Nailed it

Bagian terakhir dari seri “realm as it is”.

Di bagian pertama, kita telah belajar bahwa segala sesuatu yang terlihat, tidaklah seperti kelihatannya. Bagian kedua, konsep pain and pleasure telah dijelaskan.

Bagian ketiga, bagaimana cara kita mengelola kehidupan ini. Nailed it. Tidak ada rumus pasti untuk sukses dalam kehidupan ini. It’s hard truth. Jika ada, cukup beli saja buku tentang kesuksesan yang banyak dijual di toko buku, kita terapkan, maka semua orang bisa meraih kesuksesan.

Ketika berhadapan dengan masa depan, kita seperti berhadapan dengan misteri. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi baik dalam satu jam, dua jam hingga satu hari kemudian. Maka dari itulah, manusia bekerja keras karena ia tidak pernah tahu apa yang akan terjadi didepan.

Apa arti hidup? Kenapa kita harus bekerja keras, jika kemudian kita harus mati tanpa membawa apa-apa yang telah kita perjuangkan semasa hidup? Mungkin pernah terlintas pada pikiran kita hal tersebut. Saya kira pikiran seperti inilah yang menjebak kita untuk tidak mau berusaha lebih, terlepas faktor eksternal seperti kurangnya fasilitas.

Tetap saja kita harus menjawab pertanyaan “why” diatas. Kenapa kita harus memperjuangkan hidup? Jawaban paling simpel, karena kita telah diberi hidup, maka hidup dengan cara yang baik adalah sebuah hal yang patut kita lakukan sebagai tanggung jawab kepada Tuhan karena Ia telah memberikan kita kesempatan untuk dapat menikmati kehidupan ini.

Tetapi, segala sesuatu tidaklah seperti yang kita bayangkan. Tiap kali kita menginjakkan kaki di luar rumah, kita menghadapi realitas kehidupan. Banyak dari kita yang masih harus menghabiskan sebagian besar waktu dalam hdup mereka, untuk bekerja di kantor demi mencukupi kebutuhan hidup. Apalagi pekerjaan di saat ini menuntut adanya spesialisasi pada bidang-bidang tertentu, sehingga terkadang kita dilanda kebosanan karena mengerjakan yang itu-itu saja. Untuk menghilangkan rasa bosan, kita bisa menghabiskan banyak waktu untuk sekedar mengalihkan diri dari realita yang ada.

Continue reading

Posted in artikel, refleksi, Uncategorized | Leave a comment

Rabbit Hole

Tulisan ini adalah sambungan seri “realm as it is” pada edisi yang lalu.

Pada kalimat penutup edisi yang lalu, sempat saya tuliskan sebuah phrasa “serasional-rasionalnya manusia, dia punya kecenderungan untuk berpikir secara tidak rasional.”

  1. Pernahkah kita berpikir mengapa kita loyal terhadap suatu merek tertentu, misalkan kenapa kita lebih memilih produk A, bukan produk B. Pernahkah juga kita berjalan di sebuah toko jam mewah.
  2. Bagaimana bisa sales man menjual jam mewah tersebut dengan harga yang sangat tinggi, sedangkan kita tahu banyak jam-jam merk Cina dengan harga yang jauh murah dan tak kalah bagusnya. Apa rahasia mereka bisa menjual barang mewah tersebut.
  3. Pernahkah kita melihat seseorang tetap menyangkal sebuah pendapat, meskipun banyak bukti yang menjelaskan bahwa teori mereka salah.
  4. Pernahkah kita melihat begitu banyak perabotan yang ada di rumah kita sehingga membuat pandangan kita menjadi tidak enak. Kita tahu bahwa perabotan tersebut sudah tidak kita gunakan lagi, tetapi kita sulit menjelaskan kenapa kita masih menyimpannya.
  5. Pernahkah, kita menghindar untuk melakukan sesuatu dengan cara alih-alih melakukan pekerjaan lain. Misalkan, kita menolak belajar, dengan cara melakukan pekerjaan lain, misalnya bersih-bersih.
  6. Kenapa kita tidak dianjurkan untuk mengungkapkan mimpi-mimpi kita kepada orang lain.

