Kenapa kita membaca?

Berapa tahun kita sekolah? Seberapa besarkah kemampuan kita dalam membaca? Ataukah, lamanya kita sekolah belum tentu menjadi tolok ukur kemampuan kita dalam membaca?

Membaca sudah barang tentu merupakan sebuah kegiatan yang bersifat aktif. Dalam membaca, ada upaya dalam pikiran kita untuk menggali informasi atas apa yang kita baca. Ada upaya untuk mencerna apa yang kita baca, dan sebuah upaya misterius lainnya untuk menghubungkan informasi baru yang kita dapat dalam bacaan terhadap ingatan kita.

Membaca novel merupakan sebuah kegiatan favorit saya. Saya suka membaca novel yang bersifat petualangan, bercerita tentang kesedihan, sedikit humor dan twist ending yang tidak saya sangka-sangka. Membaca novel berarti memahami tentang tokoh cerita. Jalan hidup seseorang. Keputusan apa yang dia ambil terhadap pilihan dan hak prerogatif dari Tuhan. Kehidupan kita ini terkadang juga kurang lebih sama dalam cerita dalam novel. Namun, kitalah yang menjadi tokoh utama. Terkadang, malah kehidupan kita lebih aneh dari jalinan fiksi dalam novel.

Membaca berarti mengambil sebuah sudut pandang terhadap sesuatu. Jika melihat lukisan “Monalisa” yang lagi tersenyum, apakah isi pikiran yang diutarakan tukang buah, guru SD, pekerja bangunan, seorang pejabat teras akan sama? Mungkin saja sama,mungkin juga tidak. Tetapi inilah pentingnya membaca, kita berusaha menggali informasi terhadap apa yang kita baca, dan mencoba menyelaraskan dengan pikiran kita yang nantinya akan timbul ide yang tertancap dalam memori kita. Seorang pelajar bisa mengatakan bahwa senyum Monalisa adalah senyum yang tulus dari dalam hati. Sorang istri bisa mengatakan senyum Monalisa adalah senyum sebuah penyangkalan dan bentuk kesedihan.

Dan, saya membaca novel seringkali adalah untuk mendapatkan ide-ide tersebut. Hidup manusia ini begini singkat. Kadangjuga, dalam beberapa fase kehidupan, kita menjalani hari-hari yang stagnan. Manusia butuh sebuah momen, tempat dia menyadari atas apa yang terjadi di sekitar dia dan berusaha untuk mengerti apa yang akan dia lakukan. Dari novel, saya mendapatkan sebuah kisah cinta palig tulus yang terhebat dari Sabari kepada Marlena (Novel “Ayah”, karya Andrea hirata), dari novel, saya melihat sebuah perjuangan seorang anak sendirian di tengah kehidupan yang ganas di lautan (“Life of Pi”, Yann Martel), dari novel, saya mendapatkan seorang pemuda yang dilahirkan untuk maksud dan tujuan yang besar (“Cadas Tanios”, Amin Maalouf).

Lewat banyak cerita tersebut, saya banyak mendapatkan gagasan-gagasan baru dalam hidup saya. Jika Tuhan memasukkan kita untuk menjadi tokoh dalam cerita tersebut, belum tentu kita mampu untuk menjalani semua hal yang akan terjadi. Tetapi, intinya adalah dari gagasan tersebut, kita tahu apa yang kita lakukan dalam hidup dari berbagai sudut pandang yang ditawarkan dalam sebuah cerita, dan biarlah Tuhan mengarahkan kehidupan kita entah kemana dalam perjalanan kita mendekati kematian.

Posted in refleksi, Uncategorized | Leave a comment

Bukan Pasar Malam

….

img_20150224_0002Kemudian orang Tionghoa itu berkata dengan mata ditujukan pada genteng yang tak disotohi:

“Ya, mengapa kita ini harus mati seorang diri? Lahir seorang diri pula? Dan mengapa kita ini harus hidup di satu dunia yang banyak manusianya? Dan kalau kita sudah bisa mencintai seorang manusia, dan orang itupun mencintai kita-,” ia duduk berlutut dan menjenguk melalui jendela ke ruang tengah di mana jenazah itu terbaring sendirian.

