutuskan untuk membangun sebuah jalan lintas pulau di sebuah daerah yang penduduknya masih relatif sedikit. Penduduk sekitar masih banyak mengandalkan mata pencahariannya dari alam.  Uang yang dipergunakan dalam pembangunan jalan tersebut berasal dari investasi atau utang. Utang harus dibayar. Cara membayar utang adalah dengan menggerakkan perekonomian setempat. Secara tidak langsung, beban pemerintah akan berpindah kepada masyarakat setempat. Dengan dibangunnya infrastruktur, mau tidak mau, masyarakat sekitar harus meningkatkan ekonomi wilayah setempat. Pernahkan kita berpikir jika pembangunan jalan tersebut masih belum merupakan kebutuhan masyarakat setempat?

Tetapi, mereka tidak bisa menolak karena itu adalah agenda negara. Dan, penduduk tersebut menyangka bahwa mereka tidak dirugikan dengan pembangunan jalan tersebut.

Regresi ke arah rata-rata

Segala sesuatu pasti menuju ke arah kesetimbangan. Ini merupakan sebuah hukum alam. Satu hal akan mempengaruhi yang lain karena ia harus menyeimbangkan diri. Jika ada tinggi, berarti ada rendah dan pasti akan ada pergerakan diantara keduanya. Orang menyebutnya dengan driving force.

Tingkat ekonomi yang sudah tinggi di suatu daerah tidak bisa berdiri sendiri. Ia harus ditopang oleh daerah disekitarnya. Maka dari itu, pembangunan dilakukan dengan uang hutang, sebab daerah yang kurang maju harus mengimbangi daerah yang maju dengan cepat. Jika mengandalkan dari pajak, akan diperlukan waktu yang lama, dan daerah yang sudah maju akan lumpuh karena ia membutuhkan sumber ekonomi lain untuk menopang kemajuan tersebut.

So, menjawab pertanyaan sebelumnya : bagaimana jika pembangunan jalan tersebut bukan merupakan kebutuhan masyarakat setempat? Sedangkan utang harus tetap dibayar. Solusinya adalah dengan mendatangkan investor lagi.

Infrastruktur sudah ada. Assessment dilakukan untuk menggali potensi alam yang bisa dimanfaatkan. Jika sudah ketemu, bangun industri. Masyarakat yang dahulunya mengandalkan dari alam beralih profesi menjadi buruh. Tak pelak, industri akan mendatangkan banyak tenaga kerja atau manusia. Ekonomi tumbuh, namun sisi lain inflasi naik, daerah maju bisa ditopang. Semua orang punya uang, motor pun bisa dibeli. Seems like a win-win solution.

Tetapi, terjadi sebuah opposite effect ketika saya membaca survey tingkat kemiskinan yang terjadi pada daerah yang kaya sumber energi. Apakah penerjemahan saya salah mengenai logika peristiwa di atas? Something didn’t quite match. Kemanakah perginya profit keuntungan investasi itu?

Pareto Principle

80% menguasai 20%.  Bisa jadi, 10% over 90%, atau malah 5% over 95%. Intinya adalah yang sedikit menguasai yang banyak. Kita tidak pernah tahu bahwa ada para raksasa di antara kita. Dan, merekalah yang mengendalikan korporasi-korporasi besar yang menanggung hajat hidup orang banyak.

pyramid

Piramida yang dibawah akan menopang piramida yang berada diatasnya. Tetapi, piramida yang diatas hanya berukuran lebih kecil daripada piramida yang dibawahnya.

Kita hargai semua kemajuan adalah salah satunya berkat raksasa tersebut.

Sekarang kita bisa merasakan banyak kemudahan dibandingkan dengan zaman yang lalu. Tetapi, yang tidak dapat dipungkiri adalah piramida yang diatas selalu punya potensi untuk menginjak piramida dibawahnya. Dan, inilah mengapa kehidupan kita tidak pernah berubah sejak zaman lampau. Selalu ada yang tertindas. Manusia yang berada dibawah harus bekerja dengan hasil yang sebagian besar untuk menopang masyarakat yang berada diatasnya. Untuk bisa berada di kelas teratas adalah mimpi bagi banyak orang. Manusia berlomba-lomba untuk itu, yang terkadang dengan menghalalkan segala cara.

Jadi, sekarang kita bisa menjawab pertanyaan kemana perginya sebagian besar profit keuntungan hasil investasi diatas.

Semua ini adalah permainan. Manusia bisa dikondisikan agar dia bisa terus berkerja seumur hidupnya untuk hasil yang tidak pernah dia nikmati. Jangan-jangan kita semua sudah menjadi korban terhadap sistem ini.

Namun, bayangkan, jika kita sudah bisa lepas dari sistem tersebut, apakah memang kita sudah tahu apa yang benar-benar ingin kita lakukan terhadap hidup kita?