Saya bisa mengungkapkan salah satu contoh dalam kehidupan saya dimana saya tidak bisa berpikir secara rasional, meskipun saya adalah orang yang berpendidikan. Saya meraih gelar master saya di perancis. Namun, rasanya belum bisa saya utarakan karena bersifat satu dua hal.

Segala keputusan yang kita buat, apa yang kita lakukan, semuanya tidak lepas dari investasi emosional kita terhadap sesuatu. Inilah kadang yang membuat kita tidak bisa berpikir secara benar-benar rasional. Semakin besar, investasi emosional kita terhadap sesuatu, maka akan semakin kuat atau sulit dirubah perasaan kita terhadap sesuatu tersebut. Meskipun kita tahu, bahwa bahwa sifat kita tersebut hanya akan membawa sebuah ketidakberuntungan.

Continue reading

Posted in artikel, refleksi, Uncategorized | Leave a comment

Realm as it is : bagian 1

Siang itu, telepon saya berdering. Kulihat layar bahwa yang memanggil adalah salah satu operator seluler terbesar di negeri ini. Pikiran saya melayang. Berdasar pengalaman, bahwa yang menelepon biasanya telemarketing. Sebenarnya saya malas untuk menjawab. Tetapi, apa salahnya untuk mendengarkan penawaran apa yang ingin diutarakan oleh si operator. Sebelum kujawab panggilan itu, sudah kuputuskan bahwa saya tidak akan menerima apapun penawarannya. Saya terima panggilan itu, atas dasar bahwa saya menghormati segala usaha manusia demi mencukupi kebutuhan hidup dan saya juga ingin mendapat informasi. Mudah-mudahan demikian adanya.

Syuut.  ku-slide tombol ponsel pinter dan kubuat dalam mode speaker. Suara manis operator mulai mewarnai ruangan kamarku. Akhir-akhir ini memang pengeluaran bulanan untuk seluler saya cukup meningkat. Hal ini karena modem tidak bisa dipakai. Terpaksa internet menggunakan ponsel dan otomatis ekstra biaya tambahan perbulannya.

Operator cewek tersebut menawarkan paket migrasi dari prepaid ke pasca bayar dengan nominal 300 ribu perbulan beserta benefitnya. Segera saya tolak dengan halus. Something fishy. Mungkin itulah perasaan saya meskipun cuma setitik.Dia menyerah dan saya tidak mau untuk reschedule penawaran dia lagi. Telepon putus dengan ucapan terima kasih.

Esok malamnya, kubuka internet. Ternyata, memang sedang ada promo dari operator tersebut untuk pindah dari prabayar ke pasca bayar, bahkan dengan paket mulai dari 100 ribu. Paket 100 ribu ini termasuk 4G internet sebesar 8 GB. Bandingkan jika beli paket tersebut secara prabayar, seingat saya 80 ribu cuma dapet 2GB untuk 4G. Cara migrasi ke pascabayar pun cukup sederhana, yakni tinggal mengisi form yang ada di laman internet operator tersebut.

Saya teringat kepada cewek yang menelepon saya kemarin. Kenapa dia menawarkan paket senilai 300 ribu dan tidak menyebutkan bahwa ada paket yang lain? Paket 100 ribu pun, sudah lebih dari cukup bagi saya. Internet, hanya saya pakai secara signifikan ketika di rumah saja, jika sedang tugas di field, saya sering pakai internet hotel. Operator cewek tersebut juga tidak mengatakan bahwa saya bisa migrasi dengan mengisi form di internet, tanpa harus repot mengunjungi kios operator tersebut. Entah karena durasi yang pendek atau karena dia bertujuan agar pelanggan memilih suatu jenis paket tertentu.

===

Continue reading

Posted in artikel, refleksi, Uncategorized | Leave a comment