Meneruskan,”Seperti mendiang kawan kita itu misalnya- mengapa kemudian kita harus bercerai-berai dalam maut. Seorang. Seorang. Seorang. Dan seorang lagi lahir. Seorang lagi. Seorang lagi. Mengapa orang ini tak ramai-ramai lahir dan ramai-ramai mati? Aku ingin dunia ini seperti Pasarmalam.”

….

O-manusia yang terkubur itulah yang telah menurunkan kami. Dulu ia bercita-cita tinggi juga. Dulu ia mengalami percintaan juga-cinta yang gagal dan tak gagal. Dulu ia sering terdengar menyanyi-menyanyikan lagu daerah, lagu-lagu kebangsaan, dan lagu-lagu sekolahan Belanda. Tapi suaranya itu kini telah mati.

Dan seperti kami juga, dulu ia pun pernah mengalami ketakutan, kesengsaraan, kesenangan, dan segala perasaan lain yang ada dalam tubuh manusia. Tapi semua itu kini sudah mati baginya.

Kemudian ia pergi. Kuantarkan ia sampai di pagar. Dan dengan tiada terduga-duga malam cepat-cepat datang. Dan di dunia ini,manusia bukan  berduyun-duyung lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang. Seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah kemana….

Posted in cerita pendek, Uncategorized | Leave a comment

Bukan Pasar Malam – Arti Demokrasi

Berikut cuplikan dari Roman “Bukan Pasar Malam” karya Pramoedya Ananta Toer.

Arti Demokrasi

Antara gelap dan lembayung sinar sekarat di barat yang merah, sepedaku meluncuri jalan kecil depan istana. Istana itu-mandi dalam cahaya lampu listrik. Entah beberapa puluh ratus watt. Aku tak tahu. Hanya perhitungan dalam persangkaanku mengatakan: listrik di istana itu paling sedikit lima kilowatt. Dan sekiranya ada dirasa kekurangan listrik,orang tinggal mengangkat tilpun dan istana mendapat tambahan.

Presiden memang orang praktis – tidak seperti mereka yang memperjuangkan hidupnya di pinggir jalan berhari-harian. Kalau engkau bukan presiden, dan juga bukan menteri, dan engkau ingin mendapat tambahan listrik tigapuluh atau limapuluh watt, engkau harus berani menyogok dua atau tiga ratus rupiah. Ini sungguh tidak praktis. Dan kalau isi istana itu mau berangkat ke A atau ke B, semua sudah sedia-pesawat udaranya, mobilnya, rokoknya, dan uangnya. Dan untuk ke Blora ini, aku harus pergi mengedari Jakarta dulu dan mendapatkan hutang. Sungguh tidak praktis kehidupan seperti itu.

Dan kalau engkau jadi presiden, dan ibumu sakit atau ambillah Bapakmu atau ambillah salah seorang dari keluargamu yang terdekat – besok atau lusa engkau sudah bisa datang menengok. Dan sekiranya engkau pegawai kecil yang bergaji cukup hanya untuk bernapas saja, minta perlop untuk pergi pun susah. Karena, sep-sep kecil itu merasa benar-kalau dia bisa memberi larangan sesuatu pada pegawainya.

Ini semua merupakan kekesalan hatiku semata. Demokrasi sungguh merupakan suatu sistem yang indah. Engkau boleh jadi presiden. Engkau boleh memilih pekerjaan yang engkau sukai. Engkau mempunyai hak sama dengan orang-orang lainnya. Dan demokrasi itu membuat aku tak perlu menyembah dan menundukkan kepala pada presiden atau menteri atau paduka-paduka lainnya. Sungguh – ini pun suatu kemenangan demokrasi. Dan engkau boleh berbuat sekehendak hatimu bila saja masih berada dalam lingkungan batas hukum. Tapi kalau engkau tak punya uang, engkau akan lumpuh tidak bergerak. Di negara demokrasi engkau boleh membeli barang yang engkau sukai. Tapi kalau engkau tak punya uang, engkau hanya boleh menonton barang yang engkau ingini itu. Ini juga semacam kemenangan demokrasi.

Semua mengisi dadaku di kala aku sedang mengayuh pedal dengan uang utang di saku. Dan, ya, hutang pun suatu kebaikan atau budi juga dalam masa orang sedang kesempitan.

Hutang! Presiden! Menteri! Para-paduka-tuan! Dan penyakit! Mobil! Keringat dan debu tahi kuda! – Hatiku berteriak.

 

Posted in cerita pendek, refleksi | Leave a comment