Posted in artikel, refleksi | Leave a comment

Just In Time

“What I’m sure of is that you can’t be happy without money. That’s all. I don’t like superficiality and I don’t like romanticism. I like to be conscious. And what I’ve noticed is that there’s a kind of spiritual snobbism in certain ‘superior beings’ who think that money isn’t necessary for happiness. Which is stupid, which is false, and to a certain degree cowardly…. For a man who is well born, being happy is never complicated. It’s enough to take up the general fate, only not with the will for renunciation like so many fake great men, but with the will for happiness. Only it takes time to be happy. A lot of time. Happiness, too, is a long patience. And in almost every case, we use up our lives making money, when we should be using our money to gain time. That’s the only problem that’s ever interested me…. To have money is to have time. That’s my main point. Time can be bought. Everything can be bought. To be or to become rich is to have time to be happy, if you deserve it…. Everything for happiness, against the world which surrounds us with its violence and its stupidity…. All the cruelty of our civilization can be measured by this one axiom: happy nations have no history.”

― Albert Camus

 

Saya pernah mendengarkan sebuah cerita tentang sebuah pilihan. Kira-kira apa yang akan anda pilih: Punya banyak kambing tetapi tidak bisa makan sate kambing, atau tidak punya kambing sama sekali tetapi punya sekedar uang untuk bisa membeli sate kambing dan tentu saja bisa menikmati sate kambing itu.

Sebuah pilihan yang cukup klise menurut saya. Namun, memang bisa jadi kiasan tersebut terjadi pada hidup kita. Times always past and life happened, even if we don’t aware about it. Kita merasa lebih tahu tentang diri kita sendiri dan apa yang kita inginkan. Selain itu, kita merasa punya indera untuk bisa menebak apa isi hati orang lain sehingga tak jarang kita melabeli tiap orang yang kita temui, meskipun terkadang salah juga sebab manusia bisa berubah. Semua itu tak lepas karena manusia diciptakan dengan pikiran berupa akal yang salah satunya memiliki fungsi untuk mempertahankan hidup. Survival Mechanism. Maka dari itu jangan heran kita lebih sensitif dengan isu-isu negatif ataupun mitos yang berkembang di sekitar kita sehingga kita menjadi rentan untuk menjadi korban. This is another example, please check this out.

Survival atau bertahan hidup tentu saja berarti sesuatu bagi kita. Kita membayangkan akan bisa hidup di kemudian hari. Jadi, kita memiliki sense of future, kehidupan di masa depan. Sense of future ini tidaklah dimiliki oleh hewan, cuma dimiliki oleh manusia.

Sesuai konsekuensi logis, kita akan bertindak sesuai dengan apa yang kita raih atau kemungkinan yang bisa kita raih. Jika kita makan, kita akan menjadi kenyang, itu logis dan bisa dibuktikan. Dan, akhirnya akan menjadi sebuah kepercayaan. belief is an acceptance that a statement is true or that something exists.

Procrastination

Procrastination atau menunda pekerjaan adalah salah satu efek samping dari sense of future ini. Kita membayangkan bahwa kita bisa melakukan pekerjaan di esok hari dengan beragam alasan yang disematkan ke dalam pikiran kita. Jika anda membaca tulisan saya sebelumnya tentang pleasure and pain, hal ini juga berhubungan dengan hal tersebut. Working means pain and should be avoided. Tetapi percayakah anda pada anda di masa depan mampu mengerjakan hal tersebut dengan baik. Secara logika jika anda punya deadline seminggu dan anda mulai mengerjakannya dengan sekarang, tentu saja anda bisa menyiapkannya dengan lebih bagus. Procrastination, thats your mind play tricks on you. Seorang ahli pernah mengatakan bahwa terkadang berpikir bukan merupakan sebuah proses dari berpikir tetapi hasil dari berpikir. Ada hal-hal yang membuat kita berpikir tentang sesuatu tanpa kita menyadari bahwa hal tersebut telah mempengaruhi cara kita berpikir. Pikirkanlah : Efek yang dihadapi oleh orang yang hidupnya selalu diingatkan dengan uang (anchored by money) , seperti dalam kehidupan modern ini. Masih ingat tentang gotong royong? Dimana adanya sekarang?

Kita akan sulit lepas daripada efek sense of future ini. Jika kita berhasil pada suatu peristiwa, kita mencari sebab apa yang membuat kita menjadi berhasil. Siapa tahu hal tersebut akan membuat kita berhasil lagi kelak. Mungkin saja, sepatu butut saya ini membawa berkah sehingga saya bisa memenangkan perlombaan lari itu. Bisa jadi, saya diterima kerja karena saya mencium tangan kedua orang tua saya sebelum berangkat. Dan …, daftar tersebut bisa lebih panjang lagi. Pernahkah kita berpikir bahwa terkadang keberhasilan kita juga karena keberuntungan semata. Tidak mungkin, logika kita akan terus berputar meminta penjelasan atas setiap peristiwa. Mental shotgun. It is a term used to describe the process that goes on inside of our minds where we compute more information than needed.

So…, apa yang coba ingin Albert Camus katakan dalam quotenya diatas?

Kenapa kita terlalu mengandalkan apa yang bisa kita lakukan di masa depan cloud our judgement pada apa yang kita lakukan hari ini? Kita tidak bertindak karena kita takut kalah. Masalahnya apakah kita bisa menjamin apa yang terjadi sehari, sejam, atau sedikit kemudian sudah pasti seperti apa yang kita pikirkan?

Kita tidak seharusnya khawatir apa yang terjadi di kemudian hari, just do what you should do. Stick with it. Jangan berpikir harus beli kambing untuk bisa makan sate, belilah satenya sekarang dengan uang yang kamu punya. Sebuah anekdot yang bisa berarti lain, tetapi mendorong kita untuk bertindak saat ini juga. Tentu saja, apa yang kita siapkan hari ini adalah hadiah bagi hari esok kita.

Posted in artikel, refleksi, Uncategorized | Leave a comment

Lawanlah Dirimu Sendiri (bagian 1)

So…, saya dapat sebuah cerita dari sebuah buku karangan MacLeod. Dalam buku tersebut ada sebuah bab yang menceritakan tentang seorang pria bernama Andrew. Andrew adalah kolega si penulis yang juga menggemari alat-alat antik, terutama dari perak. Dia sangat ahli dalam bidangnya. Hingga suatu saat ia mendapatkan kesempatan untuk menjadi seorang penilai di sebuah pelelangan barang antik yang terbuat dari perak.

Tentu saja, dengan senang hati, Andrew menerima tawaran itu dan meninggalkan pekerjaannya sebagai akuntan. Bayangkan, hal apa di dunia ini yang tidak lebih menyenangkan daripada kita digaji untuk melakukan hal yang kita senangi. Teman-teman Andrew turut serang dan bersorak untuk merayakan hal tersebut.

Beberapa tahun kemudian, si penulis cerita mendengar kabar dari Andrew dari bar tempat ia biasa nongkrong. Sayangnya, kabar yang ia terima bukanlah sebuah kabar yang menyenangkan. Andrew sudah tidak bekerja lagi pada bidang yang ia senangi dan ia telah mengalami banyak masalah karena terlalu banyak minum.

Apa yang terjadi?

Well,” kata seorang teman penulis, ” Ketika anda menggabungkan pekerjaan dengan hobi yang seharusnya digunakan untuk mengisi waktu luang anda. Apa yang akan anda gunakan terhadap waktu luang anda sekarang ?” Teman penulis tersebut kemudian mengangkat gelasnya dan menjawab,” Minum”.

Bisa kita artikan sendiri jawaban tersebut.

Jika saat ini kita sedang berada di bawah dan berusaha untuk menggapai tangga untuk mencapai kesuksesan, tentu saja banyak hal yang kita korbankan. Salah satunya adalah waktu. Berapa banyak waktu terbuang untuk sekedar mencari nafkah guna mencukupi kebutuhan. Tetapi, apakah benar jika kita sudah berada di atas, kita benar-benar bisa memanfaatkan hasil kesuksesan kita dengan baik, atau malah kita terjebak terhadap hal-hal yang merugikan kita. Kita wajib memikirkan hal tersebut.

Bekerja untuk mencukupi segala biaya hidup. Artinya, untuk membebaskan diri kita dari segala kebutuhan hidup yang harus dipenuhi agar kita bisa hidup layak. Lantas, jika kebebasan itu sudah didapatkan, apa yang kita lakukan dalam hidup kita? Perlu waktu, paling tidak lima hingga dua puluh tahun agar kita mendapatkan kebebasan tersebut. Tergantung apa yang kerjakan dalam hidup. Semua itu tentu saja butuh waktu yang tidak sedikit. Tetapi, lantas alih-alih merasakan arti kebebasan, setelah semua yang kita lakukan kita malah bisa mendapatkan kekosongan, jika kita tidak memikirkan hal tersebut dari sekarang. Dan, saat kita mendapatkan kebebasan itu, umur kita sudah tidak lagi muda. Mari kita pikirkan dari sekarang, apa yang kita lakukan jika uang bukanlah sebuah alasan untuk tidak berbuat sesuatu.

Bagaimana terkadang kita harus menolak apa yang kita pikirkan karena hal tersebut belum tentu benar sebab manusia penuh dengan apa yang dinamakan bias atau prasangka. Coba simak gambar berikut dan mana yang menurut anda yang memiliki garis horizontal terpanjang

download

Gambar diatas adalah salah satu ilusi Müller-Lyer. Otak kita akan langsung menghasikan sebuah kesimpulan bahwa garis yang atas lebih panjang daripada garis yang dibawah. Diperlukan sebuah kerja dalam otak kita untuk mengetahui bahwa sebenarnya dua garis tersebut nyatanya adalah sama panjang. Meskipun kita sudah tahu jawabannya, masih agak susah terkadang kita menerima hal tersebut jika otak kita tidak benar-benar melakukan sebuah upaya.

Manusia menerima stimuli dari lingkungan dan secara sadar ataupun tidak sadar sebenarnya kita merespon stimuli tersebut sebagai sebuah upaya untuk mempertahankan diri (survival).

Bersambung

Posted in artikel, refleksi, Uncategorized | Tagged , , | Leave a comment